Iran Tak Gentar Hadapi Ancaman Economic D-Day Trump

Washington meluncurkan strategi isolasi total terhadap Iran, menargetkan rantai pasokan hingga jaringan dark fleet. Namun, Tehran tak tinggal diam—kartu As di Selat Hormuz siap dimainkan.
WWW.JERNIH.CO – Eskalasi ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran kembali mencapai titik krusial. Presiden AS Donald Trump secara terbuka meluncurkan operasi perang ekonomi skala penuh yang ia juluki sebagai “Economic D-Day”.
Melalui unggahannya di platform TruthSocial, Trump menegaskan niat Washington untuk mengisolasi Iran secara total dari sistem keuangan global dengan membidik seluruh rantai pasokan dan mitra dagang internasional negara tersebut.
Inti dari ancaman perang ekonomi ini terletak pada penerapan sanksi sekunder yang sangat ketat. Amerika Serikat mengancam akan menjatuhkan sanksi berat kepada negara mana pun, lembaga keuangan, entitas bisnis, hingga maskapai penerbangan yang masih memberikan akses atau lifeline ekonomi bagi Iran.
Peringatan ini terutama ditujukan kepada mitra dagang utama seperti Tiongkok. Selain itu, melalui bagian dari kampanye Operation Economic Fury di bawah arahan Departemen Keuangan AS, Washington secara agresif membongkar jalur ekonomi gelap.
Operasi tersebut menyasar praktik oil smuggling (penyelundupan minyak), fasilitas swap lines, transfer kas, jaringan rumah penukaran uang (exchange houses), registrasi kapal palsu, hingga penggunaan perusahaan cangkang (front companies) guna memutus penuh aliran pendapatan ekspor energi Iran.
Langkah drastis dari Gedung Putih ini langsung memicu gejolak di pasar komoditas global, dengan harga minyak mentah Brent melonjak di atas $92 per barel akibat kekhawatiran atas terganggunya rantai pasokan energi dunia.
Meskipun Trump mengklaim bahwa kekuatan militer dan kondisi keuangan Iran telah berada di titik terendah, Tehran menunjukkan penolakan keras untuk tunduk pada tekanan diplomasi maupun sanksi ekonomi tersebut.
Sebagai bentuk perlawanan, Iran menyiapkan serangkaian strategi penyeimbang. Di jalur maritim, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa Iran tidak akan membuka penuh Selat Hormuz bagi lalu lintas komersial sebelum AS mematuhi komitmennya untuk mengangkat blokade laut dan mencairkan aset-aset Iran yang dibekukan.
Di bidang perdagangan, Tehran terus mengandalkan jaringan dark fleet (tanker gelap) dan transaksi energi independen untuk menyalurkan minyaknya ke pembeli global. Pada saat yang sama, Iran mempererat persekutuan ekonomi strategis dengan negara penyeimbang seperti China dan Rusia guna membangun alur perdagangan non-dolar. Pergulatan sengit ini pada akhirnya menempatkan perekonomian dunia dalam ancaman krisis energi yang berkepanjangan. (*)
BACA JUGA: Rating Trump Terjun Bebas, Tergerus ‘Harga Bensin’ dan Bayang-bayang Perang Iran






