Kim Yo Jong Tuding ASEAN Jadi Corong AS Soal Denuklirisasi Korea Utara

Adik Kim Jong Un, Kim Yo Jong, melontarkan kecaman keras terhadap ASEAN usai organisasi tersebut menyerukan denuklirisasi di Semenanjung Korea. Pyongyang menilai ASEAN telah dikendalikan oleh Amerika Serikat.
WWW.JERNIH.CO – Kim Yo Jong, adik perempuan sekaligus penasihat senior Pemimpin Tertinggi Korea Utara Kim Jong Un, melontarkan kritik keras terhadap Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN). Kecaman pedas tersebut dipicu oleh pernyataan bersama para Menteri Luar Negeri ASEAN dalam Forum Regional ASEAN (ARF) yang menyuarakan keprihatinan atas program senjata nuklir Korea Utara serta menyerukan pentingnya denuklirisasi di Semenanjung Korea demi terciptanya perdamaian kawasan.
Melalui pernyataan resmi yang disiarkan oleh kantor berita pemerintah Korea Utara, KCNA, Kim Yo Jong mengecam keras sikap ASEAN dan menilai perhimpunan tersebut telah mengadopsi narasi yang didikte oleh Amerika Serikat.
Ia menganggap seruan denuklirisasi sebagai bentuk kegagalan pemikiran strategis dan logika, sembari menegaskan bahwa ide denuklirisasi sudah sepenuhnya tidak relevan baik secara konsep maupun praktis.
Lebih lanjut, Kim Yo Jong mengejek upaya untuk mendorong Korea Utara melepas senjata nuklirnya sebagai manifestasi dari mimpi liar yang bodoh dan konyol. Ia secara tegas mengingatkan ASEAN agar waspada dan tidak membiarkan dirinya dimanfaatkan oleh Washington sebagai corong bayaran untuk mengumandangkan propaganda anti-Pyongyang.
Selain itu, ia juga menekankan bahwa ASEAN telah mengabaikan realitas hukum Korea Utara, yang pada tahun 2023 lalu telah mengabadikan statusnya sebagai negara bersenjata nuklir yang tak dapat diganggu gugat di dalam konstitusi negara.
Secara langsung dan tidak langsung, retorika Kim Yo Jong ini menyasar beberapa entitas dan negara spesifik. Amerika Serikat ditempatkan sebagai aktor utama yang dituduh mendikte narasi, memprovokasi isu denuklirisasi, serta memanfaatkan organisasi regional untuk menekan Korea Utara.
Sepuluh negara anggota ASEAN—yaitu Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, Brunei Darussalam, Vietnam, Laos, Myanmar, dan Kamboja—ditunjuk langsung sebagai blok regional yang dianggap mengekor kebijakan luar negeri Washington. Sementara itu, Korea Selatan juga turut terseret sebagai sekutu utama AS di kawasan yang dinilai kerap berada di balik manuver diplomatik untuk menyudutkan Pyongyang.
Kecaman tajam ini mencerminkan keprihatinan Pyongyang terhadap konsensus internasional yang kian solid, bahkan dari blok seperti ASEAN yang secara historis berusaha menjaga prinsip netralitas dan diplomasi terbuka. Dengan mengabadikan status nuklirnya ke dalam konstitusi, Korea Utara menegaskan bahwa program senjata nuklirnya bukan lagi barang tawar-menawar dalam forum diplomasi apa pun.
Reaksi keras Kim Yo Jong ini sekaligus menjadi pesan tegas kepada negara-negara Asia Tenggara bahwa jalur diplomasi yang berbasis pada isu denuklirisasi telah resmi dianggap sebagai pintu yang tertutup rapat oleh Pyongyang.(*)
BACA JUGA: Korea Utara Diduga Uji Tembak Rudal Berbasis Kapal Selam






