
- Belanja makanan produk makanan saat bepergian berarti kita melestarikan UMKM, menstabilkan ekonomi, dan berperan dalam pemerataan.
- Jika kebetulan yang kita beli adalah makanan tradisional, kita ikut melestarikan makanan lokal. Bahkan membuatya berkembang.
JERNIH — Pernah bepergian ke satu tempat dan pulang membawa buah tangan alias oleh-oleh berupa produk makanan? Jika ya, kebiasaan itu perlu dipertahankan. Sebab, membeli produk makanan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) adalah keharusan setiap dari kita untuk menciptakan pemerataan.
Dalam beberapa tahun terakhir, UMKM menjadi akronim paling sering disebut dalam diskusi ekonomi nasional, pembangunan, dan pentingnya pemerataan. UMKM dianggap mampu memeberikan banyak manfaat, terutama untuk menstabilkan perekonomian Indonesia.
Ada upaya membuat UMKM naik kelas, dengan memperkenalkan teknologi kepada setiap pelakunya. Tidak sedikit upaya pemerintah, dan kalangan swasta, mengangkat derajat UMKM dengan berbagai cara, seperti memberikan pelatihan manajemen, akses permodalan, sampai kampanye ke masyarakat untuk membantu pelaku UMKM.
Makanan Khas
Kita mungkin nggak perlu membaca banyak teori pemerataan untuk sampai pada kesimpulan betapa penting membantu UMKM. Setiap rupiah yang kita keluarkan untuk membeli produk UMKM sangat berarti. Setidaknya, ada satu individu — atau mungkin lebih — yang makan lebih baik dari hari kemarin.
Jika setiap dari kita membelanjakan uang dalam jumlah besar untuk membei produk UMKM, secara tidak langsung kita membuka lapangan kerja. Omzet UMKM meningkat, yang otomatis membutuhkan tenaga kerja untuk peningkatan produksi. Di sisi lain, inovasi terbangun. Produksi-produk inovatif baru bermunculan, dan pelaku UMKM baru bermunculan.
Khusus produk makanan UMKM, kepedulian kita untuk membeli produk makanan dari setiap daerah yang kita kunjungi tidak hanya berdampak ekonomi tapi juga melestarikan budaya kuliner masyarakat. Di Indonesia, setiap daerah punya jajanan khas. Setiap jajanan hanya bisa lestari jika terus diproduksi, dijajakan, dan dibeli masyarakat.
Di Semarang, misalnya, wingko babat masih bertahan sampai saat ini karena terus diproduksi dan dijajakan di jalan-jalan di tempat wisata. Banyumas punya nopia, makanan kering yang pernah populer saat dijajakan ke penumpang kereta. Saat itu pedagang masih boleh masuk ke kereta.
Setiap jajanan khas dari satu daerah pasti punya sejarah. Nopia juga punya sejarah. Jajanan ini diperkenalkan masyarakat Tionghoa Banyumas tahun 1880, dan diperkirakan mulai populer ke banyak kota di Pulau Jawa setelah pembangunan Stasiun Purwokerto tahun 1896.
Di Yogjakarta, bakpia sedemikian populer. Mereka yang berkunjung ke Yogyakarta akan selalu pulang membawa bakpia. Yang terjadi saat ini adalah bakpia bukan lagi industri rumahan skala kecil, tapi sedemikian besar. Industri bakpia menyedot ribuan tenaga kerja, menghadirkan banyak inovasi, dan menggerakan perekonomian masyarakat.
Jauh sebelum bakpia populer, penumpang kereta pasti tak asing dengan Dodol Picnic. Jajanan asal garut yang diproduksi skala industri oleh PT. Herlinah Cipta Pratama telah ada sejak 1949. Kemasan mencolok membuat Dodol Picnic mudah dilihat di setiap etalase toko di stasiun kereta api.
Adalah kakak-beradik Haji Aam Haji Iton Damiri dan Haji Aam Mawardi yang memproduksi dan mempopulerkan Dodok Picnic. Semula, keduanya menggunakan merk Dodol Halimah, dan kesulitan masuk ke toko-toko jajanan untuk wisatawan di Bandung.
Setelah ganti merk menjadi Dodol Picnic, produk kebanggaan masyarakat Garut ini mulai diterima pemilik toko. Tahun 1957, Dodol Picnic populer dengan tagline; Dodol Aja Picnic, Masa Kamu Enggak. Terakhir, tagline ini digunakan Kementerian Pariwisata di era Menteri Arief Yahya.
Di luar jajanan dengan merk terkenal, kita masih bisa menghimpun banyak cerita dari berbagai daerah jika kita melakukan perjalanan. Dari Semarang, misalnya, masih ada bandeng presto berbagai merk dan lumpia. Khusus bandeng presto, selain masih menjadi buah tangan pengunjung kota Semarang, makanan satu ini juga telah dapat ditemui di toko-toko di Jakarta dan berbagai kota di Indonesia.
Semula, Brebes identik dengan bawang. Belakangan, banyak orang membawa telur asin jika singgah di kota ini. Telur asin Brebes seolah beda dengan telur asin yang biasa ditemui di pasar-pasar di Jakarta. Dari sejumlah kota lainnya, kita juga dapat menjumlah jajanan khas yang butuh uluran tangan kita untuk berkembang.
Lestari dan Terjaga
Dari sekian banyak jajanan di tempat wisata, sebagian adalah makanan tradisional, lainnya kreasi baru. Bandung adalah kota dengan banyak jajanan kreasi baru, meski yang tradisional tetap terjaga. Kota-kota lain berupaya menghadirkan jajanan lokal yang khas, dan mempromosikannya.
Jajanan tradisional biasanya diusahakan satu keluarga, yang diwariskan resep turun-temurun. Mereka membangun home industry, menjajakannya tanpa promosi gencar, dan sangat berharap pada kebaikan hati wisatawan lokal.
Terkadang kita banyak pertimbangan ketika mengeluarkan uang untuk membeli produk makanan tradisional. Itu wajar. Apalagi, jika isi dompet terbatas. Namun, sesedikit apa pun kita mengeluarkan uang untuk membeli jajanan tradisional itu, kita sudah sangat membantu. Kita membantu kelangsungan hidup home industry, atau bahkan membuatya berkembang, dan melestarikannya.
Sika kita untuk tidak pelit saat melakukan perjalanan, terutama untuk membeli makanan yang dijajakan di pinggir jalan, adalah masa depan UMKM. Betapa yang menaikan derajat UMKM adalah kita, bukan siapa pun. Kita tidak kampanye untuk menaikan derajat UMKM tapi bertindak.






