SolilokuiVeritas

Bercerminlah Pada Jejak Digital

Lalu lihatlah pula jejak digital Tito Karnavian. Ketika menjadi Kapolda Metro Jaya. Dia pernah berkata: FPI-lah ormas Islam yang sangat toleran kepada agama lain. Dia lantas memuji Habib Rizieq. Anehnya, ketika Tito Karnavian menjadi menteri dalam negeri pada pemerintahan Jokowi, dia malah menandatangani Surat Keputusan Bersama pembubaran FPI. Dia pun mendapat kritik masyarakat. Dia sudah merusak kepercayaan masyarakat.

Oleh     :  Ana Nadhya Abrar*

JERNIH–  Judul di atas bisa dialamatkan kepada diri sendiri. Namun, bisa juga dialamatkan kepada orang lain. Misalnya kepada mereka yang menjadi public figure.

Ketika ditujukan kepada diri sendiri, metafora ini berarti kita diminta melakukan refleksi dan introspeksi terhadap jejak digital (digital footprint). Jejak digital ini tersebar di media sosial, mulai face book, whatsapp messenger, x, threads, instagram, hingga bluesky. Tujuannya tentu saja untuk mempertimbangkan langkah selanjutnya demi menggapai masa depan yang cerah.

Ketika metafora itu ditujukan kepada public figure, sesungguhnya ia menjadi pengingat. Dia pernah meninggalkan jejak digital di media sosial, media online dan bahkan media interaktif. Ini bisa menjadi cermin sikap dan perilakunya dulu. Selanjutnya, dia perlu mempertimbangannya sebelum memutuskan bertindak atau bersikap.

Kalau jejak digital seorang pejabat sangat berbeda dengan sikap atau tindakannya sekarang, masyarakat akan menilai dia pembohong. Atau setidaknya, dia plin plan. Lalu dia cocok dengan idiom “esuk dele, sore tempe” dalam bahasa Jawa. Tidak konsisten.

Lihatlah jejak digital Jokowi ketika diwawancarai televisi. Dia berkata: Anak-anak saya semuanya di bisnis, gak tertarik politik. Kaesang jualan pisang goreng, Gibran jual martabak. Kini kedua anak Jokowi itu jadi politisi, ternyata. Kaesang jadi ketua umum Partai Sosialis Indonesia dan Gibran jadi wakil presiden Republik Indonesia.

Maka pernyataan Jokowi di atas tidak konsisten dengan kenyataan yang ada. Masyarakat kecewa. Mereka kehilangan kepercayaan kepadanya. 

Bila dilihat lebih jauh, sesungguhnya banyak jejak digital Jokowi yang tidak sesuai dengan kenyataan. Mulai dari jumlah investor asing yang tertarik menanamkan modalnya di Ibu Kota Nusantara (IKN). Jumlah pesan mobil Esemka produksi PT Solo Manufaktur Kreasi. Masyarakat jadi geram kepada Jokowi.

Dalam keadaan begini, delapan tokoh yang meragukan keaslian ijazah Jokowi malah ditersangkakan polisi atas pengaduan Jokowi. Bisa dibayangkan ketika mengadu ke polisi, Jokowi menyampaikan info ijazahnya asli. Masyarakat semakin geram kepada Jokowi.

Lalu lihatlah pula jejak digital Tito Karnavian. Ketika menjadi Kapolda Metro Jaya. Dia pernah berkata: FPI-lah ormas Islam yang sangat toleran kepada agama lain. Dia lantas memuji Habib Rizieq dengan mengatakan: Tapi pada kenyataannya saya paham, karena sudah lama dengan teman-teman FPI dan banyak bergaul, termasuk berdiskusi banyak dengan Imam Besar (Habib Rizieq). Beliau sangat toleran sebetulnya, dan itu mewarnai FPI.

Anehnya, ketika Tito Karnavian menjadi Menteri Dalam Negeri pada pemerintahan Jokowi, dia malah menandatangani Surat Keputusan Bersama pembubaran FPI. Dia pun mendapat kritik masyarakat. Dia sudah merusak kepercayaan masyarakat.

Kini Jokowi sudah menjadi warga negara biasa. Namun, dia masih sering berkomentar tentang berbagai hal. Kita tidak mungkin melarang dia bicara. Kita hanya bisa mengingatkan agar Jokowi bercermin pada jejak digitalnya. Paling tidak agar masyarakat tidak menghujatnya.

Namun, Tito Karvanian masih menjadi menteri dalam negeri dalam pemerintahan Prabowo Subianto. Dia punya banyak peluang untuk bicara. Dia punya hak wicara. Kita hanya bisa mengingatkan dia agar bercermin pada jejak digitalnya. Agar dia tidak seperti “baling-baling di atas bukit”, tidak punya pendirian yang tetap. Agar masyarakat respek pada dirinya.

Di balik sikap seseorang yang bercermin pada jejak digitalnya, terkandung sikap adil. Dia bersikap adil kepada orang lain yang mengetahui jejak digitalnya. Dia mengikuti apa yang sudah diketahui orang lain tentang dirinya. Dia bahkan memberikan apa yang menjadi “keinginan” orang lain itu. Ya, keadilan hanya menyangkut perlakuan terhadap orang lain. [ ]

*Gurubesar jurnalisme UGM

Back to top button