POTPOURRI

Tragedi Latsarmil SPPI 2026, 3 Peserta Gugur, TB Hasanuddin Desak Evaluasi Total

Kematian tiga peserta SPPI 2026 akibat serangan jantung, heat stroke, dan komplikasi medis memicu gelombang sorotan tajam dari parlemen.

WWW.JERNIH.CO – Tiga orang peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) meninggal. Para korban yang dipersiapkan untuk menjadi calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) serta Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) ini mengembuskan napas terakhir saat mengikuti program Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) di beberapa satuan pendidikan TNI yang berbeda.

Insiden beruntun ini memicu gelombang duka mendalam sekaligus sorotan tajam dari publik dan parlemen terkait standar keselamatan serta urgensi porsi latihan fisik militer bagi masyarakat sipil.

Berdasarkan data resmi dari Kementerian Pertahanan (Kemhan), total terdapat tiga orang peserta angkatan 2026 yang dinyatakan wafat dalam kurun waktu yang berdekatan selama masa pelatihan.

Ketiganya mengalami kondisi medis kritis akibat faktor fisik dan riwayat kesehatan di lokasi penugasan yang berbeda.

Anisa Muyassaroh

Almarhumah merupakan peserta yang mengikuti pendidikan di Satuan Pendidikan (Satdik) Dodikjur Rindam VI/Mulawarman, Balikpapan, Kalimantan Timur. Berdasarkan pemeriksaan tim medis, ia dinyatakan meninggal dunia setelah mengalami heat stroke (serangan panas ekstrem) di tengah pelaksanaan latihan lapangan.

Yonanda Muhammad Taufiq

Almarhum meninggal saat menjalani pelatihan fisik intensif di Satdik Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Kodiklatad Baturaja, Sumatera Selatan pada 17 Juni 2026. Pemeriksaan medis menyimpulkan bahwa penyebab kematiannya adalah akibat serangan henti jantung (cardiac arrest) setelah mengalami penurunan kondisi fisik secara drastis.

Novia Rahmadhani Sihotang

Peserta asal Padangsidimpuan, Sumatera Utara ini merupakan korban ketiga yang mengembuskan napas terakhir pada Selasa, 23 Juni 2026 sore. Sempat mengalami penurunan kesehatan di Satdik Pusbahasa Kodiklatau Jakarta pada 22 Juni, Novia dilarikan ke Rumah Sakit Angkatan Udara Dr. Esnawan Antariksa. Hasil pemeriksaan menyebutkan kondisi kesehatannya drop dipicu oleh penyakit tuberkulosis (TB).

Merespons tragedi yang merenggut nyawa tiga sarjana muda ini, Anggota Komisi I DPR RI dari fraksi PDI Perjuangan, Mayjen TNI (Purn.) TB Hasanuddin, angkat bicara dengan tegas. Ia meminta Kementerian Pertahanan melakukan evaluasi menyeluruh dan total terhadap model kurikulum Latsarmil bagi instansi sipil non-militer ini.

Ada dua poin esensial yang digarisbawahi oleh TB Hasanuddin, yakni skrining kesehatan pra-pelatihan harus diperketat. “Sumbernya karena sakit dan heat stroke. Menurut hemat saya, harus dievaluasi, terutama mereka yang mau ikut pelatihan seperti itu harus dicek kesehatannya dengan baik sehingga mereka siap melaksanakan kegiatan-kegiatan fisik dalam suasana yang panas sekalipun.” 

TB Hasanuddin menilai niat melatih para sarjana untuk mengelola koperasi desa adalah hal yang sangat baik. Namun, ia menyayangkan porsi latihan fisik kemiliteran yang dirasa terlalu ekstrem untuk warga sipil.

“Kemiliteran dalam konteks seperti militer, latihan menembak, kemudian baris-berbaris, panas-panasan, ya, dikurangi. Lebih baik diberikan pelatihan tentang manajemen sebuah koperasi,” tutur legislator bidang pertahanan tersebut.

Pihak Kemhan sendiri melalui Kepala Biro Informasi Pertahanan, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, menyampaikan duka cita sedalam-dalamnya dan memastikan bahwa revisi protokol pengawasan kesehatan serta keselamatan kerja sama dengan Panitia Seleksi Nasional tengah dirombak agar insiden mematikan ini tidak terulang kembali di masa depan.(*)

BACA JUGA: Wajah Plin-plan Regulasi, Blunder Denda Rp 100 Juta Manajer Koperasi Merah Putih

Back to top button