Dwkorita: Hati-Hati Dampak El Nino

Fenomena diprediksi berlangsung hingga awal tahun depan yang berpotensi menyebabkan kemarau yang sangat panjang dan kering, penurunan curah hujan, yang memicu krisis lingkungan dan ekonomi. Perkiraan cuaca ini bisa menjadi yang terberat, hingga dijuluki El Nino Godzilla.
JERNIH-Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), periode 2017-2025 Dwikorita Karnawati, mengingatkan fenomena alam El Nino dan dampak cuaca ekstrim di wilayah Indonesia.
Fenomena diprediksi berlangsung hingga awal tahun depan yang berpotensi menyebabkan kemarau yang sangat panjang dan kering, penurunan curah hujan, yang memicu krisis lingkungan dan ekonomi. Perkiraan cuaca ini bisa menjadi yang terberat, hingga dijuluki El Nino Godzilla.
El Nino kali ini, jelas Dwikora, cukup moderat hingga mencapai level kuat dengan probabilitas sekitar 60 persen. Sementara diwaktu bersamaan diprediksi terjadi Indian Ocean Dipole (IOD) Positif, fenomena penyimpangan suhu muka air laut di Samudera Pasifik yang memicu musim kemarau yang sangat kering di Indonesia.
“Maka level kekeringannya dikhawatirkan menjadi lebih kuat dari El Nino yang biasanya, dan disebut dengan istilah Godzilla (monster fiksi asal Jepang),” jelas Dwikorita.
Dampak El Nino yang paling dirasakan adalah krisis air yang menyebabkan kekeringan dan berpengaruh pada ketersediaan pangan. Bahkan berpengaruh pada kesehatan.
“Dampak langsung El Nino adalah krisis air dan pangan. Belum lagi urusan kesehatan dan polusi. Pangan langka, harganya jadi mahal, lalu memicu inflasi. Kalau semua tekanan itu terakumulasi, suasana batin masyarakat tentu jadi tidak tenang,” terangnya.
Adapun wilayah yang diperkirakan terdampak El Nino utamanya di wilayah Indonesia bagian selatan dan barat. Misalnya di Sumatera, sebagian Jawa dan Sulawesi, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Bali. Sedangkan di wilayah Indonesia timur dan tengah, relatif sporadis.
Dwikorita berharap pemerintah dan masyarakat mulai melakukan langkah mitigasi untuk mengantisipasi dampak El Nino, seperti pemerintah dan petani harus menyesuaikan pola dan jenis tumbuhan yang ditanam, yakni varian tumbuhan yang saat kemarau lebih tahan banting terhadap kondisi minim air.
Pemerintah diharap mempersiapkan rekayasa cuaca berupa hujan buatan bisa diturunkan di waduk-waduk, terutama di NTT dan NTB yang sangat kering, rekayasa dilakukan sebelum memasuki musim kemarau dan mengisi waduk-waduk.
Kementerian Pertanian juga memberikan pompa air pada petani. Pompa itu menyedot air bawah tanah untuk dinaikkan ke permukaan dan disalurkan ke irigasi. (tvl)






