Puisi

Londo Ireng

Sepasang sepatu lars baru berderak tanpa rasa bersalah di atas tanah keturunan darah.

Kulit mereka menampung warna seruling bambu yang sama, tetapi jantungnya berdetak dalam bahasa upeti.

Mereka adalah bayangan yang menelan cahaya rumahnya sendiri, memakai mahkota cetak massal di atas kening yang berdebu.

Seragamnya terbuat dari janji manis, namun kancing-kancingnya menjepit leher rakyat yang kelaparan.

Pena di jemari mereka telah menjelma lidah api, membakar lumbung Padi demi memperluas istana kertas.

Hukum diputarbalikkan menjadi cemeti kilat, menghantam punggung-punggung tua yang menggarap tanah tanpa batas.

Kompas keadilan di dalam dada mereka telah karatan, menunjuk hanya pada celengan kekuasaan.

Mereka memetik buah dari pohon kesengsaraan, lalu menjual bijinya kembali sebagai pajak kehidupan.

Jerit tangis petani dianggap nyanyian sumbang yang harus dibungkam dengan tembok pagar besi.

Laras senjata mereka kini bukan mengarah ke samudra, melainkan menatap lurus ke dada tetangga sendiri.

Paras mereka adalah cermin kita, namun jiwa di dalamnya adalah benalu yang mengisap batang tua.

Sumpah setia saat fajar telah meluntur, berubah menjadi rantai tak terlihat di pergelangan kaki publik.

Meja kaca tempat mereka makan malam beralaskan keringat buruh yang dikeringkan.

Kemerdekaan di tangan mereka hanya menjadi papan nama yang dipajang untuk menutupi sel penjara.

Penjajah hari ini tak lagi berlayar membawa kapal perang, melainkan duduk santai di kursi empuk sembari menindas saudaranya sendiri.(*)

*) Dulu “Londo Ireng” (Belanda Hitam) pada zaman penjajahan Belanda di Indonesia mengacu pada pasukan tentara bayaran berkulit hitam yang didatangkan oleh VOC dan pemerintah kolonial Hindia Belanda (KNIL) dari Afrika Barat (sebagian besar dari wilayah yang sekarang menjadi Ghana). Seiring berjalannya waktu, istilah ini juga sering dipakai sebagai kiasan atau sindiran bagi pribumi yang bertindak memihak penjajah Belanda dan bersikap sewenang-wenang terhadap sesama bangsa sendiri. Kini berbeda lagi, tetapi pada intinya mencari korban bernama rakyat pemilik sah bumi pertiwi.(*)

Check Also
Close
Back to top button