Puisi

Upeti Hari Jumat

Mereka diperas. Mereka diperah. Demi rupiah, oknum petinggi sekelas dirjen menumpuk setoran saban Jumat.

Langkah kaki asing datang membawa sejuta harapan,

Namun mereka tak tahu sedang berjalan menuju jebakan.

Di meja kaca, paspor ditahan tanpa alasan yang pasti,

Hanya ada bisikan lirih meminta uang pelicin segera diisi.

Undang-undang sengaja ditekuk menjadi pasal karet yang lentur,

Demi menjerat mangsa yang bingung dan terlanjur tersungkur.

Warga asing digencet habis hingga tak lagi berdaya,

Diperas keringat dan dolarnya demi perut oknum yang jaya.

Sistem dibuat berbelit, birokrasi sengaja dibuat mati,

Kecuali jika lembaran merah diserahkan dengan ikhlas hati.

Mereka dipaksa membayar pungli yang tak pernah tercatat resmi,

Menjadi santapan empuk para penguasa yang haus dan tak membumi.

Setiap lembar uang yang diperas dikumpulkan dalam senyap,

Membuat harapan para pelancong perlahan mulai lenyap.

Sebab di balik seragam gagah yang berkilau di bawah lampu,

Ada tangan gila harta yang terus mencekik tanpa rasa ragu.

Hari berganti dan kalender berputar menuju akhir pekan,

Saat di mana seluruh hasil jarahan mulai dikumpulkan.

Setoran seratus juta rupiah mengalir deras tanpa hambatan,

Masuk langsung ke kantong sang dirjen sebagai bentuk kesetiaan.

Rutinitas haram itu wajib tiba tepat pada setiap hari Jumat,

Menjadi ritual wajib para kurir yang bekerja dengan sangat hemat.

Uang haram mengalir lancar ke singgasana petinggi yang korup,

Sementara nasib para pendatang dibuat semakin redup.

Dahulu kala, Nusantara dirundung duka yang amat kelam,

Ketika bangsa asing datang menjajah siang dan malam.

Belanda, Inggris, Jepang, dan Portugal datang merebut tanah,

Membuat nenek moyang kita hidup dalam tumpahan darah.

Mereka mengeruk rempah dan memeras keringat pribumi,

Meninggalkan luka mendalam yang tertanam di bumi.

Namun roda zaman kini telah berputar secara terbalik,

Melahirkan ironi baru yang membuat hati menjadi terik.

Sekarang, keturunan para penjajah itu yang datang bertamu,

Malah menjadi korban dari keserakahan yang bertemu.

Dulu kakek-nenek mereka yang berkuasa menindas kita,

Kini giliran uang mereka yang dijajah tanpa sisa cerita.

Atas nama izin tinggal dan sejuta aturan yang dipaksakan,

Dompet mereka dikuras habis tanpa ada rasa kasihan.

Gaya kolonial kini ditiru oleh bangsa sendiri yang berkuasa,

Membuat hukum negara luluh lantak menjadi tak terasa.

Mereka diperas hanya demi memuaskan nafsu perut oknum imigrasi,

Yang menjual martabat bangsa demi tumpukan uang korupsi.

Hukum digadaikan, kehormatan negara hancur berantakan,

Hanya demi setoran Jumat yang selalu dinanti dan disembunyikan.

Andra Nuryadi

Check Also
Close
Back to top button