Solilokui

“Percikan Agama Cinta”: Kala Soekarno Perlu Sowan Kepada Pendiri Sumatera Thawalib

Cermatilah cerita itu, saudaraku. Pesannya mendalam: betapa besar peran ulama dalam riwayat Indonesia. Bercermin pada mereka—juga para cendekiawan Muslim kontemporer seperti Cak Nur. Islam di negeri ini lahir dan tegak di garis tengah: menyatu dengan bangsa, melekat dengan umat

JERNIH–Saudaraku,

Negeriku ini tercatat sejarah dengan tinta emas. Bayangkan. Sekadar contoh. Semasa Republik Indonesia belum berdiri. Kala itu ada Sumatera Thawalib. Sekolah Islam modern pertama di Indonesia. Masih tegak sampai sekarang. Sejak dibangun pada 15 Januari 1919. Dari hasil pertemuan antara pelajar Sumatera Thawalib (Padang Panjang) dengan pelajar Parabek.

Deden Ridwan

Pendirinya ialah Syaikh Abbas, Abdullah Ahmad dan beberapa ulama lain. Lantas Syaikh Abbas membidani juga kelahiran Perguruan Darul Funun el Abbasiyah (DFA) di Puncakbakuang, Padang Japang, bersama Syaikh Mustafa Abdullah.

Kebesaran kedua Syaikh yang bersaudara ini membuat Bung Karno merasa perlu sowan setelah terbebas jadi orang interniran. Beliau berdua merupakan murid ulama Minangkabau terkemuka di Makkah, Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi—yang juga berkawan dekat dengan Syaikh Abdul Karim Amarullah atau Inyiak Rasul.

Kedatangan Soekarno ke DFA bertujuan untuk membicarakan konsep dasar dan penyelenggaraan negara. Persisnya, Syaikh Abbas menyarankan bahwa negara yang hendak didirikan harus berdasar ketuhanan. Soekarno mengangguk. Tanda mengamini. Setuju.

Cermatilah cerita itu, saudaraku. Pesannya mendalam: betapa besar peran ulama dalam riwayat Indonesia. Bercermin pada mereka—juga para cendekiawan Muslim kontemporer seperti Cak Nur. Islam di negeri ini lahir dan tegak di garis tengah: menyatu dengan bangsa, melekat dengan umat. Terang-berderang. Jangan pertentangkan keduanya. Pun urusan hubungan Islam dan negara ini sungguh sudah selesai sejak kuda gigit besi.  Bergeraklah ke depan.

Ketahuilah. Islam di negeri ini bisa mewujud secara bebas; bahkan sekarang pun! Ribuan sekolah Islam berdiri. Pesantren-pesantren betebaran di mana-mana. Masjid-masjid berjejer di seluruh ufuk negeri. Ya, apa pun yang bernuansa Islam bisa hadir di tanah ini. Umat merayakan ekspresi keagamaannya dengan gembira. Hidup berdampingan satu-sama lain tanpa sekat-sekat kultural dan agama, penuh makna. Asyiik-masyuk dalam keragaman.

Sadarlah. Wahai para demagog Islam, janganlah pecah-belah umat dengan kata-kata kotor, olok-olok, penuh kebencian. Ungkapan-ungkapan kriminalisasi ulama dan sejenisnya disertai teriakan takbir, sangat menyesatkan. Itu terlalu politis: umat bikin resah. Bertentangan pula dengan fakta dan akal sehat. Jangan bawa-bawa agama ke ranah politik-praktis karena politik itu “kotor”.

Kembalilah berdakwah dengan santun, sesuai tuntutan al-Quran sebagaimana dicontohkan baginda Muhammad Saw. Jadilah guru yang bijak: kebanggaan sekaligus panutan umat. Benar, umat harus bangkit. Membangun barisan, bukan kerumunan, tanpa keretakan. Karena jika terjadi perpecahan, bangsa ini akan hancur-lebur. [Deden Ridwan]

Back to top button