
Perkembangan manusia pun seyogianya mengikuti hukum pertumbuhan yang telah lama diajarkan pohon. Kita sering mengira bahwa bertumbuh berarti meninggalkan. Semakin tinggi seseorang atau suatu bangsa menjulang, semakin jauh ia merasa harus melepaskan akar yang membentuk dirinya. Padahal pohon mengajarkan sebaliknya.
Oleh : Yudi Latif

JERNIH–Saudaraku, pohon secara diam-diam mengajarkan kebijaksanaan hidup: semakin tinggi menjulang, semakin dalam menumbuhkan akar; semakin luas meraih cahaya, semakin kokoh memeluk bumi; semakin luhur mencapai puncak pertumbuhan, semakin luas menyebarkan daya bagi seluruh bagian.
Seluruh pertumbuhannya mengikuti hukum yang sederhana, tetapi agung. Gravitropik mengarahkan akar menghunjam ke dalam bumi; fototropik mengarahkan tajuk—batang, cabang, dan daun—menjulang menuju cahaya.
Dua gerak yang berlawanan arah, tetapi berpadu dalam satu irama kehidupan. Yang satu menjaga kesetiaan kepada asal; yang lain menumbuhkan keberanian menyongsong masa depan.
Dua arah pertumbuhan itu dilengkapi dengan dua jaringan yang tak pernah berhenti mengalir. Xilem mengangkat air dan mineral dari akar menuju pucuk, memberi daya bagi pohon untuk meninggi. Floem mengedarkan hasil fotosintesis dari daun ke seluruh bagian pohon, memastikan setiap bagian memperoleh daya untuk bertumbuh dan berbuah. Yang satu mengangkat kehidupan; yang lain mengalirkannya. Karena itulah pohon tidak hanya tumbuh tinggi, tetapi juga tumbuh utuh.
Barangkali, perkembangan manusia pun seyogianya mengikuti hukum pertumbuhan yang telah lama diajarkan pohon. Kita sering mengira bahwa bertumbuh berarti meninggalkan. Semakin tinggi seseorang atau suatu bangsa menjulang, semakin jauh ia merasa harus melepaskan akar yang membentuk dirinya. Padahal pohon mengajarkan sebaliknya.
Tidak ada daun yang tumbuh tanpa akar yang juga bertumbuh. Setiap kali tajuk meraih cahaya melalui fototropik, pada saat yang sama akar memperdalam gravitropiknya. Pertumbuhan selalu berlangsung dalam dua arah sekaligus: menuju masa depan dan kembali kepada asal. Yang tampak hanyalah batang, daun, bunga, dan buah. Padahal kehidupan dibangun oleh akar yang bekerja dalam kesunyian.
Begitu pula kebudayaan. Akar adalah metafora bagi ingatan kolektif: bahasa, nilai, etika, keyakinan, sejarah, dan kearifan yang memberi sebuah bangsa identitas serta daya hidup. Tajuk adalah metafora bagi peradaban: ilmu pengetahuan, teknologi, seni, kreativitas, dan segala ikhtiar manusia memperluas cakrawala kehidupannya.
Akar memberi kedalaman makna; tajuk memberi keluasan kemungkinan. Tetapi nilai dan pengetahuan belum dengan sendirinya melahirkan peradaban. Peradaban bertumbuh ketika keduanya dihidupkan oleh daya yang mengangkat dan daya yang menghubungkan.
Dalam kehidupan manusia, xilem adalah metafora bagi daya mengangkat kualitas diri: disiplin, ketekunan, integritas, dan keahlian yang ditempa hingga mencapai keunggulan. Melalui daya itulah manusia mampu menjulang melampaui keterbatasannya.
Sementara itu, floem adalah metafora bagi kemampuan mengintegrasikan dan mengalirkan nilai, pengetahuan, pengalaman, dan hasil karya ke seluruh sendi kehidupan. Dari kemampuan menghubungkan itulah lahir keluasan wawasan, kolaborasi, saling memperkaya, dan kemaslahatan bersama. Sebab wawasan yang luas bukanlah mengetahui segala sesuatu, melainkan memahami keterhubungan di antara banyak hal.
Keahlian melahirkan keunggulan. Wawasan mengarahkan keunggulan. Keunggulan tanpa wawasan mudah berubah menjadi keangkuhan; wawasan tanpa keahlian tinggal menjadi angan-angan.
Demikian pula bangsa. Bangsa yang maju bukan hanya melahirkan pakar-pakar yang unggul, tetapi juga mampu menghubungkan kepakaran mereka menjadi kekuatan bersama. Ia membangun manusia yang berakar dalam nilai, terbuka pada cahaya ilmu, mendalam dalam kepakaran, sekaligus luas dalam wawasan. Berkeahlian spesifik, namun mampu melihat kehidupan secara generik dan utuh.
Pohon mengetahui hukum yang sering dilupakan manusia: semakin tinggi engkau ingin menyapa langit, semakin dalam engkau harus setia kepada bumi.
Dan semakin tinggi engkau bertumbuh, semakin luas pula engkau semestinya menaungi kehidupan. Sebab cahaya saja tidak cukup. Pengetahuan memperluas pandangan, tetapi nilai menjaga arah. Kemajuan melahirkan kemampuan, tetapi kebijaksanaan menentukan tujuan. Peradaban tanpa akar budaya menjadi rapuh; budaya tanpa keberanian menjangkau cahaya berubah menjadi kenangan yang membeku.
Namun pohon tidak pernah memilih salah satunya. Akar memberi pijakan bagi tajuk untuk menjulang; tajuk meraih cahaya yang kembali menguatkan cengraman akar. Xilem mengangkat daya kehidupan, floem mengalirkannya ke seluruh tubuh. Semuanya bekerja bukan untuk saling mengungguli, melainkan untuk saling menggenapi.
Mungkin demikian pula seharusnya manusia. Biarkan nilai-nilai terus berakar semakin dalam, sementara akal dan imajinasi menjulang semakin tinggi. Asahlah keahlian hingga mencapai puncak kecakapan. Bentangkan pula wawasan agar setiap ilmu menemukan tempatnya dalam keseluruhan kehidupan. Sebab manusia tidak dipanggil hanya untuk menjadi ahli, melainkan juga menjadi arif.
Jangan memilih antara tradisi dan pembaruan, antara identitas dan keterbukaan, antara kedalaman dan keluasan. Kehidupan meminta kita memelihara semuanya dalam satu kesatuan yang hidup.
Pada akhirnya, pohon telah lama menuliskan filsafat manusia dalam senyapnya. Ia mengajarkan bahwa pertumbuhan sejati adalah perjalanan memperdalam akar jatidiri, meninggikan tajuk peradaban, menguatkan kepakaran, mengalirkan kebijaksanaan, dan memetik pencapaian yang berbuah kemaslahatan. Sebab kehidupan yang agung bukanlah kehidupan yang hanya menjulang tinggi, melainkan kehidupan yang juga merimbun, berbuah, dan menaungi. []






