Crispy

Dibayangi Super El Nino Petani Jepang Ketakutan, Ancaman Krisis Beras 2023 Hantui Negeri Sakura

JERNIH — Setelah dua tahun mereda, fenomena alam El Nino dilaporkan kembali bangkit dan mengancam rantai pasok pangan dunia. Para ahli meteorologi memperingatkan bahwa pola cuaca tahun ini berpotensi kuat berkembang menjadi ‘Super El Nino’. Kondisi ekstrem ini diprediksi akan memicu gelombang panas mengerikan yang siap membakar daratan Jepang sepanjang periode Juli hingga September 2026.

Anomali ini memicu alarm bahaya bagi sektor pertanian setempat. Sengatan suhu yang sangat tinggi berisiko merusak kualitas beras Jepang secara massal, mengulang memori kelam krisis pangan nasional yang terjadi pada periode 2023–2024 lalu.

Menyikapi ancaman nyata ini, para petani di Negeri Sakura tidak mau pasrah menjadi korban untuk kedua kalinya. Kerusakan panen massal akibat cuaca panas beberapa tahun lalu terbukti sempat memicu kelangkaan beras nasional dan meroketnya harga di pasaran.

Koji Nishimoto (42), seorang petani padi di Kota Matsuyama, memilih realistis dengan langsung mengganti jenis tanamannya. “Saya sangat khawatir dengan panas ekstrem ini, tetapi tidak banyak yang bisa saya lakukan secara manual. Saya dan petani di sekitar sini sudah mulai berbondong-bondong beralih menanam varietas padi tahan panas bernama Niji no Kirameki untuk musim ini,” ujarnya seperti dilansir Kyodo News.

Ryota Kaji, Kepala Kelompok Pemuliaan Padi Organisasi Nasional Penelitian Pertanian dan Pangan Jepang, mengaku terkejut dengan cepatnya proses adopsi varietas tangguh ini di tingkat bawah. Menurutnya, fenomena beralihnya para petani secara kilat merupakan indikator kuat bahwa mayoritas produsen lapangan sedang menghadapi kepanikan besar.

Secara sains, El Nino terjadi jika suhu permukaan laut di lepas pantai Peru bertahan minimal 0,5 derajat Celcius di atas nilai acuan selama lebih dari enam bulan. Namun, statusnya akan naik menjadi Super El Nino apabila kenaikan suhu tersebut menembus angka minimal 2 derajat Celcius.

Catatan sejarah sejak tahun 1949 menunjukkan bahwa hanya ada 5 dari 19 kejadian El Nino yang mampu mencapai ambang ekstrem tersebut, dan para ahli memprediksi kondisi horor ini mulai aktif berjalan bulan ini.

Ada anomali atmosfer gila yang terjadi tahun ini. Perairan hangat di sekitar Filipina tetap mempertahankan aktivitas konveksinya, mendorong sistem tekanan tinggi Pasifik bergerak jauh lebih ke utara daratan Jepang.

Juga terjadi pergeseran angin barat ke arah utara membuat udara hangat dari wilayah selatan menjadi sangat mudah menyelimuti dan “memanggang” seluruh prefektur Jepang. Suhu di wilayah Jepang bagian barat, timur, hingga Kepulauan Okinawa dan Amami diproyeksikan melonjak jauh di atas rata-rata normal.

Profesor meteorologi dari Universitas Mie, Yoshihiro Tachibana, mengungkapkan bahwa pada pemanasan global sebelumnya, suhu permukaan laut rata-rata bulanan bahkan sempat meroket hingga 2,3 derajat Celcius. Lonjakan itulah yang menjatuhkan kualitas beras Jepang ke titik terendah.

Namun, Tachibana mengingatkan bahwa ancaman ini tidak boleh diremehkan hanya sebatas urusan isi piring nasi: “Dampak dari heatwave ekstrem ini tidak hanya mengintai produksi beras. Komoditas pertanian lainnya serta sektor perikanan Jepang juga berada dalam bayang-bayang kelumpuhan total akibat pemanasan suhu laut,” tegas Prof. Tachibana.

Ia mendesak pemerintah dan masyarakat internasional untuk tidak hanya adaptif mengubah pola hidup dari ancaman cuaca ekstrem, tetapi juga melakukan tindakan radikal jangka panjang, seperti berkomitmen penuh memangkas emisi karbon dioksida (CO2) sebelum semuanya terlambat.

Back to top button