POTPOURRI

Jejak Islam : Sebuah Mesjid Kuno Berdiri Kokoh di ‘Kota 1001 Gereja‘

Ani adalah tempat bersejarah yang dijuluki sebagai kota hantu karena tidak berpenghuni. Pemandangan Ani yang berada di dataran tinggi memiliki landskap yang indah, perpaduan padang rumput, ngarai curam dan tebing batu, juga banyak ditemukan reruntuhan gedung-gedung kuno yang terlihat menyeramkan.

Bangunan-bangunan kuno itu ada yang masih kokoh berdiri, rusak sebagian maupun yang tinggal puing-puing.  Ani disebut juga “kota seribu gereja” karena para arkeolog telah menemukan setidaknya 40 gereja, kapel,dan makam yang semuanya dirancang oleh para arsitek terbaik di zamannya.

Sampai saat ini Katedral Ani masih berdiri di atas tanah meskipun kubahnya runtuh menghancurkan sudut barat laut pada tahun 1319. Katedral itu dibangun tahun 989 M ketika Raja Smbat II berkuasa dan selesai tahun 1001 pada masa Raja Gagik I.  

Perancang Katedral Surp Asdvadzadzin (Gereja Bunda Suci Allah) bernama Trdat, Ia seorang arsitek paling terkenal di  Armenia yang pernah membantu memperbaiki kubah Hagia Sophia. Berkat sentuhan para arsitek yang handal, Kota Ani berada di puncak kemegahannya.

Selain Surp Asdvadzadzin, gereja lainnya adalah Surp Stephanos Church yang dibangun tahun 1218 M. Ada lagi Gereja St. Gregorius Tigran Honents yang  selesai dibangun tahun 1215 M. Gereja ini merupakan monumen yang paling terpelihara di Ani.  Dekorasi eksteriornya begitu spektakuler.

Katedral Surp Asdvadzadzin

Tinggalan lainnya yang fantastis adalah tembok kota yang melindungi Ani. Benteng kota itu dibangun Raja Smbat (977–989) dan diperkuat oleh penguasa-penguasa berikutnya. Di dinding bagian utara terdapat tiga gerbang yang dikenal sebagai Gerbang Singa, Gerbang Kars,dan Gerbang Dvin.

Dari sekian tinggalan bangunan kuno yang didominasi bangunan gereja, ternyata ada satu bangunan yang merupakan mesjid bernama The mosque of Manuchihr (Mesjid Manuchihr). Mesjid tersebut dibangun oleh Manuchihr ibn Shavur (1072-1118), emir pertama dari Dinasti Shaddadid yang berkuasa di Ani.

Bagian mesjid yang paling tua dan masih utuh adalah menara yang menjulang kokoh. Di bagian utara menara terdapat pahatan kaligrafi berbunyi ‘Bismillah’ dalam huruf arab Kufi.  Setengah ruangan bagian timur mesjid yang dibangun abad ke12 -13 M untuk ibadah berjamaah tampak masih utuh.

Bagian dalam mesjid yang masih utuh

Namun fasad barat masjid telah runtuh pada akhir abad ke-19 M. Bagian yang runtuh itu kemudian diperbaiki oleh arkeolog  Rusia Nikolai Marr untuk menampung benda-benda temuan arkeologis di Ani.  Penduduk di  desa-desa Muslim setempat masih menggunakan masjid sampai 1906.

Di arah timur mesjid terdapat bangunan Surp Asdvadzadzin dan caravanserals (penginapan musafir). Di Utara terdapat Gereja Horom dan Katedral St. Gregory of the Abumarents (980 M), di arah barat daya terdapat dua gereja lainnya, salah satunya bernama Gereja Ashot.

Pada tahun 1920 orang-orang Turki mengambil alih Ani. Mereka kemudian mengubah struktur  bangunan menjadi masjid dengan menambahkan mihrab. Masjid Manuchihr dapat dikatakan sebagai masjid tertua di wilayah Republik Turki saat ini.

Pada tahun 1999 dan 2003 para peneliti Turki menggali dan mensurvei situs tersebut untuk memulihkan struktur bangunan. Sampai saat ini masjid Manuchihr adalah salah satu bangunan yang paling terpelihara di Ani.

Beberapa sumber mengatakan awalnya bangunan itu bukan masjid, melainkan istana yang dibangun pada masa pemerintahan Raja Ashot III yang memerintah Armenia  tahun 953-977. Dugaan itu karena letak mesjid  berada di garis benteng Raja Ashot yang dibangun 964 M. Bangunan itu diubah menjadi masjid oleh Dinasti Shaddadid begitu mereka menguasai kota tahun 1072.

Pendapat lain menyebutkan bahwa itu pada awalnya mesjid itu adalah kediaman orang-orang Katolik Armenia. Ada juga yang berpendapat bahwa bangunan itu sebenarnya adalah narthex (serambi atrium) dari gereja yang dihancurkan dan kemudian dijadikan  masjid.

Namun orang Turki mengklaim bangunan itu dibangun oleh Seljuk ketika mengambil alih Kota Ani pada tahun 1064. Ada juga yang berpendapat bahwa masjid itu dibangun pada abad ke-12 atau ke-13 berdasarkan ciri arstekturnya.

Ada sebuah prasasti bertanggal 1330 yang ditinggalkan oleh Abu Sa’id Bahadur Khan (memerintah 1316-1335) dari Ilkhanate dalam bahasa Persia, Armenia, dan Georgia. Pada tahun 1912 prasasti itu disusun kembali oleh Nikolai Marr tetapi dihancurkan oleh tentara Turki yang menyerang pada tahun 1920.

Sekilas tentang Kota Hantu Ani

Ani adalah kota yang berganti-ganti dikuasai dua negara yaitu Armenia dan Turki. Eksistensi  Ani pertama kali muncul di abad 5 M  dan digambarkan sebagai kota dengan benteng yang kuat di puncak bukit yang dikuasai dinasti Kamsarakan Armenia.

Ani mencapai keemasannya di abad 10 M saat berada di bawah kekuasaan dinasti Bagratuni Armenia.  Pada tahun 992 M Ani menjadi ibu kota Armenia. Pada masa inilah Ani mengalami pertumbuhan pesat.

Pada awal abad ke-11 populasi Ani sudah lebih dari 100.000 orang dan terkenal sebagai “kota empat puluh gerbang” dan “kota seribu satu gereja.” Ani juga menjadi situs makam raja Bagratuni dari Armenia. Pada pertengahan abad ke-11, Raja Gagik II menentang pasukan Bizantium dan Ia mampu menahan serbuan mereka untuk sementara waktu.

Namun, pada 1046, Ani akhirnya menyerah kepada Bizantium dan menempatkan seorang gubernur Bizantium di kota Ani. Pada 1064, pasukan Seljuk yang kuat dan besar menyerang Ani.  Setelah dikepung selama 25 hari, kota itu dapat ditaklukan.

Pada 1072, Seljuk menjual Kotal Ani ke Shaddadids, yaitu sebuah dinasti Islam Kurdi.  Shaddadid menerapkan kebijakan perdamaian terhadap penduduk kota yang didominasi orang Armenia dan Kristen. Namun, orang-orang menganggap penguasa baru mereka tidak terlalu tidak toleran.

Akhirnya penduduk Ani  memohon perlindungan kerajaan Kristen Georgia. Maka antara 1124 M dan 1209 M, kota itu bolak balik dikuasai  Georgia dan Shaddadid sampai akhirnya dikuasai penuh  Georgia. Pada 1236 M, bangsa Mongol merebut kota dan membantai  penduduknya.

Pada abad ke 14 M, kota ini berada di bawah kendali dinasti Turki dan segera menjadi bagian dari Kekaisaran Ottoman. Tahun 1319 M terjadi gempa bumi yang menghancurkan banyak bangunan di Kota Ani sehingga mereduksi kota menjadi desa. Pada 1735 M situs itu sepenuhnya ditinggalkan penghuninya  ketika para biarawan terakhir meninggalkan gereja.

Pada tahun 1892, penggalian arkeologis pertama dilakukan di situs Ani, disponsori oleh Akademi Sains St. Petersburg dan diawasi oleh Nicholas Marr. Dari penggalian ini, banyak bangunan ditemukan, didokumentasikan dalam jurnal akademik, disajikan dalam buku panduan dan seluruh situs disurvei.

Perbaikan darurat dilakukan pada bangunan yang paling berisiko runtuh. Sebuah museum didirikan di masjid Minuchihr untuk menampung ribuan benda artefak yang ditemukan selama penggalian.

Dalam Perang Dunia I, sekitar 6000 artefak dipindahkan dari museum mesjid ke Museum Negara Armenia Yerevan. Apa yang tersisa di Ani akhirnya dijarah atau dihancurkan.  Pada akhir perang, Kota Ani berada dalam kontrol Armenia. Tetapi, pada tahun 1921 Ani dimasukkan ke wilayah Republik Turki.

Ketegangan Turki-Armenia masih berlangsung sampai hari ini, termasuk memperebutkan situs Kota Ani. Namunpara arkeolog dan aktivis tetap berkelanjutan untuk melestarikan reruntuhan kota. Para sejarawan telah lama mengangkat pentingnya sejarah Ani sebagai nexus yang dilupakan. Karena peradaban Ani merupakan perwujudan konkret dari berbagai entitas yang aktual.

Saat ini, Situs Kuta Kuno Ani berada dalam daftar sementara untuk diakui sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO. Upaya pemulihan dimulai pada 2011 melalui Dana Monumen Dunia bekerja sama dengan Kementerian Kebudayaan Turki. Sehingga  apa yang tersisa di kota hantu Ani akhirnya dapat dilestarikan.  

Back to top button