Danantara Memasuki Ekosistem GoTo Demi Kedaulatan Digital dan Kesejahteraan Mitra

Danantara mulai masuk ke ekosistem perusahaan digital dan layanan. Di GoTo ada beberapa aspek yang jadi pertimbangan. Berapa persen Danantara beli saham?
WWW.JERNIH.CO – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) secara resmi mengonfirmasi masuknya mereka sebagai pemegang saham di raksasa teknologi tanah air, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO). Langkah ini menandai babak baru keterlibatan lembaga pengelola investasi negara dalam memperkuat ekosistem strategis yang menyentuh jutaan masyarakat.
Keputusan Danantara untuk berinvestasi di GoTo bukan sekadar motif profit semata, melainkan didorong oleh visi strategis nasional. Investasi ini sejalan dengan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 27 Tahun 2026 yang bertujuan menurunkan potongan komisi (aplikator) bagi pengemudi ojek daring. Dengan menjadi pemegang saham, pemerintah melalui Danantara memiliki suara dalam memastikan kebijakan bagi hasil yang lebih adil bagi para mitra.
Manajemen GoTo baru saja mencatatkan kinerja positif dengan EBITDA grup yang tumbuh signifikan pada Kuartal I 2026. Sebelumnya sempat babak belur. Investasi Danantara menjadi validasi atas kepercayaan pemerintah terhadap prospek jangka panjang dan keberlanjutan bisnis GoTo.
Alasan lainya sebagai “super app” yang menguasai data mobilitas dan transaksi, kehadiran Danantara memastikan adanya kontrol atau setidaknya kehadiran negara dalam aset digital yang bersifat strategis nasional.
Berdasarkan keterbukaan informasi yang disampaikan oleh Sekretaris Perusahaan GoTo pada 5 Mei 2026, Danantara melakukan pembelian saham melalui pasar sekunder (Bursa Efek Indonesia).
Saat ini, porsi kepemilikan Danantara tercatat kurang dari 1% dari total saham yang diterbitkan. Meskipun porsinya secara persentase terlihat kecil, CEO Danantara, Rosan Roeslani, menyatakan bahwa ini adalah langkah awal. Pemerintah berencana untuk meningkatkan porsi kepemilikan secara bertahap hingga mencapai target yang telah ditentukan, dengan rumor pasar yang menyebutkan target hingga 10% di masa depan.
Masuknya Danantara memperkaya struktur pemegang saham GoTo yang selama ini didominasi oleh investor institusi global dan perusahaan telekomunikasi besar.
Struktur kepemilikan GoTo bersifat dinamis namun tetap terkendali melalui skema Saham Dengan Hak Suara Spesial (SDHS). Secara umum, struktur pemegang saham GoTo terdiri dari;
Pemegang Saham Seri B (SDHS): Para pendiri dan manajemen kunci yang memegang kendali suara meski porsi saham secara ekonomi lebih kecil.
Investor Institusi Mayoritas: Termasuk di antaranya adalah SVF GT Subco (SoftBank), Alibaba Group (Taobao China Holding), dan PT Telkomsel Ekosistem Digital.
Publik dan Investor Baru: Meliputi masyarakat umum dan kini termasuk Danantara sebagai representasi lembaga investasi negara.
Kehadiran Danantara di dalam struktur GoTo diharapkan dapat menciptakan stabilitas pada harga saham GOTO yang sempat fluktuatif. Selain itu, kolaborasi ini diharapkan mampu mendorong efisiensi layanan melalui integrasi kecerdasan buatan (AI) yang sedang dikembangkan GoTo, sekaligus memastikan perusahaan tetap beroperasi sesuai dengan tata kelola (GCG) yang baik demi kepentingan ekonomi nasional.(*)
BACA JUGA: Ray Dalio, Danantara, dan Pertaruhan Masa Depan Investasi Indonesia






