
Kita menyaksikan kasus-kasus korupsi yang melibatkan pejabat publik terus bermunculan. Kita melihat pemimpin yang gagal memberi teladan, tetapi tetap menuntut loyalitas. Kita menyaksikan organisasi yang penuh slogan integritas, tetapi miskin konsistensi. Ketika pemimpin tersandera kepentingan pribadi, relasi bisnis, atau kalkulasi politik, ia kehilangan kebebasan untuk bersikap tegas. Di titik itu, jabatan bukan lagi amanah—melainkan sandera. Pemimpin yang tersandera tidak mungkin bisa menjadi teladan.
Oleh : Priatna Agus Setiawan*

JERNIH–Jabatan seharusnya amanah. Tetapi hari ini, terlalu sering ia berubah menjadi panggung kekuasaan.
Dalam beberapa waktu terakhir, publik disuguhi berita yang membuat dahi berkerut: pejabat terseret korupsi, kepala dinas mundur beruntun, birokrasi tersandera tekanan, dan pemimpin yang lebih sibuk menjaga citra daripada menjaga integritas. Ini bukan lagi sekadar dinamika politik. Ini adalah sinyal krisis kepemimpinan.
Di Sumatera Utara, misalnya, belum genap setahun kepemimpinan berjalan, enam pejabat strategis memilih mundur. Pengamat menyebut fenomena itu sebagai gangguan serius dalam ekosistem kepemimpinan. Jika pejabat teknis merasa tertekan atau hanya dijadikan “stempel anggaran”, maka yang bermasalah bukan sekadar individu—melainkan desain kepemimpinannya.
Birokrasi yang sehat membuat pejabat fokus bekerja. Birokrasi yang sakit membuat pejabat sibuk menyelamatkan diri. Dan ketika para profesional lebih memilih mundur daripada bertahan, itu bukan tanda stabilitas. Itu alarm.
Kuasa yang Kehilangan Makna
Jabatan bukan mahkota. Ia beban tanggung jawab. Namun banyak pemimpin terjebak pada ilusi kekuasaan. Jabatan dipahami sebagai simbol superioritas, bukan sebagai kewajiban moral. Akibatnya, keputusan diambil bukan demi kepentingan organisasi atau rakyat, melainkan demi lingkaran sempit yang mengelilingi kekuasaan.
Kita menyaksikan kasus-kasus korupsi yang melibatkan pejabat publik terus bermunculan. Kita melihat pemimpin yang gagal memberi teladan, tetapi tetap menuntut loyalitas. Kita menyaksikan organisasi yang penuh slogan integritas, tetapi miskin konsistensi.
Ketika pemimpin tersandera kepentingan pribadi, relasi bisnis, atau kalkulasi politik, ia kehilangan kebebasan untuk bersikap tegas. Di titik itu, jabatan bukan lagi amanah—melainkan sandera. Dan pemimpin yang tersandera tidak mungkin menjadi teladan.
Teladan yang Menghilang
Kepemimpinan sejati bekerja melalui contoh, bukan ancaman. Tetapi hari ini, kita lebih sering mendengar instruksi keras daripada melihat keteladanan nyata.
Sri Sultan Hamengku Buwono X pernah menegaskan bahwa kepemimpinan adalah laku pengabdian, bukan hak Istimewa. Pemimpin hadir untuk melayani, bukan dilayani. Tetapi apakah praktiknya demikian?
Generasi muda kini tidak lagi mudah terpesona oleh jabatan. Laporan global seperti Youth Pulse 2026 menunjukkan bahwa legitimasi kepemimpinan lahir dari integritas, transparansi, dan dampak nyata—bukan dari posisi formal. Mereka tidak lagi bertanya, “Anda menjabat apa?” Mereka bertanya, “Anda melakukan apa?” Ini perubahan besar. Dan sebagian pemimpin tampak belum menyadarinya.
Pengawasan yang Longgar, Penyimpangan yang Subur
Setiap kali kasus korupsi terungkap, kita mendengar kalimat yang sama: “akan dievaluasi”, “akan diperketat”, “akan ditindak tegas”. Tetapi pertanyaannya, mengapa pengawasan baru bergerak setelah kasus meledak?
Masalah kepemimpinan bukan sekadar soal niat baik. Ia soal sistem. Tanpa audit yang kuat, tanpa transparansi anggaran, tanpa perlindungan bagi pelapor, kepemimpinan berubah menjadi ruang abu-abu. Dan di ruang abu-abu itulah penyimpangan tumbuh.
Lebih parah lagi, ketika bawahan melihat atasan tidak konsisten, mereka belajar satu hal: integritas tidak menentukan karier. Kedekatanlah yang menentukan. Di titik itu, organisasi berhenti bergerak maju. Ia hanya bertahan.
Kepemimpinan Tanpa Keberanian
Masalah terbesar bukan pada pemimpin yang salah. Masalah terbesar adalah pada pemimpin yang tahu ada yang salah, tetapi memilih diam. Kepemimpinan membutuhkan keberanian—berani menolak tekanan, berani menegur lingkaran sendiri, berani membenahi sistem meski tidak populer.
Tetapi keberanian semacam itu mahal. Ia menuntut integritas yang tidak bisa dibeli dengan jabatan. Ketika jabatan dijadikan alat kompromi, maka keputusan menjadi transaksional. Kebijakan tidak lagi berbasis kepentingan publik, melainkan kalkulasi politik jangka pendek. Dan ketika kepemimpinan kehilangan keberanian, organisasi kehilangan arah.
Dari Figur ke Dampak
Kita hidup di era ketika kepemimpinan tidak lagi diukur dari seberapa keras pidato disampaikan, tetapi dari seberapa nyata dampaknya dirasakan. Masyarakat semakin kritis. Media sosial mempercepat transparansi. Generasi muda tidak segan mempertanyakan legitimasi.
Jika jabatan tidak menghasilkan perubahan nyata, ia akan kehilangan wibawa. Ini bukan ancaman. Ini konsekuensi.
Mengembalikan Amanah
Lalu apa yang harus dilakukan? Pertama, pemimpin harus membebaskan diri dari sandera kepentingan. Tanpa kebebasan moral, tidak ada keputusan yang benar-benar independen.
Kedua, sistem promosi jabatan harus berbasis kompetensi dan integritas. Jika lingkaran kekuasaan lebih menentukan daripada kinerja, krisis hanya soal waktu.
Ketiga, pengawasan internal harus menjadi budaya, bukan formalitas. Transparansi bukan ancaman, melainkan perlindungan. Keempat, pemimpin harus memberi teladan sebelum menuntut loyalitas. Integritas tidak bisa didelegasikan. Terakhir, keberanian harus kembali menjadi inti kepemimpinan. Tanpa itu, jabatan hanya akan menjadi kursi empuk yang rapuh.
Pertanyaan untuk Para Pemimpin
Bangsa ini tidak kekurangan orang pintar. Yang langka adalah pemimpin yang memaknai jabatan sebagai amanah. Ketika jabatan dipakai untuk melayani, organisasi bergerak. Ketika jabatan dipakai untuk melindungi kepentingan sempit, organisasi membusuk.
Pertanyaannya bukan lagi apakah kita memiliki pemimpin. Pertanyaannya: apakah kita memiliki pemimpin yang berani memimpin? Karena ketika jabatan bukan lagi amanah, maka ia bukan hanya kehilangan makna—ia kehilangan legitimasi. Dan legitimasi yang hilang, sulit dipulihkan hanya dengan pidato. [ ]
*Management Guru






