
Namanya legendaris di era pendakian sekarang, pemuncak 14 atap dunia di atas 8.000 mdpl. Namun, kini semua cemas. Nirmal “Nimsdai” Purja belum ditemukan pasca salju longsor di Broad Peak.
WWW.JERNIH.CO – Gemuruh hebat memecah keheningan pegunungan es Karakoram saat dinding salju raksasa di Broad Peak runtuh tanpa ampun. Longsoran salju (avalanche) skala besar tersebut menyapu rombongan pendaki internasional yang tengah berusaha menundukkan raksasa es berketinggian 8.051 meter di atas permukaan laut tersebut.
Di antara deretan nama yang terseret dalam tragedi maut ini, tersebutlah nama Nirmal “Nims Dai” Purja—pendaki legendaris asal Nepal yang selama ini dikenal seolah tak tersentuh oleh kejamnya puncaknya-puncak dunia. Hingga kini, tim SAR gabungan militer Pakistan baru berhasil menemukan empat jenazah, sementara Nirmal Purja bersama lima pendaki lainnya masih belum diketahui nasibnya di tengah medan ekstrem yang membeku.
Petaka Kamis
Awalnya, ekspedisi musim panas ini berjalan sesuai perencanaan sejak rombongan mulai bergerak meninggalkan permukiman terakhir di Askole pada pertengahan hingga akhir Juli 2026. Setelah melewati tahap aklimatisasi yang ketat di Base Camp, tim mulai melancarkan summit push menuju puncak tertinggi ke-12 di dunia tersebut.
Namun, petaka datang tanpa peringatan pada Kamis, 30 Juli 2026, di perkiraan waktu antara pukul 09.00 hingga 12.00 siang. Saat rombongan melintasi zona berbahaya di ketinggian 6.600 hingga 7.000 meter, dinding salju mendadak runtuh. Mengutip laporan data GPS dan Alpine Club of Pakistan (ACP), hempasan salju dahsyat tersebut menyeret para pendaki hingga hampir 1.000 meter ke bawah lereng terjal, seketika memutuskan seluruh sinyal dan saluran komunikasi.

Respons darurat segera dikerahkan oleh Pemerintah Pakistan dengan memobilisasi helikopter Army Aviation serta tim penyelamat darat. Pada Jumat, 31 Juli 2026, upaya pencarian membuahkan hasil tragis saat empat jenazah ditemukan dari balik timbunan salju.
Dua di antaranya telah berhasil diidentifikasi, yakni Nadhira Ahmed Abdullah Al Harthy, pendaki perempuan asal Oman, serta Pur Bahadur Gurung, pemandu senior asal Nepal. Sementara itu, operasi pencarian terhadap enam korban tersisa—termasuk Nirmal Purja—terus diupayakan secara intensif meskipun tim di lapangan harus bertaruh nyawa melawan hempasan angin kencang dan cuaca buruk yang tak bersahabat.
Ekspedisi bernasib naas ini dipimpin langsung oleh Nirmal Purja melalui jaringan operasionalnya yang berkolaborasi dengan pemandu lokal Moving Mountains serta mitra internasional. Rombongan ini memiliki komposisi multi-nasional yang terdiri dari sepuluh pendaki berpengalaman dari lima negara berbeda.
Tim Nepal menjadi tulang punggung rombongan dengan enam pendaki, yaitu Nirmal Purja, Pur Bahadur Gurung, Kili Pemba Sherpa, Nima Sherpa, Nawang Thindu Sherpa, serta Gyalu Sherpa. Mereka mendampingi empat pendaki internasional lainnya, yakni Nadhira Ahmed Abdullah Al Harthy dari Oman, Mallory Geis dari Amerika Serikat, Wang Zhong dari China, serta Sohail Sakhi yang bertindak sebagai pemandu lokal asal Pakistan.
Broad Peak, dikenal sebagai salah satu raksasa es paling menantang di kawasan Gilgit-Baltistan, Pakistan, yang berdiri berdampingan secara megah dengan Gunung K2. Nama Broad Peak disematkan karena bentang puncaknya yang sangat lebar, mencapai lebih dari 1,5 kilometer.

Karakteristik medan gunung ini menuntut ketahanan fisik serta mental luar biasa karena mendesak para pendaki memanjat dinding-dinding es curam (ice walls) dan batuan yang rapuh. Pada musim panas periode Juni hingga Agustus, kenaikan suhu yang mendadak sering kali memicu ketidakstabilan lapisan salju tebal di Karakoram, menciptakan jebakan longsoran salju yang sewaktu-waktu siap merenggut nyawa para petualang.
14 Puncak
Sosok Nirmal Purja sendiri bukanlah nama sembarangan di kancah mountaineering global. Pria kelahiran 1983 yang juga mantan prajurit elite pasukan khusus Inggris (Special Boat Service / SBS) dan Brigade of Gurkhas ini telah mengukir sejarah sebagai sosok yang merevolusi standar pendakian ekstrem.
Dunia mengenalnya lewat Project Possible pada tahun 2019, ketika ia secara spektakuler mendaki seluruh 14 puncak gunung berukuran di atas 8.000 meter hanya dalam waktu 6 bulan 6 hari—mematahkan rekor dunia sebelumnya yang mencapai hampir 8 tahun, sebuah kisah heroik yang diabadikan dalam film dokumenter Netflix “14 Peaks: Nothing Is Impossible”.
Tak berhenti di sana, pada tahun 2021 Nirmal kembali mencetak sejarah sebagai bagian dari tim Nepal pertama yang berhasil menaklukkan puncak K2 pada musim dingin ekstrem tanpa bantuan tabung oksigen tambahan. Ia juga memegang rekor kecepatan Triple Crown usai menaklukkan Everest, Lhotse, dan Makalu berturut-turut dalam waktu kurang dari 48 jam.
Hingga pertengahan tahun 2026, sosok bergelar MBE ini terus mendedikasikan hidupnya untuk memandu ekspedisi internasional sekaligus mengangkat derajat dan martabat para Sherpa Nepal di panggung dunia. Kini, saat ketidakpastian masih menyelimuti lereng-lereng es Broad Peak, komunitas pendaki global dan pemerintah Nepal hanya bisa menahan napas seraya memanjatkan doa terbaik bagi keselamatan sang legenda.(*)
BACA JUGA: Dari Catwalk ke Atap Dunia, Nikol Kovalchuk Menaklukkan 14 Puncak






