Patuhi Larangan Australia, Meta ‘Sikat’ 550 Ribu Akun Instagram dan Facebook dalam Sebulan

Angka fantastis ini menunjukkan betapa masifnya keberadaan pengguna di bawah umur yang selama ini eksis di dunia maya sebelum otoritas Australia mengambil tindakan ekstrem.
JERNIH — Gelombang “bersih-bersih” media sosial sedang melanda Negeri Kanguru. Hanya dalam tempo 30 hari sejak berlakunya undang-undang larangan media sosial bagi anak di bawah umur, raksasa teknologi Meta resmi menutup hampir 550.000 akun pengguna di bawah usia 16 tahun di Australia.
Langkah drastis ini menjadi bukti bahwa perusahaan besutan Mark Zuckerberg tersebut akhirnya mulai “tunduk” pada aturan keras pemerintah Australia yang mulai berlaku sejak 10 Desember 2025 lalu.
Meta bertindak tanpa pandang bulu terhadap platform-platform unggulannya. Berdasarkan data terbaru, penghapusan ini mencakup 330.000 akun Instagram, 173.000 akun Facebook dan 40.000 akun Threads
Angka fantastis ini menunjukkan betapa masifnya keberadaan pengguna di bawah umur yang selama ini eksis di dunia maya sebelum otoritas Australia mengambil tindakan ekstrem.
Meskipun Meta menjalankan perintah tersebut, mereka tetap melontarkan kritik pedas. Dalam pernyataan resminya, Meta menyebut proses penentuan usia tanpa standar industri yang jelas adalah sebuah tantangan berlapis yang penuh risiko.
“Pemenuhan aturan ini akan menjadi proses yang akan terus kami perbaiki, meskipun kami tetap memiliki kekhawatiran mengenai privasi dalam penentuan usia secara daring,” tulis pihak Meta sebagaimana dikutip dari Engadget, Rabu (14/1/2026).
Namun, Meta tidak punya banyak pilihan. Australia telah menetapkan denda yang tidak main-main: 49,5 juta dolar Australia (setara ratusan miliar rupiah) bagi platform media sosial—termasuk TikTok, X, dan Reddit—yang terbukti membiarkan anak di bawah 16 tahun tetap memiliki akun.
Perlawanan Reddit dan Risiko “Internet Gelap”
Kebijakan Australia ini memicu perlawanan sengit di Silicon Valley. Reddit menjadi platform yang paling vokal dengan mengajukan gugatan hukum, mengklaim bahwa mereka bukanlah “media sosial” dan aturan ini melanggar kebebasan berekspresi.
Meta sendiri sebelumnya telah memperingatkan bahwa pembatasan total ini ibarat pedang bermata dua. Mereka berargumen bahwa menutup akses remaja ke platform resmi justru berisiko mendorong mereka masuk ke sudut internet yang lebih gelap dan tak teregulasi, di mana bahaya sesungguhnya justru mengintai tanpa kontrol.
Untuk memastikan tidak ada “penyusup cilik” yang lolos, platform kini menggunakan teknologi mutakhir. Mulai dari kecerdasan buatan (AI) yang menganalisis pola aktivitas hingga penggunaan video swafoto (selfie) untuk memverifikasi umur secara biologis.
Fenomena di Australia ini kini menjadi sorotan dunia. Banyak negara demokrasi lainnya sedang mengamati apakah kebijakan ekstrem ini akan efektif melindungi kesehatan mental remaja atau justru menciptakan isolasi sosial di era digital.






