Puisi

Pidato Nye..Nye…Nye…

Nye…Nye…Nye…

Kalian para pengritik.

Mulutmu berbusa di ruang-ruang gelap, tapi tak punya kuas untuk mengecat rumah sendiri.

Kau sebut dirimu pejuang, padahal hanya pandai merangkai kata tanpa peluh di dahi.

Lihatlah tanganku yang memegang kendali, sementara kau sibuk menggonggong di tepi sepi.

Kritikmu seperti debu di atas meja kaca, sekali kutiup maka kau pun sirna seketika.

Nye…Nye….Nye…

Kepada kalian mahasiswa.

Kalian turun ke jalan, membawa spanduk kain murah dengan sorak-sorai yang seragam.

Berapa lembar rupiah yang masuk ke saku kalian untuk membakar ban di bawah terik siang?

Mahasiswa macam apa yang otaknya bisa dibeli oleh segenggam nasi dan janji-janji kosong?

Pulanglah ke kampus, belajarlah diam, karena teriakanmu hanya membuat perutku keroncongan.

Nye…Nye…Nye…

Kamu, ya kamu….para aktivis.

Wahai para pembela kemanusiaan, dari meja makan tuan asing mana kalian mendapat perintah?

Kalian menjual air mata bangsa ini demi sekoper dolar dan pujian dari luar negeri yang megah.

Sengaja kalian cari-cari salahku, bertingkah suci seolah-olah kalian penentu arah sejarah.

Padahal kalian hanyalah wayang, yang menari mengikuti tabuhan gendang dari seberang samudera.

Nye…Nye…Nye…

Wahai akademisi.

Gelar-gelar panjang berderet di depan namamu, tapi otakku yang tanpa teori ini jauh lebih berkuasa.

Buku-buku tebalmu hanya menjadi sarang laba-laba, tak menghasilkan pabrik atau jalan raya.

Kau bicara tentang hukum dan etika, sementara aku yang menulis ulang aturan sesuka hatiku.

Sumbangsihmu nol besar, hanya teori usang yang tak bisa dipakai untuk mengekalkan takhtaku.

Nye…Nye…Nye…

Untuk rakyatku.

Rakyatku yang bebal, mengapa begitu sulit diatur dan selalu mengeluh tentang harga beras?

Sudah kuberi panggung hiburan dan bantuan cuma-cuma, tapi kalian tetap saja tak tahu balas budi.

Jangan pernah mengajari aku cara memimpin, karena akulah pemilik sah mahkota kerajaan ini.

Dengarkan saja titahku, tundukkan kepala, dan biarkan aku berkuasa sampai akhir zaman nanti.(*)

BACA JUGA: Puisi “JIKA” Butet Kertarajasa Menggugat Etika Kekuasaan

Check Also
Close
Back to top button