
Selain kapasitas strategisnya Saladin dikenal karena perlakuannya terhadap tentara musuh terutama setelah kekalahan besar pasukan Salib dalam Pertempuran Hattin pada 1187. Sumber Muslim seperti Ibn al Athir dan Bahauddin ibn Syaddad menyebutkan bahwa Saladin menyediakan perlindungan makanan air dan bantuan medis kepada para tawanan.
Oleh : Saleh Hidayat*
JERNIH– Menelusuri relevansi nilai kemanusiaan lintas agama dalam Perang Salib melalui figur Salahuddin al Ayyubi, dan menempatkan kontribusi historis tersebut dalam alur panjang pemikiran kemanusiaan global yang berpuncak pada Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia tahun 1948. Melalui metode historis analitis, naskah ini menelaah tindakan nyata Saladin dalam memperlakukan tentara musuh, menjaga keamanan warga sipil Yerusalem, serta membina pluralisme religius.
Tulisan juga menyoroti bagaimana kronikus Barat, dokumen resmi Gereja, serta korespondensi para pemimpin Eropa menggambarkan reputasi Saladin yang kemudian bertransformasi menjadi figur kesatriaan ideal dalam romansa abad ketiga belas. Melalui pembacaan ulang atas warisan kemanusiaan tersebut adalah penegasan bahwa nilai nilai martabat manusia telah memiliki basis historis lintas budaya dan agama jauh sebelum kodifikasi modern hak asasi manusia.
Perbincangan mengenai akar historis hak asasi manusia sering kali berpusat pada Eropa modern dan pencerahan sebagai fondasi kelahiran konsep universalitas martabat manusia. Namun pembacaan semacam itu tidak hanya reduksionis tetapi juga mengabaikan tradisi panjang kemanusiaan dari dunia Islam, Byzantium, Tiongkok, Asia Selatan dan berbagai peradaban lain. Figur Salahuddin al Ayyubi dalam konteks Perang Salib menawarkan salah satu bukti historis penting yang menunjukkan bahwa gagasan perlakuan manusiawi tidak hanya eksis sebelum era modern tetapi juga diaplikasikan bahkan dalam kondisi perang yang ekstrem.
Premis bahwa contoh contoh historis seperti perilaku Saladin dapat dibaca ulang sebagai bagian dari genealogis pemikiran kemanusiaan yang akhirnya berkontribusi pada roh moral Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia yang disahkan Majelis Umum PBB pada sepuluh Desember 1948.
Memasukkan representasi Saladin dalam sumber Muslim maupun Kristen, epistolari (koleksi surat-menyurat) dan korespondensi diplomatik, serta transformasi kultural yang menjadikan Saladin tokoh moral dalam imajinasi Eropa. Tulisan ini tidak hanya bertujuan untuk menampilkan aspek historis tetapi juga menganalisis proses pembentukan nilai serta dinamika persepsi lintas peradaban.
Latar Historis Perang Salib
Perang Salib merupakan rangkaian konflik panjang antara dunia Latin Barat dan dunia Islam Timur yang dimulai akhir abad kesebelas setelah seruan Paus Urbanus II dalam Konsili Clermont. Konflik yang berlangsung lebih dari dua abad ini berlapis motif teologis ekonomi dan geopolitik. Ketika pasukan Eropa bergerak menuju Tanah Suci mereka tidak hanya membawa ambisi spiritual tetapi juga kontradiksi politik yang mencerminkan kondisi Eropa pada masa itu.
Penaklukan Yerusalem oleh Tentara Salib pada 1099 meninggalkan luka mendalam dalam sejarah Muslim dan Yahudi. Sumber Barat maupun Timur mencatat pembantaian besar besaran terhadap penduduk kota. Peristiwa ini menjadi salah satu memori kolektif penting yang melatari cara kaum Muslim memandang proyek Perang Salib. Dalam konteks ini kemunculan Saladin pada pertengahan abad kedua belas sebagai pemimpin politik dan militer mengubah dinamika konflik. Ia tidak hanya merupakan pemersatu dunia Islam tetapi juga tokoh yang membawa visi moral yang berbeda dari pola kekerasan waktu itu.
Figur Saladin dalam Ekologi Perang Abad Pertengahan
Salahuddin al Ayyubi yang berasal dari dinasti Ayyubiyah memiliki warisan pendidikan religius, pengalaman militer, dan etos kesatriaan yang membentuk karakter kepemimpinannya. Sumber Muslim menggambarkan Saladin sebagai pribadi yang menekankan keadilan, kemurahan hati, dan sikap mengutamakan perdamaian ketika memungkinkan. Beberapa catatan menyebutkan kebiasannya membaca teks teks etika kesatriaan Islam serta komitmennya pada prinsip pengendalian diri dalam perang.
Ekologi politik abad pertengahan juga menempatkan Saladin sebagai figur yang harus bernegosiasi dengan berbagai kekuatan politik mulai dari dinasti Zengid, Fatimiyah, Seljuk, hingga faksi faksi Latin. Posisi tersebut menuntut keterampilan diplomatik disertai moralitas pragmatis sehingga memunculkan narasi bahwa Saladin melampaui karakter pemimpin militernya dan menjelma menjadi tokoh moral.
Perlakuan Saladin Terhadap Tentara Musuh
Selain kapasitas strategisnya Saladin dikenal karena perlakuannya terhadap tentara musuh terutama setelah kekalahan besar pasukan Salib dalam Pertempuran Hattin pada 1187. Sumber Muslim seperti Ibn al Athir dan Bahauddin ibn Syaddad menyebutkan bahwa Saladin menyediakan perlindungan makanan air dan bantuan medis kepada para tawanan.
Kronikus Latin (kisah) seperti William of Tyre dan kronik anonim yang berkaitan dengan Ordo Hospitaller memberikan gambaran bahwa Saladin tidak melakukan pembantaian massal atas tawanan meskipun kondisi politik dan emosional perang dapat membenarkannya menurut norma waktu itu. Dalam konteks Eropa abad pertengahan pembalasan brutal terhadap tawanan dianggap lazim sehingga tindakan Saladin menjadi pengecualian.
Korespondensi antara para pemimpin Eropa dan Tanah Suci, seperti surat antara Raja Richard I (Richard the Lionheart atau Richard Coeur de Lion) dengan pihak Ayyubiyah, menunjukkan bahwa keberanian dan kemurahan hati Saladin dipandang sebagai sifat luar biasa. Dalam salah satu korespondensi terdapat ungkapan yang menyebut Saladin sebagai pembela kehormatan meski melawan umat Kristen.
Melalui tindakan ini Saladin bukan sekadar mencontohkan etika futuwwa atau kesatriaan Islam tetapi juga menghormati nilai nilai kemanusiaan yang mengutamakan keberlanjutan hidup meskipun di tengah permusuhan. Kesediaannya merawat musuh yang terluka menunjukkan bahwa moralitas perang bukan sekadar konsep teoretis, melainkan praktik yang diwujudkan secara nyata.
Penaklukan Yerusalem 1187 dan Perlindungan Komunitas Multiagama
Setelah kemenangan di Hattin Saladin kembali ke Yerusalem dan menaklukkan kota tersebut pada seribu seratus delapan puluh tujuh. Dunia menanti apakah ia akan melakukan pembalasan atas tragedi seribu sembilan puluh sembilan ketika kota itu direbut pasukan Salib. Namun berbagai sumber mencatat bahwa tidak ada pembantaian massal pada masa masuknya pasukan Saladin.
Catatan Muslim dan Kristen menyebutkan bahwa kaum Kristen Ortodoks, Armenia, Koptik dan Suriah diberi kebebasan beribadah. Gereja Makam Kudus dibiarkan berfungsi. Komunitas Yahudi yang diusir setelah seribu sembilan puluh sembilan diizinkan kembali menghuni kota. Saladin mengatur proses evakuasi warga Latin yang ingin meninggalkan kota, dan bagi mereka yang tidak mampu membayar tebusan ia menggunakan hartanya untuk membebaskan mereka.
Tindakan ini mengembalikan fungsi Yerusalem sebagai kota multireligius. Perlindungan atas berbagai kelompok agama memperlihatkan bahwa Saladin memiliki visi tentang kota suci sebagai ruang yang tidak boleh dimonopoli oleh satu pemeluk agama saja. Dalam konteks abad pertengahan kebijakan seperti ini menunjukkan kematangan moral yang sangat tinggi.
Representasi ini diperkuat oleh penuturan beberapa kesatria Latin yang menyaksikan perlakuan baik pasukan Ayyubiyah terhadap perempuan dan anak anak. Kesan mereka terekam dalam catatan yang kemudian beredar di Eropa dan mempengaruhi persepsi terhadap Saladin dalam jangka panjang.
Perspektif Kronikus Barat dan Korespondensi Eropa
Kronikus Barat menyediakan informasi penting mengenai interaksi antara Tentara Salib, Gereja Latin dan dunia Islam. William of Tyre, Ernoul, serta kronik yang ditulis oleh ordo militer menjadi sumber utama yang menggambarkan hubungan diplomatik dan persepsi saling menghormati di tengah permusuhan.
Selain itu dokumen Gereja seperti laporan resmi para utusan Paus serta catatan konsili memberikan gambaran bagaimana Gereja menilai perkembangan politik di Tanah Suci. Pada masa menjelang dan setelah Perang Salib Ketiga sejumlah korespondensi antara Raja Richard I dari Inggris dan Saladin menjadi penanda hubungan diplomatik yang melampaui permusuhan militer.
Dalam salah satu surat Richard disebutkan kekagumannya atas kemurahan hati dan integritas moral Saladin. Di sisi lain laporan dari Tanah Suci yang dikirimkan ke Eropa menunjukkan bahwa karakter dan tindakan Saladin sering dijadikan bahan perbandingan dengan pemimpin Latin yang dianggap kurang menunjukkan sifat kristiani. Di sinilah mulai terlihat bahwa figur Saladin memasuki ruang moral Eropa bukan sekadar sebagai musuh tetapi sebagai cermin kesatriaan ideal.
Transformasi Saladin dalam Romansa Eropa Pasca-Perang Salib Ketiga
Setelah wafatnya Saladin pada seribu seratus sembilan puluh tiga dan selesainya Perang Salib Ketiga, citranya mengalami transformasi luar biasa dalam literatur Eropa. Di abad ketigabelas Saladin mulai memasuki dunia romansa dan legenda yang membentuk imajinasi kesatriaan Eropa. Dalam teks teks romansa ini ia digambarkan sebagai pemimpin yang murah hati, adil, setia pada kode moral dan cerdas dalam diplomasi.
Banyak naskah menempatkan Saladin sebagai figur musuh terhormat atau noble adversary, sebuah konsep yang memberi ruang bahwa seorang musuh pun dapat menjadi teladan kesatriaan. Sejumlah karya menampilkan adegan fiktif antara Saladin dan berbagai pemimpin Eropa termasuk dalam bentuk ujian moral yang memperlihatkan keunggulan karakter sang sultan.
Dalam beberapa romansa bahkan terdapat kisah bahwa Saladin menyamar memasuki Eropa untuk mempelajari nilai nilai kesatriaan Kristen sehingga ia nantinya memenuhi syarat sebagai kesatria paling sempurna.
Perubahan imaji ini menunjukkan bahwa Saladin telah menjadi figur universal. Ia tidak hanya dianggap sebagai simbol kemenangan Islam tetapi juga tokoh moral yang dapat dipelajari oleh masyarakat Eropa. Transformasi citra ini merupakan proses kultural yang penting dalam memetakan bagaimana nilai nilai kemanusiaan melampaui batas keagamaan dan geopolitik.
Jejak Etis dan Jalur Moral Menuju Duham 1948
Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia yang disahkan pada sepuluh Desember seribu sembilan ratus empat puluh delapan merupakan tonggak utama dalam sejarah modern. Namun deklarasi ini bukan penciptaan nilai baru melainkan penyatuan nilai kemanusiaan yang telah berkembang dalam berbagai tradisi dan peradaban selama berabad abad.
Dalam perdebatan penyusunan deklarasi tersebut tokoh tokoh seperti Charles Malik dari Lebanon, Peng Chun Chang dari Tiongkok dan Hansa Mehta dari India menegaskan bahwa martabat manusia merupakan warisan budaya universal. Eleonore Roosevelt menguatkan pandangan ini dengan menyatakan bahwa human rights begin in small places, close to home (hak asasi manusia berawal di tempat tempat kecil dekat rumah).
Ketika tindakan Saladin dibaca dalam konteks genealogis hak asasi manusia, kita melihat bahwa penghormatan terhadap tawanan perang, perlindungan warga sipil, serta pembinaan pluralisme agama merupakan praktik yang sejalan dengan nilai nilai yang ingin ditegakkan DUHAM. Dengan demikian Saladin bersama tokoh tokoh lain dari berbagai peradaban turut membentuk landasan moral yang memungkinkan lahirnya norma hukum internasional modern.
Pembacaan atas figur Saladin dan tindakan etisnya membuka diskusi penting mengenai keterkaitan antara sejarah moral dan hukum hak asasi manusia. Sejarah memperlihatkan bahwa nilai kemanusiaan tidak pernah murni milik satu peradaban. Dalam konteks perang abad pertengahan di mana kekerasan ekstrem menjadi norma, pilihan Saladin untuk menegakkan etika kemanusiaan menunjukkan bahwa nilai nilai tersebut telah hadir dalam praktik sosial jauh sebelum dikodifikasi secara legalistik oleh hukum internasional.
Berdasarkan sumber sumber Barat dan Muslim mengungkap bahwa tindakan kemanusiaan Saladin bukan hanya dihormati lawan lawannya tetapi juga menjadi inspirasi moral dalam tradisi literer Barat. Ini mengindikasikan adanya kesamaan nilai etis lintas peradaban yang kemudian menjadi dasar filosofis penting dalam pembentukan hak asasi manusia.
Dalam diskursus akademik kontemporer, genealogis nilai hak asasi manusia perlu dilihat sebagai proses lintasbudaya. Saladin hanya salah satu contoh historis penting. Namun melalui pengaruhnya yang luas baik secara historis maupun kultural, ia memberikan landasan untuk memahami bahwa universalitas hak asasi manusia bukanlah konstruksi politik Barat tetapi hasil perjumpaan nilai global.
Menegaskan bahwa figur Saladin memainkan peran penting dalam sejarah moralitas perang dan hubungan antaragama. Perlakuannya terhadap tentara musuh, kebijakannya dalam melindungi komunitas multireligius di Yerusalem, serta reputasinya yang diakui oleh kronikus Barat menunjukkan bahwa nilai kemanusiaan telah dipraktikkan secara luas jauh sebelum lahirnya DUHAM.
Transformasi Saladin dalam romansa Eropa memperlihatkan bagaimana musuh dapat dijadikan teladan moral. Ini menunjukkan bahwa nilai kemanusiaan bersifat transkultural dan dapat menjembatani perbedaan identitas. Dalam konteks genealogis hak asasi manusia, tindakan Saladin memberikan kontribusi moral yang signifikan.
Dengan demikian deklarasi universal tahun seribu sembilan ratus empat puluh delapan dapat dipahami sebagai kulminasi dari sejarah panjang nilai kemanusiaan global yang salah satu bagiannya tercermin dalam tindakan dan warisan moral Salahuddin al Ayyubi. [ ]
*Anggota “Diskusi Reboan” yang difasilitasi Indonesian Democracy Monitoring—InDemo– Jakarta






