Moron

Mengapa Turis Malaysia Memboikot Restoran Pagi Sore?

Semua bermula dari miskomunikasi internal kasir yang berujung fatal: rekaman CCTV rombongan disebar dengan narasi “belum bayar”, padahal sang turis punya bukti struk fisik yang sah.

WWW.JERNIH.CO – Restoran Pagi Sore, salah satu jaringan rumah makan Padang paling populer dan premium di Indonesia, mendadak ramai diperbincangkan di media sosial. Gelombang seruan boikot menggema dari netizen dan wisatawan asal Malaysia menyusul insiden salah paham terkait pembayaran yang sempat viral.

Ketegangan ini bermula dari unggahan seorang turis asal Malaysia bernama Norain Yunus di akun Threads pribadinya pada pertengahan Mei 2026. Norain menceritakan pengalaman tidak menyenangkan saat ia bersama rombongannya yang berjumlah enam orang makan di Restoran Pagi Sore cabang Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta Utara.

Setelah mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, rombongan tersebut singgah ke Pagi Sore PIK karena restoran ini memang dikenal sebagai “kuliner wajib” (template destinasi) bagi turis Malaysia saat berkunjung ke Jakarta. Di sana, mereka menyantap sekitar sembilan lauk dengan total tagihan sebesar Rp907.500 dan langsung melunasinya menggunakan kartu debit sebelum melanjutkan perjalanan ke Bandung.

Namun, tiga hari kemudian, Norain mendapat kabar mengejutkan dari agen travelnya. Pihak manajemen Pagi Sore cabang PIK diduga telah menyebarkan rekaman CCTV rombongan tersebut di media sosial dengan tuduhan “kabur tanpa membayar”. Beruntung, setelah menggeledah tas, Norain berhasil menemukan struk fisik pembayaran dan bukti mutasi rekening digitalnya.

Meski pihak manajemen Pagi Sore PIK langsung merilis video permintaan maaf resmi dan menyatakan bahwa insiden tersebut murni karena miskomunikasi antarstaf kasir, nasi telah menjadi bubur. Netizen Malaysia yang terlanjur geram menganggap tuduhan sepihak tanpa cross-check tersebut merendahkan martabat mereka. Seruan boikot pun meluas di platform media sosial seperti TikTok, X, dan Threads, di mana banyak dari mereka mulai mengalihkan rekomendasi kuliner ke rumah makan Padang kompetitor lainnya.

Pagi Sore merupakan nama besar yang sangat dihormati di industri kuliner tanah air. Restoran ini pertama kali didirikan pada tahun 1973 oleh dua sahabat karib asal Bukittinggi, Sumatra Barat, yaitu H. Lismar dan H. Sabirin. Menariknya, restoran Padang ini justru tidak lahir di Sumatra Barat, melainkan dimulai dari sebuah kios sewaan kecil di pinggiran Kota Palembang, Sumatra Selatan.

Pada tahun 2003, setelah 30 tahun membangun kejayaan bersama, kedua pendiri memutuskan untuk pecah kongsi secara manajemen karena perbedaan visi bisnis. Namun, mereka sepakat untuk tetap menggunakan nama besar “Pagi Sore” dengan pembagian identitas visual.

Pagi Sore logo merah dikelola oleh keluarga H. Sabirin (dengan slogan “Jagonya Rendang”). Cabang di Jabodetabek (termasuk cabang PIK yang viral) umumnya dikelola oleh generasi penerus dari garis keturunan ini.

Lalu Pagi Sore logo hijau dikelola oleh keluarga H. Lismar dengan nama RM Padang Pagi Sore Khas Minang yang kuat bergerak di wilayah Sumatra Selatan, Bangka Belitung, hingga Bandung.

Secara legalitas hukum bisnis, Restoran Pagi Sore bukanlah bisnis franchise (waralaba) yang bebas dibeli oleh publik atau investor luar. Restoran ini dikelola secara ketat sebagai bisnis keluarga (family-owned business) melalui sistem kemitraan internal atau pembagian kepemilikan di antara anak-cucu kedua pendiri.

Hal ini sengaja dilakukan demi menjaga standarisasi rasa, kualitas bahan baku premium, dan eksklusivitas merek agar tidak mengalami penurunan mutu jika di-franchise-kan secara massal.

Pagi Sore berhasil mengubah citra “warung Padang” yang merakyat menjadi sebuah pengalaman kuliner yang mewah dan berkelas (fine dining experience).     Rendangnya legendaris menggunakan daging sapi pilihan yang sangat empuk dengan bumbu kelapa yang gurih, kental, dan sedikit sentuhan rasa manis khas yang ramah di lidah pemula.

Bahan bakunya premium. Mulai dari penggunaan minyak kelapa berkualitas tinggi, sayur mayur yang selalu segar, hingga penyajian ayam pop yang lembut.

Berbeda dengan konsep konvensional, outlet Pagi Sore modern mengusung arsitektur megah, ruangan ber-AC yang estetik, pelayanan yang gesit, serta area parkir yang luas.

Menargetkan pasar kelas menengah ke atas dan para ekspatriat/turis, harga menu di Pagi Sore tergolong premium dibandingkan rumah makan Padang pada umumnya. Harga per porsi lauk utama (seperti Rendang, Ayam Pop, atau Gulai Otak) berkisar antara Rp30.000 hingga Rp45.000.

Secara rata-rata, estimasi biaya makan per orang di restoran ini berkisar antara Rp100.000 hingga Rp200.000, tergantung pada jumlah lauk yang diambil dari meja saji.(*)

BACA JUGA: Ekspor Durian Malaysia, Mengubah Emas, “Melawan” Kelapa Sawit

Back to top button