POTPOURRIVeritas

China Pamer Drone Swarm Otonom: Satu Prajurit Kendalikan 200 Unit Sekaligus

China memperkenalkan teknologi drone swarm generasi terbaru yang mampu “berdiskusi” dan membagi tugas secara mandiri. Dengan kecepatan tinggi, daya tahan lama, dan kemampuan anti-jamming untuk peperangan modern.

WWW.JERNIH.CO –  Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) baru-baru ini memamerkan kemajuan terbaru dalam teknologi drone swarm (kawanan drone) melalui siaran televisi pemerintah. Dalam demonstrasi tersebut, terlihat kecanggihan luar biasa di mana satu orang prajurit mampu mengendalikan hingga 200 unit drone sekaligus.

Sistem ini diluncurkan menggunakan kendaraan darat Swarm I, atau yang dikenal sebagai High Mobility Swarm Weapon System, yang mampu meluncurkan 48 drone bersayap tetap (fixed-wing) secara bersamaan untuk bekerja dalam satu kesatuan.

Keunggulan utama dari teknologi ini terletak pada kemampuan otonomnya. Setiap drone dilengkapi dengan algoritma cerdas yang memungkinkan mereka saling berkomunikasi dan bernegosiasi secara mandiri tanpa intervensi terus-menerus dari operator.

Menurut Xiang Xiaojia, peneliti dari National University of Defence Technology, interkoneksi ini memungkinkan kawanan drone terbang dalam formasi presisi dan membagi tugas secara otomatis, seperti melakukan pengintaian multi-target hingga operasi penyerangan secara kolektif.

Selain kecerdasannya, drone ini dirancang untuk tangguh di medan perang modern yang penuh dengan gangguan elektronik. Berkat algoritma anti-jamming otonom, kawanan ini tetap dapat beroperasi meskipun koneksi dengan operator terputus akibat interferensi elektromagnetik.

PLA sendiri terus menyempurnakan teknologi ini; jika versi pertama diperkenalkan pada Zhuhai Air Show 2021, versi Swarm II yang dirilis tahun 2024 hadir dengan kecepatan mencapai 100 km/jam, daya tahan terbang lebih dari satu jam, serta kemampuan membawa berbagai beban seperti amunisi dan alat komunikasi relai.

Ekspansi kekuatan militer China tidak berhenti di darat. Pada akhir 2025, kapal serbu amfibi pertama China yang berfungsi sebagai “pengangkut drone” mulai menjalani uji coba laut. Kapal ini diprediksi akan memberikan kemampuan bagi China untuk meluncurkan serangan drone jauh di luar perbatasan mereka, menjangkau target-target yang relatif jauh dengan efisiensi tinggi.

Jika versi pertama (Swarm I) hanya berfungsi sebagai pembuktian konsep, maka Swarm II yang diluncurkan pada 2024 hadir dengan peningkatan performa signifikan untuk kebutuhan tempur intensitas tinggi. Keunggulan utamanya terletak pada mobilitas, di mana drone ini kini mampu mencapai kecepatan maksimal hingga 100 km/jam.

Dengan durasi terbang yang melampaui 60 menit, sistem Swarm II memiliki jangkauan operasi yang jauh lebih luas dibandingkan pendahulunya, memungkinkan cakupan wilayah pengintaian dan serangan yang lebih masif.

Selain aspek kecepatan, Swarm II menonjol berkat modularitas payload yang memungkinkannya membawa berbagai beban berbeda dalam satu kawanan sekaligus. Fleksibilitas ini memungkinkan penggunaan unit sebagai alat pemetaan medan secara real-time, pengangkut amunisi yang mengubah drone menjadi senjata kamikaze untuk menghantam target berat seperti tank, hingga berfungsi sebagai perangkat komunikasi relai.

Integrasi berbagai fungsi ini memastikan kawanan drone tetap memiliki konektivitas yang stabil meski beroperasi di area yang sangat luas.

Kecanggihan Swarm II didukung oleh otonomi cerdas yang memungkinkan setiap unit melakukan negosiasi mandiri melalui algoritma khusus. Drone dalam kelompok ini tidak sekadar terbang bersama, tetapi mampu “berdiskusi” untuk membagi tugas secara otomatis berdasarkan target yang tersedia.

Sebagai contoh, kawanan dapat secara mandiri memisahkan diri menjadi beberapa kelompok kecil untuk menyerang target tertentu sementara sebagian lainnya tetap melakukan pengintaian, menciptakan sistem serangan kolektif yang sangat terorganisir dan sulit diprediksi.(*)

BACA JUGA: Sting Pemburu Drone Murah Ukraina, Senjata Seharga Rp16 Juta

Back to top button