
Pranata mangsa berbicara tentang kapan tanah harus diolah, benih ditebar, kapan air akan sulit didapat, kapan hama akan datang, bahkan kapan manusia sebaiknya menahan diri. Kata terakhir itu penting: menahan diri. Sebab salah satu penyakit besar peradaban modern justru lahir dari hilangnya kemampuan untuk menahan diri. Kita ingin segala sesuatu tersedia sepanjang waktu. Kita makan seolah alam bekerja seperti pabrik: tanpa lelah, tanpa ritme, tanpa batas. Padahal alam tidak pernah bekerja seperti mesin. Alam bekerja dalam siklus. Alam punya musim, punya jeda. Sekaligus punya cara memulihkan diri.
JERNIH–Pada suatu pagi yang terlalu sunyi untuk ukuran desa pertanian, seorang lelaki tua di lereng Merapi menolak menanam padi. Tetangganya heran. Hujan sudah turun tiga kali dalam dua pekan. Parit mulai penuh. Lumpur sawah sudah lunak. Bibit juga sudah siap. Secara logika pertanian modern, tak ada alasan menunda.
Namun lelaki itu menggeleng. “Durung,” katanya pendek. Belum. Ia tidak menunjuk aplikasi cuaca di telepon genggam. Ia juga tak merujuk prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika. Yang ia lihat justru sesuatu yang nyaris tak lagi diperhatikan orang kota: arah terbang burung, intensitas embun pagi, warna pucuk daun jati, dan gerak koloni semut di tepi pematang.
Tiga hari kemudian hujan besar datang. Disusul angin kencang. Sawah yang buru-buru ditanami banyak yang rusak. Bibit rebah. Sebagian hanyut. Lelaki tua itu hanya tersenyum tipis.
Bagi generasi muda, kejadian semacam itu sering dianggap kebetulan. Bagi petani lama, itu bukan keajaiban. Itu pengetahuan. Pengetahuan yang tidak ditulis dalam jurnal internasional. Tidak lahir dari laboratorium modern. Tidak dibingkai dalam istilah keren seperti climate resilience, sustainability, atau ecological adaptation. Tetapi selama berabad-abad, pengetahuan itulah yang membantu orang Jawa bertahan hidup.
Namanya: pranata mangsa, tepatnya, karena Jawa, Pranoto mongso. Bila diterjemahkan secara sederhana, pranata berarti aturan atau tatanan, sementara mangsa berarti musim atau fase waktu. Namun pengertian sesungguhnya jauh lebih kaya daripada sekadar kalender musim.
Pranata mangsa adalah cara orang Jawa membaca alam. Ia bukan kalender dalam pengertian administratif seperti kalender Masehi. Ia tidak terutama berbicara tentang tanggal merah, hari kerja, atau akhir pekan. Ia berbicara tentang kapan tanah harus diolah, kapan benih ditebar, kapan air akan sulit didapat, kapan hama akan datang, bahkan kapan manusia sebaiknya menahan diri.
Kata terakhir itu penting: menahan diri. Sebab salah satu penyakit besar peradaban modern justru lahir dari hilangnya kemampuan untuk menahan diri. Kita ingin segala sesuatu tersedia sepanjang waktu. Mangga di musim hujan. Stroberi di dataran panas. Cabai murah sepanjang tahun. Ikan terus ada meski sedang masa bertelur. Padi panen berkali-kali meski tanah kelelahan.
Kita makan seolah alam bekerja seperti pabrik: tanpa lelah, tanpa ritme, tanpa batas. Padahal alam tidak pernah bekerja seperti mesin. Alam bekerja dalam siklus. Alam punya musim, punya jeda. Sekaligus punya cara memulihkan diri.
Pranata mangsa dalam masyarakat Jawa
Orang Jawa lama memahami satu hal mendasar: siapa pun yang melawan ritme alam pada akhirnya akan membayar harga. Harga itu bisa berupa gagal panen. Bisa berupa hama. Mungkin berupa tanah rusak, atau bahkan dapat pula berupa krisis pangan.
Ada perdebatan mengenai kapan tepatnya pranata mangsa mulai digunakan secara sistematis di Jawa. Banyak sejarawan menunjuk era Sultan Agung pada abad ke-17 sebagai masa penting kodifikasi penanggalan Jawa. Sultan Agung memang dikenal menyusun kalender Jawa yang menggabungkan unsur Saka dan Hijriyah. Tetapi jauh sebelum itu, pengetahuan membaca musim sesungguhnya telah hidup dalam masyarakat agraris Jawa.
Petani tak memerlukan istana untuk tahu kapan daun randu mulai rontok. Mereka hidup bersama tanda-tanda itu. Alam adalah buku mereka. Langit adalah halaman pertamanya.
Dalam pranata mangsa klasik, satu tahun dibagi menjadi 12 mangsa dengan jumlah hari yang tidak seragam. Ini menarik, sebab pembagian waktunya bukan berdasarkan keseragaman matematika, melainkan observasi ekologis. Artinya, musim tidak dipaksa menyesuaikan manusia. Manusialah yang menyesuaikan diri pada musim.
Mangsa Kasa dimulai sekitar akhir Juni. Inilah masa kemarau awal. Tanah mulai pecah-pecah. Daun banyak berguguran. Sumber air mengecil. Dalam sejumlah manuskrip Jawa, mangsa ini digambarkan dengan ungkapan puitis: sotya murca ing embanan—permata lepas dari tempatnya.
Embun mulai jarang. Alam berubah. Petani tahu, ini bukan waktu ideal untuk memaksa sawah menumbuhkan padi.
Lalu datang Mangsa Karo. Kemarau makin keras. Dalam ungkapan Jawa lama: bantala rengka—tanah merekah. Retakan-retakan mulai tampak di permukaan sawah tadah hujan. Di sinilah petani tradisional biasanya beralih ke palawija. Jagung. Kacang. Ketela. Ubi. Tanaman yang tidak serakus padi terhadap air.
Bila diperhatikan dengan saksama, di sini pranata mangsa bukan sekadar kalender. Ia adalah sistem manajemen risiko. Petani tradisional mungkin tak mengenal istilah risk mitigation. Tetapi mereka mempraktikkannya. Mereka tidak menaruh semua harapan pada satu komoditas. Mereka menyebar risiko.
Jika padi gagal, palawija menyelamatkan. Kalau hujan telat, umbi-umbian bertahan. Manakala panen kecil, leuit menjadi penyangga. Logika ini sangat berbeda dari pertanian monokultur modern. Monokultur menjanjikan efisiensi tinggi. Tetapi ia juga menciptakan kerentanan besar. Satu hama bisa menghancurkan semuanya. Satu anomali cuaca bisa membuat petaka.
Tak heran bila banyak ekolog modern mulai mengkritik logika pertanian industrial. Filsuf lingkungan Vandana Shiva berkali-kali mengingatkan bahwa monokultur bukan hanya menyederhanakan pertanian, tetapi juga menyederhanakan kehidupan. “Monocultures of the mind generate monocultures of the land,” tulis Shiva. Monokultur pikiran melahirkan monokultur tanah.
Kalimat itu sangat relevan bila kita melihat sejarah pangan Indonesia. Revolusi Hijau pada era Suharto memang meningkatkan produksi beras secara signifikan. Indonesia pernah bangga mencapai swasembada beras pada 1984. Namun keberhasilan itu datang bersama biaya ekologis yang tidak kecil. Varietas lokal banyak hilang. Keanekaragaman pangan menyusut. Pupuk kimia meningkat. Ketergantungan terhadap input eksternal membesar.
Perlahan, banyak petani kehilangan otonomi. Mereka tak lagi sepenuhnya menentukan kapan menanam berdasarkan tanda alam, melainkan berdasarkan jadwal distribusi pupuk, program pemerintah, atau instruksi birokrasi.
Di titik itulah, pranata mangsa mulai tersisih. Bukan karena ia salah. Melainkan karena modernitas merasa lebih pintar. Antropolog Clifford Geertz dalam karya monumentalnya “Agricultural Involution” menunjukkan betapa kompleksnya sistem pertanian Jawa. Orang luar kerap melihat petani tradisional sebagai kelompok “sederhana”. Geertz menunjukkan sebaliknya. Di balik kesederhanaan tampak luar, ada jaringan pengetahuan sosial-ekologis yang rumit. Orang Jawa tahu jenis tanah. Tahu siklus air. Tahu pola serangan hama, tahu bagaimana membagi tenaga kerja keluarga, tahu pula bagaimana bertahan saat musim buruk.
Pengetahuan ini diwariskan bukan melalui kuliah formal, tetapi melalui pengalaman, cerita, simbol, pepatah, dan praktik harian. Seorang anak petani belajar dari ayahnya. Bukan lewat presentasi PowerPoint, melainkan lewat lumpur. Lewat telapak kaki. Lewat pengamatan.
Mungkin inilah sebabnya banyak pengetahuan lokal sulit diterjemahkan ke dalam bahasa modern. Ia terlalu hidup untuk sekadar dijadikan data. Ia lebih dekat pada intuisi yang terlatih. Dalam bahasa Jawa ada pepatah: alon-alon waton kelakon. Sering diterjemahkan sebagai lambat asal selamat. Padahal maknanya jauh lebih subtil. Ia bukan glorifikasi kelambanan, melainkan ajaran tentang ritme.
Itu ajaran tentang mengetahui kapan bergerak, kapan menunggu. Dalam pertanian, ritme adalah segalanya. Terlalu cepat bisa celaka; sementara bila terlalu lambat bisa rugi. Pranata mangsa mengajarkan ritme itu. Persoalannya, ritme inilah yang mulai kacau.
Perubahan iklim membuat pola musim semakin sulit ditebak. Hujan datang terlambat. Kemarau memanjang. Cuaca ekstrem meningkat. Banyak petani Jawa mulai mengeluh. “Musim ayeuna teu puguh,” kata petani di Losari, perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah. Musim sekarang tidak jelas.
Keluhan serupa terdengar di banyak tempat. Di sinilah muncul pertanyaan menarik: apakah pranata mangsa menjadi usang?Jawabannya tidak sesederhana ya atau tidak. Sebagian akademisi justru melihat sebaliknya. Pranata mangsa mungkin perlu diperbarui, tetapi prinsip dasarnya tetap relevan. Mengapa?
Karena inti pranata mangsa bukan tanggal tetap. Intinya adalah observasi. Membaca tanda, untuk mencermati dan terutama memahami ekologi. Dengan kata lain, kekuatannya bukan pada angka kalender, melainkan pada kecakapan memperhatikan alam.
Di zaman krisis iklim, kemampuan memperhatikan justru makin penting. Masalahnya, modernitas membuat kita makin tidak memperhatikan. Kita hidup di ruangan ber-AC. Makan dari rantai pasok global. Minum air dari galon. Membeli beras dalam kemasan. Hubungan kita dengan tanah menjadi abstrak.
Kita tahu harga beras. Tetapi tidak tahu bagaimana beras tumbuh. Kita tahu inflasi pangan tetapi tak tahu kapan sawah terakhir kali terendam. Barangkali inilah ironi terbesar masyarakat urban. Semakin bergantung pada pangan, semakin jauh dari sumber pangan.
Pola makan berbasis musim sebenarnya bukan hanya urusan petani. Ia juga membentuk budaya makan. Dulu, masyarakat Jawa sangat akrab dengan logika musiman. Ada makanan yang identik dengan musim tertentu. Mangga ketika panas. Labu ketika panen. Umbi-umbian saat paceklik. Sayuran tertentu ketika hujan.
Paceklik sendiri adalah kata yang kini jarang didengar generasi muda. Padahal bagi masyarakat agraris, paceklik bukan sekadar masa sulit. Itu merupakan fase yang harus diantisipasi. Masa antara cadangan menipis dan panen berikutnya belum datang.
Di sinilah kecerdasan budaya diuji. Masyarakat tradisional tidak menunggu krisis untuk mulai berpikir. Mereka menyiapkan cadangan jauh-jauh hari. Ada beras yang disimpan. Ada gaplek. Ada jagung kering. Ada singkong, ada umbi. Ketahanan pangan bukan slogan. Itu jadi kebiasaan.
Ekonom sering membahas food security dengan bahasa statistik. Frasa-frasa ini menjadi perbendaharaan kata: stok nasional, cadangan pemerintah, volume impor, angka konsumsi.
Semua penting. Tetapi masyarakat adat memahami dimensi yang lebih intim. Ketahanan pangan juga berarti: apakah dapur rumah tangga tetap mengepul? Pertanyaan ini sederhana, tetapi fundamental. Sebab statistik nasional bisa tampak bagus, sementara keluarga tertentu tetap lapar.
Penulis dan petani Amerika Wendell Berry pernah menulis kalimat yang belakangan menjadi sangat terkenal: “Eating is an agricultural act.” Makan adalah tindakan agrikultural. Kalimat ini tampak sederhana. Padahal dampaknya radikal karena sejatinya memaksa kita menyadari bahwa setiap suapan punya konsekuensi.
Apa yang kita makan memengaruhi cara tanah diperlakukan. Pilihan konsumsi menentukan model produksi. Jika masyarakat menuntut semua pangan selalu tersedia tanpa peduli musim, maka tekanan terhadap alam meningkat. Petani dipaksa mengejar produktivitas.Tanah dipaksa bekerja tanpa jeda. Air dipompa terus-menerus. Pupuk dan pestisida meningkat.
Alam pada akhirnya menanggung biaya. Masalahnya, biaya ekologis jarang langsung terlihat. Dan itu akumulatif. Tanah sedikit demi sedikit kehilangan unsur hara. Mikroorganisme mati; biodiversitas menyusut; sumber air terganggu.
Lalu suatu hari kita heran: mengapa hasil panen stagnan? Padahal kerusakan telah berlangsung lama. Orang Jawa lama punya metafora yang indah untuk menggambarkan relasi manusia dengan alam. Bumi dipandang seperti ibu. Ibu memberi makan. Tetapi anak yang baik tidak merampas habis isi dapur ibunya. Ada rasa tahu batas. Ada rasa hormat, rasa sungkan.
Modernitas perlahan mengikis rasa sungkan itu. Kita menuntut. Terus, danm terus, dan terus, dan terusss! Lebih banyak. Lebih cepat. Lebih murah. Tanpa selalu bertanya: siapa yang membayar harga sesungguhnya?
Sering kali jawabannya adalah tanah. Beberapa tahun terakhir, minat terhadap pangan lokal mulai tumbuh lagi. Generasi muda mulai berbicara soal slow food, locavore, pertanian regeneratif, dan konsumsi musiman. Ironisnya, konsep-konsep yang kini dianggap progresif di Barat sesungguhnya telah lama dipraktikkan masyarakat Nusantara.
Kita hanya lupa. Atau mungkin sengaja dibuat lupa. Sebab ada narasi besar yang lama menguasai pikiran modern: bahwa tradisional berarti tertinggal. Narasi itu problematis. Tidak semua yang modern lebih bijak. Tidak semua yang lama harus dibuang. Sebagian justru layak dibaca ulang. Pranata mangsa adalah salah satunya. Pranata mangsa tidak menawarkan nostalgia kosong. Pranata mangsa justru menawarkan pertanyaan mendasar: bisakah manusia kembali belajar hidup mengikuti ritme alam?
Pertanyaan itu terdengar filosofis. Padahal sangat politis. Pasalnya, ketika musim rusak, yang paling dahulu terpukul bukan elite kota. Melainkan petani kecil. Dan ketika petani goyah, pangan nasional ikut goyah. Pada akhirnya, urusan musim bukan perkara romantisme perdesaan. Itu perkara perut bangsa.
Ada satu kisah lama yang sering diceritakan para petani sepuh. Tentang seorang pemuda yang merasa lebih pandai daripada ayahnya. Ia pulang dari kota membawa pengetahuan modern. Ia yakin metode lama terlalu kuno. Ia menanam lebih cepat, memakai pupuk lebih banyak, memaksa hasil lebih besar. Ayahnya diam.
Beberapa bulan kemudian panen datang. Sawah si ayah tak spektakuler. Tetapi stabil. Sawah si anak sempat tampak menjanjikan. Lalu hama datang. Kerusakan parah. Sang anak frustrasi. Ayahnya hanya berkata pendek. “Ilmu iku penting. Tapi ojo nganti lali ngrungokke alam. Ilmu itu penting. Tetapi jangan sampai lupa mendengarkan alam.”
Barangkali di situlah inti pranata mangsa. Bukan sekadar kalender. Bukan sekadar tradisi. Melainkan disiplin untuk mendengar. Mendengar tanah. Mendengar air, memperhatikan angin, mencermati musim. Sebab ada fakta yang jarang terbantahkan; sebelum krisis datang, alam sebenarnya sudah memberi peringatan. Persoalannya tinggal satu. Masihkah kita cukup rendah hati untuk mendengarkannya? [dsy]





