
Di banyak lingkar, buku ini terus dibedah, dipersoalkan, diperdalam, dihidupkan kembali. Percakapan terbaru berdenyut di kalangan aktivis muda: di Jakarta Connection Center, di Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, hingga ruang-ruang refleksi Young Progressive Academy yang diselenggarakan Friedrich Ebert Stiftung (FES). Lewat berbagai forum diskusi ini, gagasan beradu dengan pengalaman, dan harapan diuji oleh kenyataan.
Oleh : Yudi Latif

JERNIH– Dengan rasa syukur yang khidmat, “Apa Jadinya Dunia Tanpa Indonesia?” telah melahirkan cetakan ketiga—sebuah perjalanan dari tangan ke tangan, dari satu kesadaran ke kesadaran lain.
Dalam tempo cepat, buku ini bisa menjangkau berbagai segmen pembaca, menembus sekat usia dan latar, menyusup hingga bangku-bangku SMP, tempat rasa ingin tahu mula-mula belajar berdiri. Di sana, kata-kata menemukan pembacanya yang paling jujur: jiwa-jiwa muda yang belum lelah berharap.
Apresiasi dan diskusi buku pun terus menjalar seperti arus laut yang tak henti menghubungkan pulau. Di Perguruan Bakti Mulya 400, buku ini dijadikan kompas untuk menguatkan salah satu tiang penyangga jati dirinya: nasionalisme—bukan sebagai slogan, melainkan kesadaran akan rumah bersama.
Di banyak lingkar, buku ini terus dibedah, dipersoalkan, diperdalam, dihidupkan kembali. Percakapan terbaru berdenyut di kalangan aktivis muda: di Jakarta Connection Center, di Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, hingga ruang-ruang refleksi Young Progressive Academy yang diselenggarakan Friedrich Ebert Stiftung (FES). Lewat berbagai forum diskusi ini, gagasan beradu dengan pengalaman, dan harapan diuji oleh kenyataan.
Semoga perguliran ini tak berhenti sebagai sirkulasi buku, melainkan menjadi panggilan kesadaran: rasa keterkaitan untuk memahami kembali warisan cerlang alam dan peradaban Nusantara—sebagai pandu bagi langkah masa depan bangsa. [ ]






