
Pertunjukan tak senonoh yang membuahkan reaksi negatif dari publik pada acara Rakyat Bersuara (iNews) dapat dilihat dari sisi psikologis dan konteks hiburan bernama pertunjukan debat politik di ruang publik.
WWW.JERNIH.CO – Fenomena luapan kemarahan, penggunaan kata-kata kasar, hingga pengusiran narasumber dalam sebuah acara debat televisi merupakan objek studi psikologi perilaku yang menarik.
Ketika seseorang seperti Permadi Arya aka Abu JAnda tampil dengan nada tinggi, teriakan, dan devaluasi lawan bicara menggunakan terminologi binatang, hal ini tidak terjadi dalam ruang hampa. Ada mekanisme pertahanan diri, ego, dan tekanan situasional yang bekerja secara simultan.
Dalam psikologi sosial, penggunaan kata-kata kasar atau penyebutan nama binatang kepada lawan bicara disebut sebagai dehumanisasi verbal. Menurut teori Bandura, ini adalah salah satu bentuk moral disengagement. Dengan melabeli lawan bicara sebagai sosok yang rendah (menggunakan nama binatang), seseorang secara psikologis merasa “diizinkan” untuk melepaskan norma-norma kesopanan.
Perilaku marah-marah dan berteriak di depan kamera menunjukkan adanya kegagalan dalam regulasi emosi. Secara neurologis, hal ini sering dikaitkan dengan amygdala hijack, di mana bagian otak yang memproses emosi mengambil alih fungsi prefrontal korteks (pusat logika dan kendali diri).
Dalam kondisi ini, individu tidak lagi berdebat untuk mencari kebenaran, melainkan masuk ke mode fight-or-flight untuk mempertahankan harga diri yang merasa terancam.
Abu Janda sering kali memosisikan dirinya sebagai garda terdepan kelompok tertentu. Secara psikologis, ini berkaitan dengan Social Identity Theory. Ketika seseorang merasa identitas kelompoknya atau posisinya sebagai “pembela” terancam, mereka cenderung menunjukkan agresi yang berlebihan untuk membuktikan loyalitas dan dominasi.
BACA JUGA: Pelapor Abu Janda ke Polisi, Haris Pertama, Dicopot dari Jabatan Ketua Umum KNPI
Sikap arogan yang ditampilkan bisa jadi merupakan kompensasi dari Fragile High Self-Esteem. Orang dengan jenis harga diri ini tampak sangat percaya diri dan superior di luar, namun sebenarnya sangat sensitif terhadap kritik. Ketika argumennya dipatahkan dalam debat, mereka merespons dengan kemarahan (narcissistic rage) sebagai mekanisme pertahanan untuk menutupi rasa malu atau ketidakberdayaan intelektual di momen tersebut.
Melihat konteks media, kita tidak bisa mengabaikan teori Dramaturgi dari Erving Goffman. Dalam perspektif ini, Abu Janda sedang memainkan “peran” di panggung depan (front stage). Ada kemungkinan perilaku agresif tersebut adalah sebuah persona yang dikonstruksi karena audiensnya (basis pendukungnya) mengharapkan sosok yang “berani” dan “keras”.
Meski ia telah diberi “area” sendiri berupa sebuah kursi, namun lewat peran tersebut ia keluar dari wilayah tersebut. Lihat bagaimana gestur saat ia berdiri, mendekati dan menantang lawan bicara, ditambah dengan gestur tubuh yang seakan menandakan lontaran kemarahan dia yang diwujudkan dalam gerakan badan melawan.
Namun, ketika emosi tersebut meluap hingga berujung pengusiran, artinya batas antara peran teatrikal dan kontrol impuls telah runtuh. Secara psikologis, tekanan dari lampu studio, provokasi lawan bicara, dan keinginan untuk menang secara mutlak menciptakan beban kognitif yang berat, yang jika tidak dikelola dengan kematangan emosional, akan berakhir pada ledakan perilaku yang kontraproduktif.
Sifat debat televisi yang kompetitif sering kali memberi penghargaan pada “siapa yang paling keras bersuara”, bukan “siapa yang paling benar”. Lingkungan ini memperkuat perilaku impulsif. Jika seseorang berulang kali mendapatkan panggung karena kontroversi, secara psikologis terjadi proses Operant Conditioning. Perilaku kasar “dihargai” dengan popularitas atau perhatian (atensi), sehingga perilaku tersebut terus berulang meski secara sosial dianggap negatif.
Pihak broadcasting paham benar situasi tersebut. Kendati pelaku secara kemampuan ilmiah tidak setara, namun karena memiliki “suara keras” tadi, maka jadi obyek pertunjukan tersendiri. Ibarat sebuah film drama, ada protagonist ada antagonis. Dan, Abu Janda adalah antagonis yang justru menjadi magnet kuat potongan adegannya jadi memviral.
Pengusiran dari studio adalah titik nadir di mana perilaku individu telah melampaui ambang batas toleransi sosial yang berlaku dalam kontrak komunikasi publik. Secara psikologis, ini menunjukkan adanya disonansi antara persepsi diri (yang merasa benar/superior) dengan realitas sosial (yang menganggapnya melanggar norma).
Secara psikologis, penampilan agresif Permadi Arya dalam debat tersebut mencerminkan kombinasi antara lemahnya kontrol impuls, mekanisme pertahanan ego yang reaktif, dan pengaruh lingkungan media yang memvalidasi konflik.
Penggunaan kata-kata kasar bukan sekadar masalah ketiadaan tata krama, melainkan manifestasi dari kondisi psikis yang sedang berada di bawah tekanan hebat atau upaya defensif untuk mempertahankan dominasi identitas di mata publik.
Jadi bagi dunia hiburan televisi (juga banyak podcast) diperlukan peran-peran seperti ini. Itulah bumbu agar sebuah pertunjukan menghasilkan konflik.(*)
BACA JUGA: Polri Tetapkan Abu Janda Sebagai Saksi Dalam Kasus ‘Islam Agama Arogan’



