Crispy

Jutaan Manusia Padati Teheran, Lepas Kepergian Sayyed Khamenei

JERNIH – Jutaan rakyat Iran mulai memberikan penghormatan terakhir bagi mendiang pemimpin tertinggi Revolusi Islam, Sayyed Ali Khamenei, pada Sabtu (4/7/2026)  ini. Upacara pemakaman resmi yang dimulai di Teheran ini sekaligus menandai dimulainya masa berkabung nasional selama enam hari, menjadikannya salah satu peringatan publik terbesar dalam sejarah negara tersebut.

Televisi negara menyiarkan langsung dimulainya prosesi, memperlihatkan lautan manusia yang memadati ibu kota dalam suasana duka yang mendalam. Otoritas Iran memperkirakan antara 15 hingga 20 juta orang akan membanjiri Teheran saja selama tiga hari ke depan—sebuah bukti nyata betapa melekatnya sosok Sayyed Khamenei di hati rakyatnya setelah memimpin selama lebih dari tiga dekade.

Sayyed Ali Khamenei memimpin Republik Islam Iran sejak 1989 hingga ia gugur syahid pada usia 86 tahun, tepat di hari pertama agresi militer AS-Israel ke Iran pada 28 Februari lalu.

Jauh sebelum upacara resmi dimulai, ribuan pelayat yang membawa panji-panji merah—simbol tuntutan balas dendam—telah memadati halaman Grand Mosalla Teheran untuk menanti kedatangan peti jenazah.

Atmosfer di lokasi dipenuhi perpaduan rasa sedih sekaligus keteguhan. Gema takbir bercampur yel-yel “Mampuslah Amerika” (Death to America) dan seruan “Balas dendam, balas dendam!” bergemuruh di seluruh kompleks religi raksasa tersebut.

Berdasarkan laporan jurnalis AFP, banyak pelayat yang rela berjalan kaki hingga beberapa kilometer demi mencapai lokasi. Ratusan orang bahkan sudah berkemah di luar Masjid Agung Mosalla Imam Khomeini sejak Jumat malam demi mengamankan tempat.

“Kami ingin mengucapkan selamat tinggal terakhir kepada pemimpin kami. Menunggu seperti ini sama sekali tidak terasa sakit atau berat bagi kami,” ungkap salah satu pelayat, Somayye Hamedi, kepada AFP.

Demi mengamankan jalannya prosesi yang diprediksi menjadi pengumpulan massa terbesar sejak pemakaman Imam Ruhollah Khomeini pada 1989 ini, otoritas setempat menerapkan pengamanan super ketat, menutup jalur-jalur protokol, dan membatasi ruang udara ibu kota.

Jenazah Sayyed Ali Khamenei akan disemayamkan di Teheran hingga Senin sebelum iring-iringan pemakaman bergerak. Rencana perjalanan terakhir sang pemimpin dirancang sebagai berikut:

  • Selasa: Jenazah akan dibawa ke kota suci Qom.
  • Rabu: Prosesi berlanjut ke kota-kota suci Syiah di negara tetangga, Irak.
  • Kamis: Perjalanan berakhir di Mashhad, kota kelahiran Khamenei di timur laut Iran, tempat ia akan dimakamkan.

Sore ini dipastikan bahwa anggota keluarga Sayyed Ali Khamenei yang turut gugur dalam serangan udara AS-Israel—termasuk cucu perempuannya yang masih bayi—juga akan dimakamkan bersamaan dalam rangkaian upacara ini.

Dihadiri Tokoh Dunia, Seruan Persatuan Menggema

Sejumlah pejabat tinggi Iran berkumpul pada Jumat kemarin dalam sebuah demonstrasi persatuan nasional yang emosional pasca-perang. Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf tampak sangat terpukul selama upacara. Hadir pula Ahmad Vahidi, yang baru saja ditunjuk sebagai Panglima Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menggantikan pendahulunya yang gugur dalam serangan yang sama.

Sederet delegasi internasional dan pemimpin dunia juga hadir memberikan penghormatan, di antaranya Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, Presiden Georgia, Mikheil Kavelashvili, Mantan Presiden Rusia, Dmitry Medvedev (mewakili Presiden Vladimir Putin), serta Presiden Irak Nizar Amidi dan Wakil Presiden Turki Cevdet Yılmaz.

Juga hadir perwakilan dari Hamas, Hizbullah, pemerintah Afghanistan, serta delegasi diplomatik dari Arab Saudi, Oman, Qatar, Nikaragua, Myanmar, hingga organisasi internasional ECO.

Meskipun pertempuran aktif saat ini telah mereda menyusul kesepahaman awal antara Iran dan AS, para pejabat Iran menegaskan bahwa militer mereka tetap dalam siaga penuh. “Seruan bangsa ini untuk membalas dendam harus terngiang di telinga seluruh dunia,” tegas Ghalibaf di hadapan massa.

Panglima Angkatan Darat Amir Hatami juga bersumpah bahwa Israel dan AS “akan membayar mahal atas darah pemimpin kami yang syahid serta seluruh martir bangsa.”

Mengingat jumlah massa yang terus membeludak, pemerintah mengimbau para pelayat untuk tetap tertib. Televisi nasional juga terus menyiarkan panduan keselamatan demi mencegah terjadinya insiden desak-desakan (crowd crush) dalam pelepasan bersejarah ini.

Back to top button