Crispy

Ribuan Masjid di Xinjiang Dilaporkan Dihancurkan Pemerintah Cina

Bukan pertama kalinya ASPI merilis laporan soal penindasan pemerintah Cina terhadap Muslim Uighur. Pada 28 Februari 2020 lalu, lembaga itu merilis laporan berjudul “Uyghurs for sale”,

JERNIH– Institut Kebijakan Strategis Australia (ASPI), sebuah lembaga tangka pemikiran dari Australia, melaporkan bahwa otoritas Cina telah menghancurkan ribuan masjid di Xinjiang dalam beberapa tahun terakhir. Laporan ASPI tersebut merupakan laporan terbaru tentang pelanggaran hak-hak asasi manusia yang dilakukan Pemerintah Cina terhadap komunitas Muslim di negara tersebut.   

Kantor berita Prancis AFP, pada Jumat (25/9) merilis berita bahwa kelompok-kelompok hak asasi manusia mengatakan bahwa lebih dari satu juta orang Uighur dan warga muslim lainnya yang sebagian besar berbahasa Turki, telah ditahan di kamp-kamp konsentrasi di wilayah Xinjiang. Para penduduk ditekan untuk menghentikan kegiatan tradisional dan keagamaan yang selama ini mereka lakukan dalam keseharian mereka.

ASPI melaporkan, tidak kurang dari 16.000 masjid telah hancur atau rusak. Laporan itu didasarkan pada citra satelit yang mendokumentasikan ratusan situs suci dan pemodelan statistic yang ada di wilayah tersebut.

ASPI menyatakan, sebagian besar penghancuran masjid tersebut terjadi dalam tiga tahun terakhir, dan diperkirakan selama itu 8.500 masjid telah hancur total. Selain itu, laporan juga memaparkan terjadi lebih banyak kerusakan di luar pusat kota Urumqi dan Kashgar. Menurut ASPI, masjid-masjid yang dibiarkan lolos dari pembongkaran telah dicopot kubah dan menaranya.

Diperkirakan saat ini tinggal kurang dari 15.500 masjid—yang utuh dan berdiri sebagai puing, berdiri di sekitar Xinjiang. Hal itu merupakan jumlah terendah rumah ibadah Muslim di wilayah tersebut sejak dekade pergolakan nasional akibat pemberlakuan Revolusi Kebudayaan pada 1960-an, yang kemudian terbukti sebagai langkah irasional dan gagal total. 

Sebaliknya, tidak ada gereja Kristen dan kuil Buddha yang rusak di Xinjiang, menurut lembaga tersebut. ASPI juga melaporkan, hampir sepertiga dari situs suci Islam utama di Xinjiang—yang terdiri dari tempat suci, kuburan dan rute ziarah–telah dihancurkan.

Tahun lalu, AFP melakukan investigasi dan menemukan puluhan kuburan telah dihancurkan, dengan meninggalkan sisa-sisa tengkorak manusia dan batu bata dari makam yang rusak, terserak di seluruh negeri.

Sementara itu seperti biasa, Pemerintah Cina menegaskan bahwa penduduk Xinjiang menikmati kebebasan beragama sepenuhnya. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Wang Wenbin pekan lalu mengatakan, ada sekitar 24.000 masjid di Xinjiang, jumlah yang menurut dia, “lebih tinggi daripada banyak negara Muslim”.

Pernyataan itu muncul sehari setelah ASPI mengatakan telah mengidentifikasi jaringan pusat penahanan di wilayah itu. Cina mengatakan, jaringan kampnya adalah pusat pelatihan kejuruan, yang diperlukan untuk melawan kemiskinan dan anti-ekstremisme. Wang balik mempertanyakan penelitian ASPI di pusat-pusat  kamp itu sebagai “sangat dipertanyakan”.

Bukan pertama kalinya ASPI merilis laporan soal penindasan pemerintah Cina terhadap Muslim Uighur. Pada 28 Februari 2020 lalu, lembaga itu merilis laporan berjudul “Uyghurs for sale”, yang ditulis para peneliti mereka Vicky Xiuzhong Xu , Danielle Cave , Dr James Leibold , Kelsey Munro dan  Nathan Ruser. [The Guardian/VOA]

Back to top button