Dum SumusVeritas

Memohon Koneksi Langit dari Starlink di Sumatera

Ketika bencana alam melumpuhkan menara BTS dan memutus kabel fiber optik, mengubah Sumatera menjadi zona hitam komunikasi, satu-satunya yang tersisa di langit adalah janji konektivitas Starlink.

JERNIH –  Kehadiran layanan internet satelit Starlink telah membawa perubahan signifikan dalam dunia telekomunikasi, terutama dalam menyediakan akses internet di wilayah yang sebelumnya sulit dijangkau. Keunggulannya menjadi sangat menonjol saat dibandingkan dengan layanan telekomunikasi konvensional (terrestrial) maupun satelit geostasioner lain (seperti Satria-1), khususnya dalam skenario kritis seperti bencana alam di Sumatera.

Starlink mengambil langkah kemanusiaan yang signifikan dengan mengumumkan layanan internet gratis bagi pelanggan yang terdampak hingga akhir Desember 2025. Keputusan ini diperkuat oleh pernyataan langsung dari pemilik SpaceX dan Starlink, Elon Musk, melalui akun media sosialnya.

“Kebijakan standar SpaceX adalah membuat Starlink gratis setiap kali terjadi bencana alam di suatu tempat di dunia. Tidaklah benar meraih keuntungan dari sebuah musibah,” tulis Elon Musk.

Kebijakan ini memastikan bahwa akses komunikasi vital dapat segera dipulihkan di area-area yang jaringan telekomunikasi daratnya terputus akibat banjir dan longsor. Starlink menyatakan bahwa mereka bekerja sama dengan Pemerintah Indonesia untuk mempercepat distribusi terminal Starlink di wilayah terdampak paling parah di Sumatera.

Dalam menghadapi bencana seperti banjir, tanah longsor, atau gempa, infrastruktur telekomunikasi darat (menara BTS, kabel serat optik) sangat rentan rusak. Di sinilah Starlink menunjukkan keunggulannya. Starlink menggunakan ribuan satelit di Orbit Bumi Rendah (LEO), sekitar 550 km dari permukaan Bumi.

 Jarak yang relatif dekat ini menghasilkan latensi yang jauh lebih rendah, yaitu sekitar 20–40 milidetik, memberikan pengalaman internet yang sebanding dengan broadband perkotaan. Ini berbanding terbalik dengan satelit Geostasioner (GEO) seperti Satria-1 yang mengorbit jauh lebih tinggi (36.000 km) dan menyebabkan latensi tinggi (sekitar 600 ms atau lebih), membuatnya kurang ideal untuk aplikasi real-time. Selain itu, kecepatan Starlink saat ini dapat mencapai 50 hingga 200 Mbps atau lebih, jauh melampaui kecepatan rata-rata internet di daerah terpencil yang mengandalkan jaringan seluler 3G/4G dengan jangkauan terbatas.

Ketahanan Infrastruktur

Keunggulan penting Starlink dalam kondisi bencana adalah ketahanan infrastruktur dan portabilitas cepatnya. Starlink tidak bergantung pada menara seluler atau kabel di darat; selama antena (Dishy) memiliki pandangan langit yang jelas, koneksi dapat terjalin. Ini menjadikannya sangat andal ketika infrastruktur darat rusak total.

erangkatnya dirancang untuk pemasangan mandiri (self-install) yang cepat, memungkinkan unit dibawa dan diaktifkan dalam hitungan menit di lokasi bencana. Sebagai contoh, Pemerintah Indonesia telah mengirimkan unit Starlink dan generator untuk mendukung komunikasi darurat di wilayah Sumatera yang terdampak bencana. Proses penyebaran ini jauh lebih cepat daripada memperbaiki menara BTS yang roboh.

Berkat konstelasi satelit yang sangat besar, Starlink juga mampu menjangkau area paling terpencil, pegunungan, dan pulau-pulau terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) yang tidak ekonomis untuk dipasang kabel serat optik.

Kebutuhan di Lokasi Bencana

Penggunaan Starlink dalam kondisi darurat cukup sederhana. Perangkat terdiri dari Antena Parabola (Dishy), Router Wi-Fi, dan Kabel Daya. Pengguna cukup mengunduh Aplikasi Starlink, meletakkan antena di lokasi dengan pandangan langit yang benar-benar terbuka (tidak terhalang pohon atau bangunan), menghubungkan antena dan router ke sumber daya, dan antena akan secara otomatis mengorientasikan diri untuk terhubung dengan satelit LEO. Setelah terhubung, pengguna dapat mencari jaringan Wi-Fi Starlink di perangkat mereka.

Dalam kondisi bencana di mana listrik padam total, Starlink memerlukan sumber daya eksternal. Secara rata-rata, model Starlink Standar memerlukan konsumsi daya aktif sekitar 50–75 Watt. Solusi daya portabel yang dapat digunakan adalah generator portabel atau Power Station/Battery Pack bertenaga besar dengan inverter AC.

Sementara itu, model Starlink Mini jauh lebih efisien dengan konsumsi daya aktif sekitar 20–40 Watt. Model Mini dapat dioperasikan menggunakan Power Bank berdaya tinggi (100W USB-C PD) atau adaptor mobil. Penting dicatat bahwa dalam situasi darurat, unit Starlink seringkali dikirimkan bersama dengan generator portabel untuk memastikan komunikasi darurat tetap berjalan.

Selain itu, router Wi-Fi Starlink (Gen 3) secara teknis mampu mendukung koneksi hingga 235 perangkat dan memiliki jangkauan hingga sekitar 297 m2 (3.200 ft2). Dalam konteks posko pengungsian atau pusat komando darurat, satu unit Starlink mampu melayani kebutuhan komunikasi penting (pesan, koordinasi, video call singkat) untuk puluhan gadget secara efektif berkat kecepatan tingginya.

Opsi dan Investasi

Starlink memerlukan investasi awal untuk perangkat keras (Antena, Router, Kabel). Meskipun demikian, biaya langganan bulanannya seringkali lebih kompetitif dengan menawarkan koneksi unlimited berkecepatan tinggi, memberikan Total Cost of Ownership (TCO) yang lebih baik bagi tim tanggap cepat dibandingkan biaya perangkat keras dan layanan satelit GEO yang cenderung mahal dan terbatas kuotanya.

Ketahanan cuaca dan lingkungan (Khusus Sumatera) di wilayah tropis yang sering terjadi hujan lebat, Starlink dapat mengalami pelemahan sinyal sementara (rain fade). Namun, berkat kepadatan konstelasi LEO, antena dapat dengan cepat beralih ke satelit lain yang memiliki jalur pandang lebih baik, meminimalkan gangguan.

Keandalan teknis ini didukung oleh teknologi Terminal Elektronik Phased Array pada antenanya, yang memungkinkannya melacak satelit yang bergerak cepat tanpa bagian mekanis yang bergerak, menjadikannya lebih tahan lama dan responsif saat penyebaran di lapangan.(*)

BACA JUGA: Bencana Sumatera, Senyar Memicu Amarah Hutan dan Lahan  

Back to top button