Solilokui

Mentalitas Penjilat

Muncullah sindiran getir tentang dampak akibat kondisi situasi masa itu. Yaitu yang bertengkar “Pa Karno dengan Pa Karto”, yang menanggung bencana adalah “Mang Karna jeung Mang Karta” (sebagai tipikal warga pedesaan Tatar Sunda).

Oleh  :  Usep Romli HM

Sikap perilaku “ingin terpakai” sudah mendarah-mendaging dalam diri setiap manusia. Terutama dalam hubungan “bawahan” dengan “atasan”. Baik dalam hirarki resmi pangkat, jabatan, dan kedudukan, maupun tidak resmi dalam hubungan sosial yang longgar.

Usep Romli HM

Berbagai cara dilakukan agar senantiasa mendapat penilaian bagus. Termasuk cara-cara kasar, tidak elok dan menimbulkan kebencian pada orang lain. Ada sebuah nyanyian anak-anak Sunda tempo dulu, berjudul “Ayang-Ayang Gung”. Di situ dikisahkan seorang “menak” (bangsawan) bernama Ki Mastanu, seorang Wedana. Karena ingin terpakai, demi pangkat dan jabatan, mejalin hubungan akrab dengan pihak penjajah. Ia akrab dengan “Kumpeni”. Sehingga besar kepala. Perbuatannya menimbulkan rasa resah dan sebal) masyarakat, karena semata-mata ingin mendapatkan akses ke jabatan lebih tinggi. Agar mulus lancar ke pusat kekuasaan di Betawi, sekalipun dengan menjilat ke atas, menendang ke bawah.

Watak dan sifat Ki Mastanu—walau pun mungkin hanya tokoh fiktif, tak mustahil terwariskan pada generasi-generasi selanjutnya. Hingga saat ini.      

Sastrawan Sunda modern, Ahmad Bakri (1914-1986) berhasil merefleksikan sifat watak Ki Mastanu dalam  menjadi sebuah ceritera pendek sarkastis, berjudul “Dokumen” (dimuat dalam kumpulan cerita pendek “Dukun Lepus”, PT Kiblat Buku Utama, Bandung, 2002). Di situ ada tokoh Hadim, komandan Organisasi Keamanan Desa (OKD) pada masa pedesaan Sunda dilanda kesengsaraan menyedihkan  akibat gangguan gerombolan pengacau DI/TII (1949-1962).

Hadim yang merasa mendapat kepercayan menjaga keamanan desa, ingin mendapat pujian dari atasannya, Pa Sersan. Karena ia dan anak buahnya menggiring seluruh penduduk Desa Karangsari, dengan tuduhan mendukung pihak DI/TII. Pada masa itu, terkenal istilah “kongres”. Singkatan dari “ka tukang nyokong, ka hareup beres”. Kepada pihak gerombolan memberi bantuan ala kadarnya berupa beras, ternak dan bahan makanan lain, sebagai jaminan agar kampung mereka tidak diganggu. Kepada pihak tentara, yang memusuhi dan dimusuhi DI/TII juga memberi sokongan berupa apa saja yang diperlukan. Yang penting warga kampung dan desa terlindungi. Tidak “ditawan” di markas, karena dicurigai bersekongkol dengan musuh.

Komandan OKD Hadim tidak kenal kompromi. Walau akhirnya ia dimarahi Pak Kuwu (Kepala Desa) dan ditonjok wajahnya oleh polisi desa hingga terkapar tak berdaya. Tapi ia sudah berhasil menunjukkan prestasi setia kepada atasan dengan mengorbankan penduduk kampung. Padahal Pak Sersan sendiri pasti tidak tahu menahu dan pasti tidak akan merestui kelakuan Hadim, karena pada hari itu ia sedang pergi jauh untuk urusan keluarga.

Pada suasana “chaos” akibat gangguan keamanan yang melanda Jawa Barat (1949-1962), sangat memungkinkan kemunculan tokoh-tokoh kontroversial menyebalkan model Ki Mastanu dan Komandan Hadim. Banyak peluang terbuka ke arah itu.

Bentrokan bersenjata berkepanjangan antara TNI di satu pihak, dan gerombolan pengacau DI/TII di pihak lain, membuat banyak pihak amat menderita. Terutama rakyat kecil yang tidak tahu apa-apa. Tidak tahu politik, tidak tahu ideologi. Menjalankan agama (Islam) sebatas ketentuan rukun iman, rukun Islam, ahlak mulia, dan muamalah (hubungan sosial kemasyarakatan) yang akrab penuh silaturahim .

Tapi ternyata ada saja orang, kelompok atau pihak yang diam-diam memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. “Lauk buruk milu mijah”. Rakyat Tatar Sunda yang mengharapkan hidup “tiis ceuli herang mata” (aman tenteram) terpaksa harus menelan derita pahit pertarungan dua tokoh nasional, Presiden RI Soekarno, dengan Panglima DI/TII Kartosoewiryo.

Maka muncullah sindiran getir tentang dampak akibat kondisi situasi masa itu. Yaitu yang bertengkar “Pa Karno dengan Pa Karto”, yang menanggung bencana adalah “Mang Karna jeung Mang Karta” (sebagai tipikal warga pedesaan Tatar Sunda).

Yang lebih parah, adalah lahirnya generasi “Ki Mastanu”. Semacam Komandan OKD Hadim versi Ahmad Bakri, dan Hadim-Hadim lain yang pasti ada di setiap pelosok kehidupan, hingga saat ini. [  ]

Back to top button