SolilokuiVeritas

Google Pilih Vietnam untuk Produksi Smartphone Pixel

Relokasi produksi Google Pixel ke Vietnam adalah refleksi dunia baru—di mana manufaktur tidak lagi ditentukan oleh satu raksasa, tetapi oleh kombinasi biaya, stabilitas, dan geopolitik. Vietnam berhasil memposisikan diri di titik temu ketiganya.

WWW.JERNIH.CO –  Kabar mengenai pergeseran basis produksi Google Pixel ke Vietnam menjadi sinyal jelas bahwa raksasa teknologi Amerika itu mulai menata ulang strategi jangka panjangnya. Langkah Alphabet Inc. ini mencerminkan perubahan struktural: dunia manufaktur smartphone tidak lagi berpusat pada satu negara, melainkan tersebar mengikuti kalkulasi geopolitik, biaya, dan ketahanan rantai pasok.

Bagi Google, memindahkan produksi Pixel ke Vietnam adalah keputusan strategis yang menyentuh inti persaingan teknologi global—di mana kecepatan inovasi harus berjalan seiring dengan stabilitas produksi.

Keputusan Google menjauh dari China lahir dari pengalaman pahit satu dekade terakhir. Perang dagang AS–China, tarif impor yang tak menentu, serta kebijakan ekonomi Amerika Serikat pasca-2025 memaksa perusahaan teknologi besar untuk berpikir ulang. Ketergantungan berlebihan pada satu negara kini dipandang sebagai risiko sistemik.

Vietnam muncul sebagai alternatif yang rasional. Upah tenaga kerja manufaktur di Tiongkok yang telah menembus kisaran Rp104.000–Rp128.000 per jam, kini jauh di atas Vietnam yang masih berada di rentang Rp48.000–Rp64.000 per jam. Selisih ini bukan angka kecil ketika dikalikan jutaan jam produksi.

Namun faktor penentu bukan semata biaya. Vietnam menawarkan stabilitas politik relatif, hubungan dagang yang lebih “netral”, serta pengalaman panjang menangani manufaktur elektronik skala besar. Dalam dunia pascapandemi, stabilitas operasional bernilai sama pentingnya dengan efisiensi.

Perubahan paling signifikan justru terjadi pada peran Vietnam dalam ekosistem Pixel. Jika sebelumnya negara ini hanya menangani perakitan seri menengah Pixel A, mulai 2026 Google memindahkan fase New Product Introduction (NPI) ke Vietnam.

Ini berarti model flagship—Pixel, Pixel Pro, hingga Pixel Fold—akan dikembangkan dari nol di Vietnam. Mulai dari pengujian desain, validasi komponen, hingga kesiapan produksi massal. Keputusan ini menandai lonjakan kepercayaan besar: Vietnam tidak lagi sekadar “pabrik”, tetapi mitra inovasi.

Dalam industri smartphone, NPI adalah tahap paling sensitif dan mahal. Menit keterlambatan berarti jutaan dolar hilang. Fakta bahwa Google memindahkan fase ini menunjukkan Vietnam telah lulus ujian teknis dan manajerial.

Vietnam tidak menyia-nyiakan momentum. Pemerintahnya bergerak agresif menyiapkan infrastruktur kawasan industri di wilayah utara seperti Bac Ninh dan Bac Giang—wilayah strategis yang dekat dengan jalur logistik dan perbatasan China. Di saat yang sama, insentif pajak dan regulasi ramah investasi digelontorkan secara masif.

Lebih penting lagi, Vietnam menyiapkan sumber daya manusia. Universitas dan pusat pelatihan diarahkan untuk menghasilkan insinyur manufaktur berstandar global. Ini sejalan dengan ambisi nasional: bertransformasi dari pusat tekstil menjadi hub teknologi tinggi Asia Tenggara.

Google bukan pelopor. Samsung telah lebih dari satu dekade memproduksi hampir 50% smartphone globalnya di Vietnam. Apple dan Xiaomi menyusul dengan memindahkan sebagian besar produksi iPhone, iPad, dan ponsel mereka ke negara yang sama.

Dengan kata lain, Google hanya mengonfirmasi tren yang sudah matang: Vietnam kini menjadi simpul penting manufaktur teknologi dunia.

Meski perakitan dan pengembangan dilakukan di Vietnam, realitasnya sekitar 70–80% komponen kelas atas—chipset, layar OLED, sensor kamera—masih berasal dari China dan Korea Selatan. Namun vendor lokal Vietnam tumbuh cepat untuk memasok baterai, kabel, casing, dan kemasan.

Secara geografis, Vietnam unggul sebagai hub ekspor. Jalur lautnya efisien untuk mengirim produk ke Amerika Serikat dan Eropa, membuat waktu distribusi relatif kompetitif.

Keputusan ini juga didukung kinerja penjualan Pixel yang sedang naik daun. Pada September 2025, Pixel mencatat rekor penjualan bulanan tertinggi di AS, tumbuh 28% secara tahunan. Integrasi AI Gemini menjadi pendorong utama lonjakan permintaan.

Alphabet sendiri melaporkan pendapatan kuartal III 2025 sebesar Rp1.400 triliun yang melampaui ekspektasi analis. Dengan skala sebesar itu, penghematan biaya produksi beberapa persen saja berarti puluhan triliun rupiah.

Dalam perbandingan langsung, Vietnam unggul telak di biaya tenaga kerja dan tarif perdagangan—penghematan bisa mencapai 50–70%. Tarif impor ke AS dari Vietnam juga jauh lebih ringan dibandingkan China yang masih terkena dampak sanksi dagang.

Namun China tetap unggul dalam kecepatan dan kedalaman ekosistem komponen. “Speed-to-market” mereka masih sulit disaingi, setidaknya dalam jangka pendek.

Google tidak setengah-setengah. Mereka menjajaki pembangunan pusat data hyperscale senilai Rp4,8–10,4 triliun di sekitar Ho Chi Minh City—investasi pusat data pertama dari perusahaan teknologi besar AS di Vietnam.

Selain itu, Google mengucurkan dana pelatihan dan peralatan NPI bernilai jutaan dolar, serta memberikan hibah sekitar Rp24 miliar untuk riset AI melalui Fulbright University Vietnam. Target besarnya adalah memperkuat ekonomi digital Vietnam yang diproyeksikan mencapai Rp800 triliun pada 2025/2026.

Meski prospeknya cerah, Vietnam belum sempurna. Ketergantungan pada impor komponen inti masih tinggi, dan infrastruktur logistik belum seefisien pelabuhan Shenzhen atau Shanghai. Kemacetan pelabuhan dan jalan raya masih menjadi pekerjaan rumah besar.

Namun arah perubahannya jelas: Vietnam bergerak naik kelas.(*)

BACA JUGA: Apple Gandeng Google Gemini untuk Transformasi Besar Siri

Back to top button