SolilokuiVeritas

Ada Apa di Balik Yang Tampak?

Perubahan status tahanan YCQ dari rumah tahanan menjadi tahanan rumah tidak terjadi begitu saja. Ada yang mengatur. Ada pula tujuannya. Namun, kita tidak akan pernah tahu siapa dan untuk apa. Rahasia, tentu saja.

Oleh     :  Prof.Ana Nadhya Abrar*

JERNIH– Yang tampak adalah yang nyata secara fisik. Misalnya, perubahan status penahanan mantan Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas (YCQ), dari rumah tahanan menjadi tahanan rumah sejak Kamis (19/3/2026). Konon, KPK mengabulkan pengalihan itu atas permohonan keluarga. Bukan karena kondisi kesehatan YCQ. Setelah mendapat protes dari berbagai pihak, akhirnya YCQ dikembalikan ke tahanan KPK pada 23 Maret 2026.

Ada lagi yang nyata secara fisik. Empat prajurit TNI dari Denma Bais TNI ditetapkan sebagai tersangka penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus, pada 12 Maret 2026. Tersangka berasal dari matra angkatan laut dan angkatan udara. Mereka adalah Kapten NDP, Lettu SL, Lettu BHW, dan Serda ES. Mereka diduga melanggar pasal penganiayaan berencana.

Di samping yang tampak secara nyata itu, ada yang tidak tampak secara fisik. Ia kerap disebut niskala. Perubahan status tahanan YCQ dari rumah tahanan menjadi tahanan rumah tidak terjadi begitu saja. Ada yang mengatur. Ada pula tujuannya. Namun, kita tidak akan pernah tahu siapa dan untuk apa. Rahasia, tentu saja.

Begitu juga penyebutan matra terhadap empat tersangka penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus, juga tidak terjadi begitu saja. Ada aktor inelektual. Ada pula tujuan yang jelas. Namun, kita juga tidak akan pernah tahu siapa dan untuk apa. Lagi-lagi rahasia.

Lalu bagaimana sikap kita? Apakah kita akan tetap mencari yang niskala itu? Sekalipun kita bukan seorang filsuf, kita akan terus menduga-duga. Kita akan terus mengais-ngais informasi. Kita bahkan akan menjelajah dengan cakrawala berpikir yang kita miliki. Ia terkait dengan hak asasi kita (HAM), hak untuk mengetahui (Pasal 14, Ayat 1, UU No. 39/1999 tentang Hak Asasi Manusia).

Secara praktis, sebenarnya kita berusaha mencari kebenaran. Namun, untuk memasuki kebenaran itu, kata Augustinus, kita mesti memiliki syarat terpenting, yakni cinta. Cinta kepada siapa? Cinta kepada negara.

Maka kita perlu bertanya kepada diri kita, apakah kita memang punya cinta kepada Indonesia? Kalau ya, apa indikatornya? Cinta kepada negara meliputi: (i) punya rasa kepemilikan terhadap negara, (ii) setia kepada negara, dan (iii) bertanggung jawab terhadap negara.

Bertolak dari makna cinta ini bisa disusun indikatornya, yakni, pertama, rela berkontribusi terhadap negara, seperti membayar pajak dan mematuhi hukum. Kedua, berpartisipasi dalam proses demokrasi. Ketiga, menghargai hak asasi manusia dan budaya bangsa. Keempat, siap membela negara.

Sampai di sini, tentu timbul pertanyaan, apakah rakyat awam sudah mengamalkan keempat indikator cinta negara itu dalam kehidupan sehari-hari? Kita yakin, sudah. Meskipun belum semuanya. Yang menjadi masalah justru para elit politik dan elit pengusaha kita. Kita skeptis mereka mememuhi semua indikator itu. Soalnya, mereka selalu berhitung soal kepentingan politik dan keuntungan ekonomi.

Kalau sudah begini, yang niskala itu sudah menjadi tidak niskala lagi. Sudah nyata, semuanya bertolak dari kepentingan politik dan keuntungan ekonomi. Kepentingan politik terkait dengan kekuasaan. Kelanggenggan kekuasaan. Keuntungan ekonomi terkait dengan bisnis yang sedang berjalan. Keuntungan yang lebih besar lagi.

Namun, elit politik dan elit pengusaha tentu tidak akan menerima tudingan itu begitu saja. Bukankah setiap yang niskala ada isinya? Isinya kerap merupakan rahasia. Lalu siapa yang bisa mengungkapkan rahasiswa niskala itu? Di sinilah kita berurusan dengan para intelektual. Ya, kita berharap para intelektual mampu membuka isi niskala yang bersifat rahasia. Kalau sudah terungkap, kita mohon mereka menginformasikan apa yang harus dilakukan rakyat awam.

Bukan maksudnya di sini kita ingin mengajak rakyat awam memberontak kepada negara. Hanya sekadar meyakinkan mereka tentang pendirian mereka. Kalau ini sudah diperoleh, sebenarnya para intelektual itu sedang mengajak rakyat awam untuk berfilsafat. Keren bukan? Di saat mereka gelisah menghadapi tantangan ekonomi yang masih berat, mereka dididik untuk berfilsafat sendiri. []

*Guru Besar Jurnalisme UGM

Back to top button