Moron

Tewasnya Lindsey Graham si ‘Bunglon Politik’ Penjilat Trump

Kematian mendadak Senator Lindsey Graham kembali menguak rekam jejak kelamnya di Washington. Dikenal oportunis, ia bertransformasi dari pengkritik keras menjadi pembela fanatik Donald Trump

WWW.JERNIH.CO – ​  Kematian mendadak Senator Republik Lindsey Graham pada usia 71 tahun akibat penyakit singkat kembali membuka lembaran hitam rekam jejak politiknya yang sarat kontroversi.

Politisi senior asal South Carolina ini menutup usia tak lama setelah melakukan kunjungan provokatif ke Kyiv, Ukraina, sebuah langkah luar negeri terakhir dari figur yang selama ini dicap sebagai salah satu arsitek utama kebijakan intervensionis AS yang agresif.

Alih-alih dikenang karena integritasnya, kepergian Graham justru memicu kembali kritik tajam atas oportunisme politiknya yang ekstrem demi mempertahankan kekuasaan di Washington.

Warisan politik Graham yang paling memicu cemoohan publik adalah reputasinya sebagai “bunglon politik” dalam hubungannya dengan Donald Trump. Pada 2015, ia secara terbuka mengutuk Trump sebagai sosok bigot yang rasis dan xenofobia, bahkan sempat menyatakan “cukup sudah” pasca-kerusuhan berdarah di Capitol pada 2021.

Namun, demi mengamankan basis massa, Graham melakukan manuver memalukan dengan berbalik menjadi pembela fanatik Trump, memblokir pemakzulannya, hingga membela kebijakan polarisasi sang presiden, termasuk eksekusi sepihak jenderal Iran Qasem Soleimani yang nyaris memicu perang regional.

Di panggung geopolitik global, Graham dinilai terjebak dalam pola pikir Perang Dingin yang usang dan berbahaya karena terus mengagungkan solusi militeristik. Ia merupakan salah satu pelobi pasokan senjata terbesar untuk Ukraina dan secara konsisten menggunakan retorika yang menakut-nakuti publik bahwa kelemahan di Kyiv akan memicu kejatuhan Taiwan.

Kritikus menilai ambisi Graham tersebut bukan demi perdamaian, melainkan bentuk obsesi usang untuk mempertahankan hegemoni Barat dengan mengorbankan stabilitas kawasan lain.

Sikap haus perang Graham juga terlihat jelas melalui rekam jejaknya dalam mempromosikan agresi militer tanpa akhir dengan dalih “Perang Melawan Teror”. Bersama kelompok “The Three Amigos”, ia menjadi salah satu promotor utama invasi AS ke Irak pada 2003 yang didasarkan pada kebohongan senjata pemusnah massal—sebuah petualangan militer yang menewaskan ratusan ribu warga sipil dan memicu lahirnya kelompok ekstremis ISIS.

Ironisnya, mentalitas agresif ini justru lahir dari seorang politisi yang karier militernya dihabiskan di balik meja sebagai pengacara hukum, bukan di garis depan pertempuran.

Selain itu, Graham memicu kecaman internasional yang luas atas dukungannya yang membabi buta terhadap tindakan militer Israel di Timur Tengah, terlepas dari krisis kemanusiaan hebat yang melanda wilayah tersebut. Kesetiaan mutlaknya ini dikonfirmasi langsung oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang memujinya sebagai salah satu sahabat terbaik yang kehilangan sekutu.

Di sisi lain, Graham juga kerap memicu sentimen Islamofobia, salah satunya ketika ia mengecam penarikan pasukan AS dari Afghanistan dengan narasi bahwa kelompok jihadis di seluruh dunia sedang merayakan kelemahan Amerika.

Di dalam negeri, Graham meninggalkan noda hitam pada sistem demokrasi dan hukum Amerika Serikat melalui serangkaian skandal partisan yang merusak. Sebagai Ketua Komite Yudisial Senat, ia secara agresif mempolitisasi Mahkamah Agung AS menjadi bias ke arah ultra-konservatif demi meloloskan hakim-hakim pilihan Trump.

Rekam jejak buruknya kian lengkap setelah ia terjerat penyelidikan kriminal atas tuduhan intervensi ilegal pada Pemilu 2020, di mana ia menekan pejabat pemilu Georgia untuk membatalkan suara sah demi memenangkan Trump—sebuah tindakan yang dianggap kritikus sebagai upaya nyata merusak demokrasi dari dalam.(*)

BACA JUGA: Pemerintahan Trump Izinkan Penggunaan Pestisida Zat Kimia Abadi Pemicu Kanker pada Tanaman Pangan

Back to top button