Ancaman di Balik “Gempa Kembar”, Saat Bumi Menghantam Dua Kali

Berbeda dengan gempa susulan biasa yang cenderung melemah, gempa kembar (doublet earthquake) justru menghantam dengan kekuatan yang sama besarnya dalam waktu berdekatan.
WWW.JERNIH.CO – Gempa bumi biasanya diidentifikasi sebagai satu guncangan besar (gempa utama atau mainshock) yang kemudian diikuti oleh serangkaian guncangan kecil (aftershocks atau gempa susulan).
Namun, alam terkadang menyimpan kejutan yang jauh lebih kompleks dan destruktif. Salah satu fenomena seismik yang paling menarik sekaligus mencemaskan adalah gempa kembar (doublet earthquake), seperti yang mengguncang wilayah Venezuela dan beberapa belahan dunia lainnya.
Secara sederhana, gempa kembar adalah fenomena di mana dua gempa bumi besar terjadi di wilayah yang sama dalam kurun waktu yang sangat berdekatan—bisa dalam hitungan jam, hari, atau minggu—dan memiliki magnitudo (kekuatan) yang hampir mirip.
Gempa kembar berbeda dengan pola gempa utama dan gempa susulan biasa. Pada gempa biasa, gempa susulan akan memiliki kekuatan yang jauh lebih kecil dari gempa utama. Sementara pada gempa kembar, gempa kedua memiliki kekuatan yang hampir sama besar, atau bahkan terkadang sedikit lebih besar, dari gempa pertama.

Ketika fenomena ini terjadi di Venezuela—sebuah negara yang memang berada di zona seismik aktif—masyarakat sering kali dikejutkan oleh hantaman gempa besar kedua saat mereka baru saja mencoba bernapas lega setelah gempa pertama mereda.
Berdasarkan klasifikasi seismologi, gempa kembar dikelompokkan berdasarkan karakteristik episentrum dan waktu terjadinya. Pertama, gempa kembar ruang dan waktu (Spatial and Temporal Doublets), yakni dua gempa besar yang terjadi pada segmen patahan yang sama atau berdekatan dalam jendela waktu yang singkat.
Kedua, gempa tektonik berpemicu (Triggered Earthquakes). Ini adalah jenis gempa tektonik berat. Gempa pertama melepaskan energi stres di satu titik, namun pelepasan energi tersebut justru memindahkan tekanan ke titik atau segmen patahan di dekatnya, memicu gempa besar kedua.
Di Venezuela, jenis gempa yang terjadi adalah gempa tektonik kerak dangkal atau gempa zona subduksi, tergantung pada segmen patahan mana yang aktif saat itu.
Secara geologis, bumi kita terdiri dari lempeng-lempeng tektonik yang terus bergerak. Venezuela sendiri berada di lokasi yang sangat kompleks secara tektonik, yaitu di perbatasan antara Lempeng Karibia dan Lempeng Amerika Selatan. Di wilayah ini, terdapat sistem patahan besar seperti Patahan Boconó, San Sebastián, dan El Pilar.
Sistem ini dapat menghasilkan gempa kembar. Mekanisme utamanya terjadi transfer tegangan, ketika gempa pertama terjadi, batuan di sepanjang patahan pecah untuk melepaskan tekanan yang terkumpul selama bertahun-tahun.
Namun, runtuhnya satu segmen patahan ini tidak selalu menstabilkan wilayah tersebut. Sebaliknya, energi yang dilepaskan sering kali “berpindah” dan menumpuk di segmen patahan yang berada persis di sebelahnya. Jika segmen tetangga tersebut sudah berada di titik jenuhnya, ia akan ikut pecah, menghasilkan gempa besar kedua.
Venezuela utara memiliki jaringan patahan yang saling bersilangan. Retaknya satu patahan utama dapat mengganggu keseimbangan mekanis patahan sekunder di dekatnya, memicu robekan baru dalam waktu singkat.
Bayangkan sebuah penggaris plastik yang ditekuk. Jika Anda menekuknya terlalu keras, satu bagian mungkin akan retak terlebih dahulu (gempa pertama), dan fraksi detik atau beberapa jam kemudian, retakan itu menjalar dan mematahkan bagian lainnya secara penuh (gempa kedua).(*)
BACA JUGA: Venezuela Diguncang Gempa Kembar Dahsyat M 7,2 dan M 7,5
