SolilokuiVeritas

Di Poncol, Arab Dipanggil Arab, Cina Dipanggil Cina

Di zaman itu rasisme belum bernama. Di Toko Juni ada Apin, yang paling tua dan paling tenang. Ada Afa, ada Ace. Di deretan lain ada Alut, Tekming, Alyuk, Baong. Dari Bungur datang dua Abun: Satu Abun gila karena tingkahnya susah ditebak, dan satunya Abun Singapur, sekolah di sana, rapi, paling keren di antara kita semua yang ada di situ.

Oleh      :  Geisz Chalifah

JERNIH– Malam Lebaran tiba. Seperti biasa, ibu saya menyuruh mengantar ketupat dan sayur ke tetangga-tetangga—sebelah, seberang, dan sepanjang deretan rumah kami.

Sebagian besar di antara mereka keluarga Tionghoa, namun dalam tulisan ini saya memakai istilah “Cina” sesuai konteks masa itu: masa ketika becandaan sehari-hari terdengar kasar, tetapi begitulah hidup di Poncol, Senen. Blak-blakan, campur-aduk, tanpa teori keberagaman.

Saya mengantar ke Toko Yuntat, Toko Wiwi, Toko Murah, Juli, dan paling akhir, selalu ke Toko Juni. Bukan karena jauh; letaknya justru persis di seberang rumah. Tapi di situlah teman-teman saya berkumpul.

Tradisi itu berjalan saban tahun. Begitu pula saat Imlek tiba, kue keranjang selalu menumpuk di rumah. Timbal-balik yang tidak pernah dibicarakan, tidak pernah dihitung, entah sejak kapan dimulai. Mengalir begitu saja sebagai kebiasaan.

Di Toko Juni ada Apin, yang paling tua dan paling tenang. Ada Afa, ada Ace. Di deretan lain ada Alut, Tekming, Alyuk, Baong. Dari Bungur datang dua Abun: Satu Abun gila karena tingkahnya susah ditebak, dan satunya Abun Singapur, sekolah di sana, rapi, paling keren di antara kita semua yang ada di situ.

Sesampainya saya di depan Toko Juni, motor sudah berderet memenuhi trotoar. Saya masuk, menyerahkan ketupat pada ibunya Ace.

Tiba-tiba dari belakang terdengar suara keras, khas: “Eh, Arab! Ke rumah gue udah lu kirim belon?”  Itu pasti Abun gila.

Saya jawab, “Udah Akeyau. Ncek yang terima.” Orang tua Cina memang kami panggil Ncek—panggilan hormat, khas lingkungan itu. Sedangkan istilah “akeyau”? Itu hanya buat Abun, bukan untuk bapak-bapak. Gelarnya khusus, karena karakternya memang begitu: meletup, panas, tak bisa ditebak. Terlucu sekaligus paling merepotkan dari semua.

Tak lama, Ace mengajak saya ke Prinsen Park (Lokasari). Yang lain langsung mau ikut. Kecuali Abun. Dia tidak diajak.

“Kenapa gue ga boleh ikut?”

Belum sempat Ace menjawab, Alut  langsung nyeletuk, pedas: “Elu Cina gila! Dikit-dikit mau ribut. Besok Lebaran, mau bikin masalah lagi?”

Begitulah mulut kami saat itu. Hari ini mungkin dianggap rasis, tapi di dalamnya ada keakraban yang tidak bisa dijelaskan dengan teori.

Di tengah riuh, Apin yang paling matang. Dengan nada serius, ia menoleh pada saya: “Besok Lebaran. Lu mau pake mobil gue? Biar keluarga lu enak jalan.”

Saya menolak, “Nggak usah, Pin.”

Ia tersenyum kecil: “Fiat ceng it mana cukup…?”

Maksudnya Fiat 1100 di rumah. Kecil , tua, tapi satu-satunya mobil di rumah saya.

Saya jawab, “Gue naik motor. Umi sama yang laen pake mobil itu.” Mereka semua adalah teman sejak kecil—dari main galasin sampai menjelang dewasa.  Hari-hari bersama mereka membuat saya hafal hitungan Cina: nope it, noban go,  jicap, lakban, captiau poa, dsbnya.

Suatu hari, rumah itu sepi. Cuma saya dan Ace. Yang lain belum datang. Saya sudah agak besar mungkin sudah kelas tiga SMA, sudah jarang nongkrong seperti dulu.

Kami hendak pergi ke resepsi pernikahan kakaknya teman. Tiba-tiba Ncek, ayahnya Ace, memanggil saya. Tatapannya tajam, suaranya serius, sesuatu yang belum pernah saya lihat.

Ia bercerita tentang awal hidupnya: “Dulu, sebelum punya toko… kalau makan, telur bulat kita gantung. Kita makan nasi, liatin telur itu, biar nasi kayak ada rasanya. Kalau pun makan telur, satu dibagi berlima.”

Ia menceritakan betapa miskinnya ia dulu. Bagaimana ia berjuang sedikit demi sedikit. Saya terdiam. Bertahun-tahun main di situ, baru kali ini Ncek berbicara sedekat itu.

Di ujungnya ia berkata pelan, tapi tegas: “Sekolah yang bener. Dagang yang rajin. Hidup hemat. Baru nanti bisa maju.”

Nasihat yang tidak pernah ia berikan kepada teman-teman lain. Entah kenapa diberikannya pada saya. Ayahnya Apin itu orang yang pendiam dan jarang bicara.

Tiba di resepsi pernikahan. Saya lupa nama restorannya, mungkin Fukuyama di Jalan Gajah Mada. Atau apalah namanya.

Apin menarik saya ke meja makanan. Bukan untuk makan tapi untuk memberi tahu. Yang ini jangan dimakan. Yang itu jangan.Yang itu juga jangan.

Akhirnya ia tunjuk satu meja: “Nah, yang ini boleh lu makan.”

Isinya gado-gado.

Saya tanya, “Yang itu kan ikan, Pin?” Ia jawab,“Iya. Tapi digoreng pake minyak babi.” Baru saya paham.

Begitulah malam-malam di Poncol: campuran becandaan yang hari ini mungkin disebut rasis, tapi di dalamnya ada kehangatan yang nyata; kebaikan yang tidak pernah diumumkan; pertemanan yang tumbuh tanpa slogan, tanpa teori.

Hanya lewat kebiasaan kecil antar-tetangga: ketupat dari ibu saya, kue keranjang dari mereka.  Begitulah Poncol Senen. Kasar di mulut, hangat di hati. [ ]

Back to top button