Apa yang Akan Dilakukan Angkatan Laut Amerika Serikat Saat Blokade Selat Hormuz?

Kapal-kapal perusak Amerika Serikat mulai merangsek masuk ke jantung Selat Hormuz. Setelah diplomasi di Pakistan menemui jalan buntu, Washington akhirnya menarik pelatuk ekonomi dengan memutus urat nadi minyak dunia.
WWW.JERNIH.CO – Amerika Serikat secara resmi mengumumkan rencana blokade angkatan laut di Selat Hormuz. Langkah drastis ini diambil setelah negosiasi gencatan senjata maraton selama 21 jam di Islamabad, Pakistan, berakhir buntu tanpa kesepakatan antara Washington dan Teheran.
Donald Trump menyatakan bahwa blokade ini merupakan respons langsung terhadap keengganan Iran untuk menghentikan program pengayaan nuklirnya. Selain itu, Amerika Serikat menuduh Iran telah melakukan “pemerasan internasional” dengan memungut biaya tol ilegal hingga 2 juta dolar per kapal tangker yang melewati selat tersebut selama masa konflik.
Kegagalan pembicaraan di Pakistan memicu Washington untuk menggunakan instrumen militer terkuatnya guna memutus jalur ekonomi Iran dan mengamankan kembali supremasi navigasi internasional.

Komando Pusat AS (CENTCOM) menjadwalkan implementasi blokade ini dimulai pada 13 April 2026. Berdasarkan pernyataan resmi, operasional blokade ini mencakup beberapa poin kritis seperti;
Interdiksi Kapal: Kapal-kapal perang AS diperintahkan untuk mencegat setiap kapal di perairan internasional yang terbukti telah membayar “tol ilegal” kepada Iran.
Penutupan Pelabuhan Iran: Blokade ini secara khusus menargetkan lalu lintas maritim yang masuk dan keluar dari pelabuhan-pelabuhan utama Iran di Teluk Persia dan Teluk Oman.
Operasi Pembersihan Ranjau: Angkatan Laut AS mengerahkan kapal perusak (destroyer) untuk memulai operasi de-mining di area pusat selat yang sebelumnya dinyatakan sebagai zona berbahaya oleh Iran karena ancaman ranjau laut.
Keamanan Navigasi Non-Iran: AS mengklaim tetap akan menjamin kebebasan navigasi bagi kapal-kapal yang bergerak di antara pelabuhan non-Iran, meskipun praktiknya akan sulit dilakukan di tengah pengawasan ketat.
Teheran merespons pengumuman ini dengan nada yang sangat agresif. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menegaskan bahwa Selat Hormuz berada di bawah kendali penuh mereka. Mereka memperingatkan bahwa setiap kapal militer asing yang mendekat untuk menegakkan blokade akan dianggap sebagai pelanggaran gencatan senjata dan “tindakan perang.”
Juru bicara parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf, memberikan pernyataan singkat namun tegas: “Jika Anda melawan, kami akan melawan.” Iran juga mengancam akan menghancurkan infrastruktur energi dan fasilitas desalinasi air di seluruh wilayah regional jika kedaulatan mereka di selat tersebut terusik.

Implementasi blokade yang dimulai pada 13 April 2026 ini melibatkan kekuatan tempur utama dari Armada ke-5 AS (US 5th Fleet). Berdasarkan laporan terbaru dari CENTCOM, fokus utama saat ini bukan sekadar menghadang kapal, melainkan “membersihkan jalur” dan melakukan penegakan hukum maritim terhadap kapal-kapal yang membayar upeti ke Iran.
Angkatan Laut AS mengirim kapal perusak (Destroyer) Kelas Arleigh Burke; USS Frank E. Petersen Jr. (DDG 121) dan USS Michael Murphy (DDG 112) telah dikonfirmasi melintasi selat untuk memulai operasi pembersihan ranjau laut yang dipasang oleh militer Iran.
USS Delbert D. Black (DDG 119) juga dilaporkan berada di posisi siaga setelah menyelesaikan latihan bersama angkatan laut Israel.
AS juga akan menyiapkan drone bawah air (UUV) yang digunakan untuk mendeteksi ranjau-ranjau laut yang hanyut akibat arus laut. Pasukan Boarding (VBSS) yang merupakan tim khusus disiapkan untuk melakukan penggeledahan dan penyitaan terhadap kapal yang masuk ke pelabuhan Iran. Juga Kelompok Tempur Pengangkut (Carrier Strike Group), yang meskipun tetap berada di perairan yang lebih dalam, dukungan udara dari jet tempur siap memberikan perlindungan jika terjadi serangan balasan dari pesisir Iran.(*)
BACA JUGA: Misteri Selat Hormuz, Kapal Tanker Pertamina Belum Bisa Melintas Meski Gencatan Senjata Dimulai






