
Untuk itu, bagaimana seharusnya sikap masyarakat? Menggunakan istilah Jawa, seharusnya masyarakat lego lilo terhadap Presiden Prabowo. Mereka Ikhlas dan lapang dada dengan semua kebijakan Presiden Prabowo, baik di luar maupun di dalam negeri. Mereka menerima dengan sabar semu akibat kebijakan Presiden Prabowo. Mereka tulus dan sama sekali tidak menyesal dengan apa yang terjadi pada Indonesia di era Presiden Prabowo. Sampai di sini tentu timbul pertanyaan, kapan masyarakat akan lego lilo terhadap semua kiprah Presiden Prabowo? Secara teori, tentu Presiden Prabowo tentu tahu jawabannya. Namun, bisakah dia mempraktikkannya? Wallahu a’lam.
Oleh : Prof. Ana Nadhya Abrar*
JERNIH–Hari Senin, 9 Maret 2026, harga tukar rupiah melemah sangat dalam. Satu dolar AS setara dengan Rp 17.000. Taruh kata Tunjangan Hari Raya (THR) Aparatur Sipil Negara (ASN) 2026 dari pemerintah Rp 8 juta. Jumlahnya tidak sampai 500 dolar AS. Menyakitkan!
Menyadari keadaan ini, tentu kita berpikir tentang penyebabnya. Secara praktis, kita bisa menunjuk beberapa faktor sebagai penyebab. Ada ketidakpastian stabilitas fiskal. Ada pula defisit transaksi berjalan. Ada, bahkan, penurunan prospek ekonomi Indonesia. Apa pun penyebabnya, semuanya menciptakan masalah. Apa sih masalahnya?
Yang pertama tentu saja inflasi. Melonjaknya nilai tukar dolar menjadikan barang impor mahal. Ini akan berpengaruh terhadap inflasi. Lalu biaya utang luar negeri menjadi mahal. Beban utang meningkat. Investasi asing akan melemah. Harga barang impor naik. Padahal daya beli masyarakat sudah rendah!
Sampai di sini, ingatan kita menyeruak kepada peristiwa Mei 1998. Waktu itu, nilai tukar dolar AS tidak sampai Rp 17.000. Namun, masyarakat geram. Mereka melampiaskan kegeramannya kepada pemerintah. Begitu meluas dan dalamnya kegeraman itu sehingga memaksa Presiden Soeharto berhenti.
Pada 8 Maret 2026, muncul sebuah berita yang disiarkan sindonews.com. Berita itu menyebutkan, sejumlah tokoh nasional menggelar pertemuan dengan Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla. Pertemuan itu dipicu, kata Sudirman Said, salah seorang penggagas pertemuan, oleh keprihatinan mendalam terhadap merosotnya moral pemimpin Indonesia. “Yang hilang adalah kepemimpinan intrinsik, kepemimpinan yang didasari oleh nilai-nilai luhur, seperti integritas, visi kompetensi, wisdom, dan kemampuan menggerakkan,” tambah Sudirman Said seperti dikutip sindonews.com, 8 Maret 2026.
Bercermin dari kenyataan ini, kita jadi gelisah. Apakah ini berarti kepemimpinan yang sekarang harus diganti? Beruntung muncul pernyataan Jusuf Kalla yang menganulasi ide untuk mengganti kempimpinan yang ada sekarang. Katanya: Tidak ada pembicaraan yang bertujuan mengganggu atau menjatuhkan,” seperti dikutip sindonews.com, 8 Maret 2026.
Kita lega. Namun, apakah kegelisahan kita benar-benar hilang setelah mendengar pernyataan Jusuf Kalla itu. Agaknya belum. Masih ada yang membuat kita gelisah. Salah satu contoh adalah pertemuan Presiden Prabowo dengan Ketua MUI, Ketua Muhammadiyah dan Rais Aam NU pada 5 Maret 2026. Pertemuan itu disertai dengan buka bersama. Ini diberitakan melalui instagram Presiden Prabowo seperti ini: Berbuka puasa bersama Rais Aam PBNU K.H Miftachul Akhyar, Ketua Umum MUI KH Anwar Iskandar dan Ketua Umum Muhamadiyah Prof Haedar Nashir,” tulis Prabowo dalam unggahannya itu, dikutip MUI Digital, Jumat (6/3/2026).
Melihat unggahan pernyataan yang diikuti oleh keempat gambar tokoh itu berbuka puasa bersama mengelilingi sebuah meja kecil, seorang netizen, Sigit Purnomo, berujar: glembuk jowo. Secara umum glembuk jowo terkait dengan gaya komunikasi atau filosofi bicara merendah. Untuk apa? Untuk mendapatkan keuntungan atau simpati. Ujungnya biasanya berakhir dengan enggan mengkritik.
Keempat tokoh yang berbuka puasa itu adalah orang Jawa. Mereka tentu mengerti glembuk jowo. Mereka tentu paham sekarang mereka enggan mengkritik Presiden Prabowo.
Kalau ini kelak memang terjadi, tentu ketiga tokoh Islam tersebut akan minta bawahannya untuk tidak mengritik Presiden Prabowo. Selama ini ada seorang tokoh di bawah Ketua MUI yang getol mengkritik Presiden Prabowo. Dia adalah Kiai Cholil Nafis. Dia mengkritik Board of Peace (BoP). Dia malah minta Presiden Prabowo membawa Indonesia keluar dari BoP.
Benarkah ini betul-betul akan terjadi? Entahlah! Kalau ini memang terjadi, Presiden Prabowo adalah ibarat elang yang terbang sendiri (Eagle flies alone). Terbangnya indah. Sayapnya juga indah terlihat dari bawah. Keindahan itu bisa disaksikan orang banyak. Orang akan bertepuk tangan menyaksikan keindahan itu.
Persoalannya lantas, betulkah ini yang ingin dicapai Presiden Prabowo? Tentu saja tidak. Justru dia ingin menerbangkan masyarakatnya ke tingkat yang lebih baik, sehingga indah juga dilihat komunitas internasional.
Untuk itu, bagaimana seharusnya sikap masyarakat? Menggunakan istilah Jawa, seharusnya masyarakat lego lilo terhadap Presiden Prabowo. Mereka Ikhlas dan lapang dada dengan semua kebijakan Presiden Prabowo, baik di luar maupun di dalam negeri. Mereka menerima dengan sabar semu akibat kebijakan Presiden Prabowo. Mereka tulus dan sama sekali tidak menyesal dengan apa yang terjadi pada Indonesia di era Presiden Prabowo.
Sampai di sini tentu timbul pertanyaan, kapan masyarakat akan lego lilo terhadap semua kiprah Presiden Prabowo? Secara teori, tentu Presiden Prabowo tentu tahu jawabannya. Namun, bisakah dia mempraktikkannya? Wallahu a’lam. [ ]
*Guru Besar Jurnalisme UGM






