POTPOURRIVeritas

Jutaan Dokumen Jeffrey Epstein Meledak, Washington Terguncang

Washington sedang terbakar, Pangeran Andrew tak bisa lagi mengelak, dan nama-nama besar mulai gemetar. Babak baru dokumen Epstein porak-porandakan orang-orang penting.

WWW.JERNIH.CO –  Awal tahun 2026 ditandai dengan gempa politik yang belum pernah terjadi sebelumnya. Harapan publik untuk melihat seluruh tabir gelap jaringan Jeffrey Epstein akhirnya mulai tersingkap, namun pembukaan kotak Pandora ini justru menyulut amarah baru.

Keputusan Departemen Kehakiman AS (DOJ) untuk merilis jutaan dokumen rahasia sebagai bentuk kepatuhan terhadap Epstein Files Transparency Act pada akhir Januari ini tidak hanya mengungkap detail baru yang mengerikan, tetapi juga memicu krisis kepercayaan terhadap integritas pemerintah.

Pada tanggal 30 Januari 2026, Departemen Kehakiman merilis sekitar 3,5 juta halaman dokumen, yang mencakup lebih dari 2.000 video rekaman CCTV dari kediaman Epstein dan 180.000 foto. Ini merupakan rilis arsip kriminal terbesar dalam sejarah Amerika Serikat.

Namun, di balik angka yang masif tersebut, tersimpan kontroversi besar. DOJ secara terbuka mengakui bahwa mereka memiliki total 6 juta halaman, namun menahan sekitar 2,5 juta halaman sisanya.

Keputusan menahan hampir separuh dokumen ini dengan alasan “privasi korban” dan “keamanan investigasi yang sedang berjalan” langsung disambut dengan kecurigaan publik. Para kritikus mempertanyakan apakah pemerintah sedang berupaya melindungi sosok-sosok kuat yang masih aktif di pemerintahan atau dunia bisnis global.

Yang lebih menyakitkan, para penyintas justru merasa dikhianati; dalam rilis tersebut, beberapa identitas korban justru tidak disensor dengan sempurna, sementara nama-nama kolaborator pria kelas atas sering kali tertutup oleh sensor hitam (redaksi) yang tebal.

Dokumen terbaru dari tahun 2010—periode sensitif setelah Epstein menyelesaikan hukuman penjara pertamanya—menempatkan Pangeran Andrew kembali dalam posisi yang sangat sulit. Bukti pesan elektronik menunjukkan bahwa sang Pangeran mengundang Epstein ke Istana Buckingham hanya sesaat setelah Epstein bebas dari tahanan rumah.

Lebih jauh lagi, terdapat catatan mengenai upaya Epstein memperkenalkan seorang wanita misterius asal Rusia kepada Andrew untuk sebuah jamuan makan malam privat. Temuan ini semakin memperkuat dugaan adanya jaringan “perkenalan” wanita yang sistematis di kalangan bangsawan dan elit Eropa yang dikelola langsung oleh Epstein.

Tidak hanya Andrew, nama-nama raksasa seperti Donald Trump, Bill Gates, dan Elon Musk kembali muncul dalam log penerbangan dan korespondensi yang lebih mendalam. Dokumen menunjukkan bahwa Trump terbang dengan pesawat pribadi Epstein sebanyak delapan kali pada tahun 1990-an—jumlah yang lebih banyak dari pengakuan sebelumnya.

Sementara itu, draf email kontroversial mengungkap klaim Epstein yang sesumbar memiliki informasi pribadi mengenai hubungan di luar nikah Bill Gates.

Elon Musk pun terseret melalui korespondensi email yang kini dipelajari secara saksama oleh para peneliti hukum, meskipun Musk berulang kali membantah hubungan dekat dengan sang predator.

Ketegangan mencapai puncaknya ketika rilis dokumen ini bersinggungan dengan budaya populer. Munculnya foto-foto sutradara ternama Brett Ratner yang tertangkap kamera sedang bersantai bersama Epstein di sebuah sofa memicu kegemparan luar biasa.

Hal ini menjadi sangat ironis dan kontroversial mengingat Ratner baru saja merilis film dokumenter profil Ibu Negara berjudul “Melania” pada akhir Januari 2026. Skandal ini menciptakan narasi “pengkhianatan” di mata publik, di mana orang-orang yang berada di lingkaran dekat kekuasaan dianggap memiliki akses istimewa untuk menutupi masa lalu mereka melalui karya propaganda.

Reaksi di Washington DC saat ini benar-benar terbelah. Meskipun undang-undang transparansi ini didukung secara bipartisan, implementasinya telah memicu “perang sipil” politik.

Tokoh Demokrat seperti Jamie Raskin dan Ro Khanna menuduh pemerintahan saat ini melakukan stonewalling atau penghambatan sistematis untuk menyembunyikan 2,5 juta halaman yang hilang. Mereka menduga sensor hitam tersebut bukan untuk melindungi korban, melainkan untuk menyelamatkan karier pejabat tinggi.

Di sisi lain, terjadi “pemberontakan” internal di tubuh Republik. Politisi sayap kanan seperti Thomas Massie mengecam DOJ karena dianggap bekerja setengah hati dan melewati tenggat waktu yang ditentukan.

 Jaksa Agung Pam Bondi kini berada di kursi panas dan dijadwalkan untuk bersaksi di hadapan Kongres pada 11 Februari 2026. Ia harus menjelaskan mengapa jutaan dokumen masih tertahan di bawah pengawasannya.

Gedung Putih, melalui Wakil Jaksa Agung Todd Blanche, berusaha meredam situasi dengan menegaskan tidak ada “rahasia super” yang disembunyikan untuk melindungi Presiden Trump. Mereka bersikeras bahwa materi yang ditahan mengandung konten pelecehan anak yang ilegal untuk dipublikasikan.

Namun, di tengah narasi “Hoax” yang sempat dilontarkan Trump sebelumnya, publik kini menuntut kebenaran tanpa filter. Penantian akan sidang pertengahan Februari nanti menjadi penentu apakah keadilan benar-benar akan tegak, ataukah “Epstein Files” hanya akan menjadi alat politik yang digunakan oleh masing-masing pihak untuk saling menjatuhkan di tahun 2026 ini.

Nila setitik rusak susu sebelanga. Tak ada rahasia yang tersimpan abadi. Seru! (*)

BACA JUGA: Jeffrey Epstein, Arsitek Gelap di Balik Jaringan Elite Global

Back to top button