Oikos

Ragam Perayaan Idul Fitri di Berbagai Negara Muslim

Idul Fitri memang memiliki satu makna spiritual, namun dunia merayakannya dengan seribu warna yang berbeda. Lupakan sejenak ketupat dan opor ayam, karena di belahan bumi lain, ada acara yang cukup unik.

WWW.JERNIH.CO – Idul Fitri, atau yang sering disebut sebagai Lebaran di Indonesia, adalah momen kemenangan yang dinanti oleh jutaan umat Muslim di seluruh dunia setelah satu bulan penuh menjalankan ibadah puasa Ramadan.

Meski esensi hari raya ini sama—yakni rasa syukur dan kembali ke fitrah—setiap negara memiliki cara unik dan seru untuk merayakannya. Dari festival manisan di Eurasia hingga tradisi “perang” telur di Asia Tengah, keberagaman budaya membuat Idul Fitri menjadi festival global yang kaya akan warna.

Turki: “Seker Bayram” atau Festival Gula

Di Turki, Idul Fitri dikenal dengan nama Şeker Bayramı. Sesuai namanya, perayaan ini sangat identik dengan makanan manis. Tradisi yang paling seru di sini melibatkan anak-anak yang berkeliling dari rumah ke rumah di lingkungan mereka.

Mirip dengan tradisi Halloween di Barat, anak-anak akan mencium tangan orang yang lebih tua sebagai tanda hormat, dan sebagai balasannya, mereka akan mendapatkan permen, cokelat, atau baklava yang lezat. Tak jarang, mereka juga mendapatkan sejumlah uang kecil sebagai hadiah lebaran.

Afghanistan: Tradisi “Tokhm-Jangi” yang Seru

Jika biasanya Idul Fitri diisi dengan duduk tenang dan berbincang, di Afghanistan suasananya bisa menjadi sangat kompetitif dan meriah. Masyarakat di sana memiliki tradisi unik bernama Tokhm-Jangi atau adu telur rebus.

Setelah melaksanakan salat Ied, orang-orang dari berbagai usia akan berkumpul di taman atau lapangan terbuka dengan membawa telur rebus yang sudah diwarnai dengan cantik. Mereka akan saling memukulkan telur mereka; siapa yang telurnya tetap utuh sementara telur lawan pecah, dialah pemenangnya. Tradisi ini menjadi ajang kegembiraan yang penuh tawa bagi warga setempat.

India dan Pakistan: Kemilau “Chand Raat”

Di kawasan Asia Selatan seperti India dan Pakistan, kemeriahan sudah dimulai sejak malam sebelum Lebaran, yang dikenal sebagai Chand Raat (Malam Bulan). Pada malam ini, pasar-pasar akan tetap buka hingga dini hari dan dipenuhi oleh ribuan orang.

Tradisi yang paling menonjol adalah para perempuan yang berkumpul untuk menghias tangan mereka dengan henna atau mehndi dengan motif yang sangat rumit dan indah. Selain itu, mereka juga berburu gelang warna-warni (bangles) untuk melengkapi pakaian baru mereka. Suasana jalanan yang terang benderang dengan lampu hias membuat malam penantian Idul Fitri terasa sangat magis.

Mesir: Kemeriahan “Fanoos” dan Ikan Asin

Mesir merayakan Idul Fitri dengan gaya yang sangat khas Timur Tengah namun tetap unik. Selain berkumpul dengan keluarga, warga Mesir gemar menghias rumah dan jalanan mereka dengan Fanoos, yaitu lentera tradisional berwarna-warni yang juga populer selama Ramadan.

Dari sisi kuliner, ada makanan khas yang wajib ada di meja makan, yaitu Fata (campuran nasi, daging, dan roti) serta Ranja, olahan ikan asin yang difermentasi. Bagi warga Mesir, menyantap hidangan ini bersama keluarga besar setelah satu bulan berpuasa adalah bentuk kebahagiaan yang tak tergantikan.

Maroko: Keanggunan Pakaian Tradisional

Di Maroko, Idul Fitri adalah panggung bagi keanggunan busana. Pria biasanya mengenakan Djellaba (jubah panjang dengan penutup kepala) dan sandal Babouche kuning yang khas, sementara wanita mengenakan Kaftan yang disulam dengan tangan secara rumit.

Pagi hari dimulai dengan sarapan Laasida (bubur couscous manis) atau Tagine. Tradisi yang paling seru adalah kemeriahan di alun-alun kota di mana musisi lokal dan peniup terompet akan berkeliling menghibur warga yang sedang berkunjung ke rumah kerabat.

Oman: Tradisi “Habta” dan Pasar Hewan

Oman memiliki tradisi unik berupa pasar tradisional musiman yang disebut Habta. Pasar ini dibuka beberapa hari sebelum Idul Fitri dan menjadi pusat keramaian di mana orang-orang berburu hewan ternak untuk disembelih, pakaian tradisional Oman, hingga senjata tradisional Khanjar (belati) yang sering dikenakan pria saat hari raya.

 Saat Idul Fitri tiba, warga Oman sering memasak Shuwa, yaitu daging yang dibungkus daun pisang atau pohon palem kemudian dipanggang di dalam lubang bawah tanah selama 24 hingga 48 jam. Hasilnya adalah daging yang sangat lembut dan kaya rasa.

Yordania: Kehangatan Kopi Arab dan Maamoul

Di Yordania, perayaan Idul Fitri sangat identik dengan Kopi Arab (Qahwa) yang pahit dan beraroma kapulaga. Kopi ini disajikan dalam cangkir kecil sebagai pendamping Maamoul, yaitu kue kering yang diisi dengan pasta kurma, kenari, atau pistachio.

Tradisi kunjung-mengunjungi di Yordania sangatlah kuat; biasanya hari pertama diperuntukkan bagi keluarga inti, sedangkan hari kedua dan ketiga digunakan untuk mengunjungi kerabat jauh dan teman-teman di seluruh kota.(*)

BACA JUGA: Lebih dari 60 Negara Tetapkan Idul Fitri 21 April; Inilah Permulaan Ramadhan Delapan Tahun ke Depan

Back to top button