SolilokuiVeritas

Gerak Mundur Peradaban

Setelah melakukan ekspedisinya di Pulau ini (1861), Wallace memujinya setinggi langit: Secara keseluruhan, Jawa mungkin merupakan pulau tropis terindah dan paling menarik di dunia. Terkenal paling subur, paling produktif dan paling padat. Jawa juga memiliki peradaban, sejarah dan peninggalan kuno yang menarik perhatian. Rakyat di Jawa hidup aman dan tentram layaknya di negara dengan pemerintahan baik di Eropa, contoh tepat bagi para moralis dan politisi yang mau memecahkan masalah tentang bagaimana manusia bisa ditata kelola dengan cara terbaik.

Oleh     :  Yudi Latif

JERNIH–Pulau Jawa bisa dikatakan sebagai barometer maju-mundurnya peradaban Indonesia. Sungguh miris mengatakan bahwa perkembangan peradaban di pulau ini bukan mengalami gerak maju, melainkan gerak mundur.

Kesan itu terlintas setelah membandingkan keadaan Pulau Jawa saat ini dengan keagungan masa lalunya yang dilukiskan Alfred Wallace dalam “The Malay Archipelago”.

Setelah melakukan ekspedisinya di Pulau ini (1861), Wallace memujinya setinggi langit: Secara keseluruhan, Jawa mungkin merupakan pulau tropis terindah dan paling menarik di dunia. Terkenal paling subur, paling produktif dan paling padat.

Jawa juga memiliki peradaban, sejarah dan peninggalan kuno yang menarik perhatian. Rakyat di Jawa hidup aman dan tentram layaknya di negara dengan pemerintahan baik di Eropa. Jawa juga contoh tepat bagi para moralis dan politisi yang mau memecahkan masalah tentang bagaimana manusia bisa ditata kelola dengan cara terbaik dalam segala kebaruan dan keragaman kondisi.

Hanya sedikit orang Inggris yang memahami keindahan peninggalan arsitektur di Jawa. Sangat disesalkan mengingat warisan arsitektur Jawa melampaui yang ada di Amerika Tengah atau bahkan India.

Kapten Baker yang meneliti reruntuhan Candi Sewu  mengatakan bahwa seumur hidupnya baru sekarang melihat contoh karya manusia yang sangat menakjubkan.

Candi Borobudur dibangun di atas sebuah bukit. Luas seluruh bangunannya adalah 620 kaki persegi dgn tinggi kurang lebih 100 kaki. Di dinding teras ada relung-relung berisi patung-patung orang sedang duduk bersila. Ukuran patung lebih besar dari tubuh manusia dan jumlahnya sekitar 400. Dua sisi dinding teras tertutup relief yang diukir pada batu keras. Relief tersebut dikerjakan sampai mencapai hampir tiga mil. Jumlah tenaga manusia dan keahlian yang dicurahkan untuk pembangunan piramid terbesar di Mesir tidak berarti bila dibandingkan dengan tenaga yang dibutuhkan untuk membangun candi penuh patung pada bukit di Pulau Jawa ini.

Apa yang tampak kini: keindahan luruh menjadi semrawut; kesuburan jadi ketandusan; daya cipta melemah; nurani redup; tata kelola kehilangan arah. Peradaban surut, sisakan puing dan ratap. (Cuplikan dari buku “Apa Jadinya Dunia Tanpa Indonesia?”). [ ]

Back to top button