POTPOURRI

Jendral Ryamizard Ryacudu Meninggal di Usia 76 Tahun

Mewarisi darah juang sang ayah, Jenderal Ryamizard Ryacudu menghabiskan masa mudanya di garis depan daerah konflik demi menjaga Pancasila. Simak perjalanan hidup sang jenderal dari Lembah Tidar, misi perdamaian dunia, hingga akhir hayatnya di usia 76 tahun.

WWW.JERNIH.CO –  Jenderal TNI (Purn.) Ryamizard Ryacudu, salah satu putra terbaik bangsa yang dikenal sebagai veteran perang tangguh sekaligus pemikir pertahanan yang demokratis, dilaporkan telah meninggal dunia pada hari Minggu, 31 Mei 2026.

Almarhum mengembuskan napas terakhirnya pada pukul 14.03 WIB di usia 76 tahun. Kabar duka ini terjadi setelah sang jenderal sempat menjalani perawatan intensif di ruang Cardiac Intensive Care Unit (CICU) Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta.

Perjalanan hidup Ryamizard tidak bisa dilepaskan dari dunia hijau loreng. Lahir di Palembang pada 21 April 1950, Ryamizard mewarisi darah militer yang kental dari ayahnya, Mayjen TNI Musanif Ryacudu, seorang perwira tinggi legendaris yang dikenal dekat dengan Presiden Soekarno.

Terinspirasi dari jejak sang ayah, Ryamizard memantapkan panggilannya dengan memasuki Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) Darat di Magelang. Ia berhasil menyelesaikan studinya dan lulus pada tahun 1973/1974 dengan mengambil kecabangan Infanteri.

Lulus dari Lembah Tidar, ia tidak membuang waktu dalam zona nyaman. Ryamizard langsung dihadapkan pada realitas keras medan operasi yang tersebar di wilayah Indonesia, yang pada akhirnya menempa dirinya menjadi seorang perwira lapangan yang sangat disegani.

Sejak berpangkat Letnan Dua, Ryamizard menghabiskan sebagian besar masa mudanya di daerah-daerah konflik demi mempertahankan kedaulatan NKRI. Salah satu pengabdian awalnya adalah terjun langsung dalam Operasi di Kalimantan pada rentang tahun 1976 hingga 1982.

Dalam operasi di belantara Kalimantan tersebut, ia bertugas menumpas sisa-sisa gerombolan komunis. Sasaran utamanya saat itu adalah membendung pergerakan dari Pasukan Rakyat Kalimantan Utara (Paraku) dan Pasukan Gerilya Rakyat Sarawak (PGRS).

Tak berhenti di sana, tantangan berikutnya membawa Ryamizard ke tanah Timor. Ia  terlibat aktif dalam Operasi Seroja di Timor Timur pada tahun 1983–1984, bertugas di medan tempur yang sangat dinamis untuk meredam gerakan separatis demi menjaga keutuhan wilayah.

Kemampuan kepemimpinannya juga diakui di kancah internasional pada tahun 1992. Saat itu, ia ditunjuk sebagai Komandan Kontingen Garuda XII-B di Kamboja, mengukir prestasi internasional dengan mengawal transisi perdamaian di tengah konflik berdarah negara tersebut.

Sekembalinya dari misi PBB di Kamboja, karier militer Ryamizard di tanah air melesat sangat cepat. Berkat kepemimpinannya yang terkenal tegas dan taktis, ia dipercaya memegang tongkat komando di berbagai satuan elite dan komando teritorial strategis.

Secara berturut-turut, ia memegang jabatan penting mulai dari Komandan Brigade Infanteri 17 Linud Kostrad, Panglima Divisi Infanteri 2/Kostrad, hingga Panglima Kodam V/Brawijaya. Ia juga dipercaya menjadi Panglima Kodam Jaya/Jayakarta yang sukses mengamankan Ibu Kota di masa-masa transisi reformasi yang bergejolak, sebelum akhirnya diangkat menjadi Panglima Kostrad (Pangkostrad) periode 2000–2002.

Puncak karier militernya di jajaran angkatan darat diraih ketika Presiden Megawati Soekarnoputri melantiknya sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) periode 2002–2005. Di bawah kepemimpinannya, TNI AD dikenal sangat solid, netral, dan mengedepankan pendekatan humanis namun tegas, termasuk saat menerjunkan pasukan skala besar untuk evakuasi Tsunami Aceh akhir 2004.

Setelah sempat pensiun dari dinas militer, pengabdian Ryamizard kepada negara ternyata belum usai. Pada tahun 2014, Presiden Joko Widodo memanggilnya untuk masuk ke dalam Kabinet Kerja guna mengemban amanah besar sebagai Menteri Pertahanan RI (Menhan) periode 2014–2019.

Sebagai Menhan, Jenderal Ryamizard dikenal sangat vokal dalam menanamkan ideologi Pancasila dan meluncurkan program masif Bela Negara guna menangkal radikalisme. (*)

BACA JUGA: Jokowi dan Para Jenderalnya [1]: Tentang Isu PKI

Back to top button