
Partai Demokrat mulai menunjukkan momentum kuat menjelang pemilu sela AS 2026. Sejumlah survei, hasil pemilu khusus, dan proyeksi terbaru menempatkan Demokrat dalam posisi lebih menguntungkan.
WWW.JERNIH.CO – Peta politik Amerika Serikat mulai menunjukkan perubahan menjelang pemilu sela atau midterm elections 2026. Partai Demokrat kini berada dalam posisi yang semakin kompetitif, bahkan dalam sejumlah survei dan model proyeksi terlihat berpeluang merebut kembali kendali DPR AS dari Partai Republik.
Namun, perlu ditegaskan bahwa pemilu sela AS 2026 belum digelar. Pemungutan suara utama baru akan berlangsung pada 3 November 2026, ketika seluruh kursi DPR dan sekitar sepertiga kursi Senat diperebutkan.
Demokrat Unggul
Salah satu sinyal terbaru datang dari survei Gallup yang menunjukkan perubahan cukup besar dalam afiliasi politik pemilih Amerika. Data yang dirilis awal September memperlihatkan Demokrat dan pemilih independen yang condong ke Demokrat memiliki keunggulan terbesar dibanding Republik dalam bertahun-tahun. Pergeseran tersebut menjadi indikasi meningkatnya tekanan politik terhadap pemerintahan Presiden Donald Trump menjelang pemilu November.
Dalam jajak pendapat Reuters/Ipsos yang dilakukan pada akhir Agustus, hanya 33 persen responden yang menyetujui kinerja Trump sebagai presiden. Pada saat yang sama, pemilih Demokrat menunjukkan tingkat antusiasme yang lebih tinggi untuk mengikuti pemilu: 46 persen Demokrat menyatakan sangat antusias memilih, dibandingkan 31 persen pemilih Republik.
Persoalan ekonomi juga menjadi salah satu faktor utama. Tingginya harga energi dan biaya hidup menjadi perhatian pemilih, sementara tingkat kepuasan terhadap penanganan ekonomi pemerintahan Trump menurun. Kondisi tersebut berpotensi menjadi masalah bagi kandidat Republik yang harus mempertahankan mayoritas tipis di Kongres.
Selain survei, hasil sejumlah special election selama 2025-2026 juga memberikan sinyal positif bagi Demokrat.
Analisis Brookings Institution menemukan bahwa Demokrat secara konsisten tampil lebih baik dibandingkan hasil pemilu sebelumnya di berbagai daerah. Dalam pemilu khusus yang dianalisis, kandidat Republik justru mengalami penurunan perolehan suara dibandingkan hasil 2024, sementara Demokrat meningkatkan performanya.
Secara keseluruhan, Demokrat telah merebut sejumlah kursi legislatif negara bagian yang sebelumnya dikuasai Republik. Brookings mencatat terdapat 12 kursi legislatif negara bagian yang berpindah dari Republik ke Demokrat melalui special elections. Jika ditambah kemenangan Demokrat dalam pemilu negara bagian Virginia dan New Jersey pada 2025, jumlah pergeseran kursi dari Republik ke Demokrat mencapai 30 kursi, sementara tidak tercatat pergeseran sebaliknya dalam rangkaian pemilu yang dianalisis.
Meski demikian, hasil special election tidak bisa dianggap sebagai prediksi pasti pemilu November. Jumlah pemilih biasanya jauh lebih kecil dibandingkan pemilu nasional sehingga perilaku pemilihnya bisa berbeda.
BACA JUGA: Melawan Arus Trump, Politisi Muslim AS yang Bertarung di Pemilu Sela 2026 Catatkan Rekor
Peluang Demokrat
Salah satu proyeksi terbaru bahkan memberikan peluang cukup besar bagi Demokrat untuk menguasai DPR.
Model yang dikembangkan para ilmuwan politik Cornell University memperkirakan Demokrat memiliki sekitar 80 persen peluang memenangkan mayoritas DPR. Model tersebut memproyeksikan sekitar 226 kursi untuk Demokrat dan 209 kursi untuk Republik, meskipun para peneliti menekankan bahwa hasil sebenarnya masih dapat bergerak cukup jauh sebelum hari pemungutan suara.
Jika proyeksi tersebut terealisasi, Demokrat akan mendapatkan kembali kendali DPR dan memiliki kekuatan lebih besar untuk melakukan pengawasan terhadap pemerintahan Trump.
Meski momentum Demokrat terlihat kuat, pertarungan belum selesai.
Republik masih memiliki keunggulan struktural di sejumlah wilayah. Selain itu, proses redistricting atau perubahan batas daerah pemilihan berpotensi membantu kandidat Republik mempertahankan sejumlah kursi. Missouri, misalnya, saat ini menjadi bagian dari pertarungan hukum mengenai peta distrik kongres yang didukung Republik.
Republik juga memiliki sumber daya kampanye yang besar. Kelompok yang berafiliasi dengan Trump, MAGA Inc., memiliki ratusan juta dolar yang dapat digunakan untuk mendukung kandidat Republik di berbagai negara bagian. AP melaporkan kelompok tersebut mulai meningkatkan pengeluaran iklan, termasuk kampanye senilai 10 juta dolar untuk pemilihan Senat di Texas.
Pertarungan Texas menjadi salah satu contoh bahwa peta politik yang sebelumnya dianggap aman bagi Republik mulai menjadi lebih kompetitif.
Pemilu sela memiliki arti penting bagi Trump karena menjadi referendum politik pertama berskala nasional terhadap masa jabatan keduanya. Secara historis, partai yang menguasai Gedung Putih sering mengalami kehilangan kursi dalam pemilu sela.
Situasi Demokrat saat ini juga diperkuat oleh meningkatnya antusiasme pemilih dan sejumlah hasil pemilu khusus yang menunjukkan pergeseran suara ke kiri. Namun, kemenangan dalam survei tidak otomatis menghasilkan kemenangan pada hari pemilihan.
Trump dan Partai Republik masih memiliki waktu sekitar dua bulan untuk mengubah peta persaingan. Mobilisasi basis konservatif, kondisi ekonomi, harga bahan bakar, isu imigrasi, perang di Iran, serta kemampuan kandidat lokal menarik pemilih independen akan menjadi faktor penting.
Demokrat saat ini menunjukkan momentum yang lebih kuat dan berada dalam posisi yang semakin baik untuk merebut DPR, sementara persaingan untuk Senat masih jauh lebih ketat.
Jika tren survei dan hasil special election terus bertahan hingga November, pemilu sela 2026 berpotensi menjadi pukulan politik besar bagi Partai Republik dan pemerintahan Trump.(*)
BACA JUGA: Hanya 35% Warga AS Dukung Perang Iran, Popularitas Trump Terancam Jelang Pemilu Sela






