Solilokui

Percikan Agama Cinta: Pembelajaran Manusiawi

Belajar adalah cara manusia mengenali diri dan sekitarnya. Bukan hanya soal catat-mencatat. Menerangkan dan diterangkan. Anak didik di sekolah, harus juga dikenalkan pada beragam cara menggali ilmu dan kearifan. Belajar sambil bercanda, juga ampuh demi menanamkan nilai indah kehidupan pada mereka.

Jernih– Saudaraku,

Tengoklah kondisi hari ini. Anak-anak sekolah mulai kehilangan keceriaan belajarnya. Dalam pikiran mereka barangkali hanya tersisa tugas demi tugas. Berjubelan sampai di rumah.

Sementara orangtua hanya tahu nilai mereka harus berangka delapan sampai sepuluh. Rapotnya tak boleh “kebakaran.” 

Raut wajah mereka suntuk. Tegang melulu. Kasihan. Wajar bila beberapa di antara mereka mencari pelampiasan di jalanan, narkotika, seks bebas. Hidupnya tuna-makna. Pun bersumbu pendek. Padahal merekalah pelanjut tongkat estafet hidup berikutnya.

Ketahuilah.  Belajar di sekolah kerap menjadi rutinitas harian menjemukan. Para guru perlu mencari cara untuk membuat pelajaran tetap menyenangkan. Buku pelajaran tak selamanya bisa dijadikan acuan. Lembar catatan pun kadang tak dibaca ulang oleh para pelajar saat mereka tiba di kediaman.

Sadarlah. Belajar adalah cara manusia mengenali diri dan sekitarnya. Bukan hanya soal catat-mencatat. Menerangkan dan diterangkan.

Anak didik di sekolah, harus juga dikenalkan pada beragam cara menggali ilmu dan kearifan. Belajar sambil bercanda, juga ampuh demi menanamkan nilai indah kehidupan pada mereka.

Toh pada ghalibnya, hidup hanya sementara. Namun justru karena hidup itu sesaat, engkau mesti meninggalkan jejak  karya berarti bagi anak negeri. Namamu suatu ketika boleh lenyap ditelan bumi. Cuma jejakmu tetap abadi: terus berbicara menemui ruang-waktu. Tersenyum.

Selamilah.  Mari menciptakan tradisi belajar manusiawi. Menyenangkan. Mencerdaskan. Membahagiakan. Beralaskan makna dan karakter.

Belajar bukan sekadar memanfaatkan teknologi digital sebagai alat pembelajaran jarak-jauh, tapi juga mengembalikan ruh pendidikan menjadi wahana memuliakan sesama manusia melalui pembumian karakter yang sarat makna.

Sadarlah. Anak-anak negeri tak cukup dibekali dengan pelbagai ilmu. Lebih dari itu, mereka perlu diajarkan tentang hidup toleran. Ya, memaknai hidup dengan ceria, antusias, dan kemerdekaan ide berbasiskan kasih-sayang. Mereka harus mampu menaklukan dunia sekaligus melayaninya.

Sepakat. Kiprah para pegiat pendidikan harus berada di barisan terdepan  ( avant-garde) dalam melahirkan anak-anak manusia  yang mampu memaknai hidup sesuai potensi dan keunikan dirinya masing-masing.

Benar, manusia lahir ke dunia ini dengan potensi kebahagiaan luar biasa. Maka tugas mulia seorang pendidik, membantu mereka menemukan potensinya itu supaya bisa hidup bermakna dan bahagia: saling meyakini sekaligus menghargai. Demi menjadi Indonesia! [  ]

Back to top button