POTPOURRI

Banjir Padang, 15 Titik Terendam  di Tengah Musim Kemarau

Hujan deras memicu banjir di 15 titik Kota Padang hingga merendam pemukiman, sekolah, dan rumah sakit setinggi dada dewasa. Apa yang sebenarnya terjadi di atmosfer Sumatera Barat hingga hujan badai pecah di puncak kemarau?

WWW.JERNIH.CO – Kota Padang, Sumatera Barat, dilanda banjir besar setelah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah tersebut pada Senin, 3 Agustus 2026. Banjir yang merendam permukiman warga, fasilitas pendidikan, hingga akses jalan utama ini mengejutkan publik, mengingat fenomena cuaca basah tersebut terjadi di tengah periode yang umumnya memasuki puncak musim kemarau.

Bencana hidrometeorologi ini bermula saat hujan berdurasi panjang mulai turun sejak malam hingga pagi hari. Memasuki siang hari sekitar pukul 10.00 WIB, curah hujan meningkat drastis dan terus berlangsung hingga sore hari. Hujan deras nonstop tersebut menyebabkan sejumlah sungai utama, seperti Batang Kuranji dan DAS Guo, meluap karena tidak sanggup menampung debit air yang melimpah.

 Arus air bah merangsek ke jalanan dan kawasan perumahan dengan membawa material lumpur hingga gelondongan kayu besar. Ketinggian air di beberapa lokasi pun meningkat cepat dari setumit hingga mencapai dada orang dewasa atau sekitar 1,5 meter. Melihat kondisi tersebut, tim gabungan dari BPBD Kota Padang dan Basarnas segera diterjunkan menggunakan perahu karet untuk mengevakuasi puluhan warga, santri, serta siswa sekolah yang terjebak di dalam bangunan.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), terdapat sedikitnya 15 titik banjir yang tersebar di wilayah Kota Padang. Kecamatan Kuranji menjadi salah satu kawasan terparah, khususnya di Perumahan Wahana 2 Rimbo Tarok dengan ketinggian air mencapai 1,5 meter, Kampung Tanjung, dan sekitar DAS Guo.

Dampak serupa juga dirasakan di Kecamatan Koto Tangah yang terdampak parah di wilayah Lubuk Minturun, Pasa Lalang, serta Taluk Sikumbang Kelurahan Sungai Lareh. Sementara itu, genangan air di Kecamatan Bungus Teluk Kabung dan Lubuk Begalung melumpuhkan akses jalan utama seperti di Jalan Arai Pinang, serta menggenangi kawasan Kampung Lapai dan Siteba di Kecamatan Nanggalo. Tak hanya pemukiman dan jalan, sejumlah fasilitas umum turut terendam air, di antaranya kawasan Rumah Sakit Siti Rahmah di Jalan By Pass, Pondok Pesantren Hamka, SMA Negeri 17, SMP Negeri 27 Padang, hingga Laboratorium DLH.

Banyak masyarakat mempertanyakan alasan di balik hujan ekstrem yang melanda Kota Padang pada bulan Agustus ini. Menanggapi hal tersebut, Koordinator Data dan Informasi BMKG Minangkabau, Yudha Nugraha, menjelaskan fenomena dinamika atmosfer yang terjadi. Menurutnya, terdapat pembentukan kumpulan awan hujan berskala luas yang membentang dari wilayah Sumatera Utara hingga Sumatera Barat di sepanjang koridor barat Sumatera.

Selain itu, terjadi fenomena konvergensi atau area pertemuan massa angin di wilayah barat Sumatera yang mempercepat pembentukan awan konvektif secara masif. Kondisi ini didukung oleh pasokan uap air di atmosfer lokal yang masih sangat tinggi, sehingga memicu pembentukan awan hujan berdurasi panjang.

BMKG menegaskan bahwa meskipun wilayah Sumatera secara umum sedang berada pada periode kemarau, potensi hujan berintensitas tinggi tetap ada akibat gangguan dinamika atmosfer lokal maupun regional. Oleh karena itu, BMKG mengimbau masyarakat, terutama yang tinggal di sepanjang bantaran sungai dan kawasan rawan longsor, untuk tetap siaga dan waspada mengingat potensi cuaca basah diprediksi masih dapat berlangsung hingga beberapa hari ke depan.(*)

BACA JUGA: Wali Kota Padang hingga Bupati Madiun Ditegur Menteri Tito, Ini Sebabnya

Back to top button