
NATO bersama Denmark telah mengirimkan pasukan ke Greenland. Namun Amerika Serikat telah memiliki basis militer di sana. Bagaimana peta kekuatan militer antara NATO plus versus Amerika Serikat?
WWW.JERNIH.CO – Eskalasi di Greenland telah mencapai titik didih baru pada awal 2026. Pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengklasifikasikan Greenland sebagai aset keamanan nasional “harga mati” telah mengubah pulau es ini menjadi arena kontestasi kekuatan antara Washington dan sekutu Eropanya sendiri.
Di bawah bayang-bayang klaim kedaulatan Denmark, militerisasi wilayah ini tidak lagi hanya soal pertahanan terhadap Rusia atau Tiongkok, melainkan perebutan pengaruh internal dalam struktur keamanan Barat. Analisis ini membedah kekuatan kedua belah pihak dari aspek infrastruktur, personel, hingga doktrin perang Arktik.
Infrastruktur Strategis
Secara infrastruktur, Amerika Serikat memegang kartu truf melalui Pituffik Space Base (dahulu Thule). Pangkalan ini merupakan instalasi militer paling utara di dunia yang mengoperasikan radar AN/FPS-132 Solid-State Phased-Array (UEWR). Radar ini memiliki jangkauan deteksi hingga 5.000 km, menjadikannya mata utama bagi komando pertahanan dirgantara Amerika Utara (NORAD).

Sebaliknya, kekuatan infrastruktur NATO yang dipimpin Denmark melalui Joint Arctic Command (JACO) di Nuuk lebih bersifat administratif-operasional. Meskipun memiliki fasilitas di Kangerlussuaq, NATO lebih memfokuskan infrastrukturnya pada mobilitas maritim dan udara untuk patroli kedaulatan (SAR) daripada pertahanan rudal balistik berskala masif.

Komparasi Kekuatan Personel
Di darat, terdapat kontras yang tajam antara spesialisasi teknis AS dan kemampuan bertahan hidup ekstrem NATO. AS menempatkan sekitar 600 hingga 1.000 personel permanen di Pituffik, yang didominasi oleh 73rd Space Delta (US Space Force) dan personel Air Force.

Kekuatan ini didukung oleh doktrin Rapid Deployment yang memungkinkan ribuan tentara tambahan tiba dari pangkalan di daratan AS dalam hitungan jam.
Di sisi lain, NATO mengandalkan Sirius Dog Sled Patrol—unit komando elit Denmark yang memiliki penguasaan medan tak tertandingi di belantara es utara.

Per Januari 2026, NATO telah memperkuat kehadirannya dengan menyebar lebih dari 1.200 personel gabungan dari Inggris, Jerman, Prancis, dan Swedia guna menandingi kehadiran fisik AS di luar pangkalan Pituffik.
Persenjataan Tempur Arktik
Persaingan persenjataan di Greenland didominasi oleh teknologi udara dan laut yang disesuaikan dengan suhu ekstrem hingga minus 40 derajat Celcius. AS mengandalkan supremasi udara melalui jet siluman F-35 Lightning II dan pesawat pengintai yang terintegrasi dengan jaringan satelit militer global.

Namun, dalam konteks maritim, Denmark dan sekutu NATO memiliki keunggulan dalam jumlah kapal patroli es yang beroperasi secara aktif. Kapal fregat kelas Iver Huitfeldt milik Denmark, yang dilengkapi rudal SM-2 dan Harpoon, menjadi penantang serius di perairan pesisir.

Selain itu, penggunaan kendaraan amfibi BvS 10 Beowulf oleh pasukan Eropa memberikan NATO keunggulan mobilitas taktis di atas salju yang lebih fleksibel dibandingkan kendaraan taktis ringan standar milik AS.
Doktrin Perang
Strategi AS bergeser pada doktrin “Fortress Arctic”, di mana Greenland dianggap sebagai benteng terdepan untuk membendung ancaman trans-kutub. Washington cenderung bergerak secara unilateral jika kepentingan energinya, terutama mineral tanah jarang (Rare Earth), terancam.
Sebaliknya, NATO menerapkan “Tripwire Strategy”; dengan melibatkan militer dari berbagai negara Eropa di Greenland, Denmark menciptakan hambatan politik yang besar bagi AS.
Jika AS mengambil tindakan sepihak, mereka tidak hanya berhadapan dengan Denmark, tetapi secara teknis memicu krisis yang dapat mengaktifkan Pasal 5 NATO. Situasi tahun 2026 ini menunjukkan bahwa meskipun AS menang secara teknologi, legitimasi politik dan penguasaan teritorial harian tetap berada di tangan aliansi NATO dan kedaulatan Denmark.(*)
BACA JUGA: NATO Bangun Benteng di Greenland untuk Menahan Amerika Serikat






