Solilokui

Toeti Heraty Noerhadi, di Musim Dingin Melbourne, 1992

Ibu Toeti adalah wanita tangguh, cerdas, berani, dan perduli, seperti ayah-ibunya, Dr. Roosseno Soerjohadikoesoemo dan Ibu RA Oentari. Beliau adalah wanita yang hebat, seorang ibu yang tangguh dan mengagumkan bagiku, karena berjuang, berilmu dan berbudaya yang kuat

Oleh  : Herdi Sahrasah

JERNIH– Saya pertama kali bertemu penyair Prof Dr.  Toeti Heraty Noerhadi di Melbourne, Australia, musim dingin 1992, di trotoar pinggir jalan ketika beliau sedang menyeret kopernya yang berat diterjang angin kencang. 

Diterpa  gemuruh angin menderu, Bu Toety berusaha memegang kopernya, dan saya segera membantunya mengendalikan koper yang oleng itu. ‘’Apa kabar  Ibu? Izinkan saya bantu,“ kataku,  Beliau tersenyum melihat saya menarik kopernya agar terhindar dari gempuran angin ribut, dan beliau menyampaikan terima kasihnya dengan lembut. 

Herdi Sahrasad

Saya perkenalkan diri saya, jurnalis muda ‘’Media Indonesia’’ dan jebolan Universitas Padjajaran. Saya waktu itu bersama Ahmad Suhelmi (dosen Fisip UI dan mahasiswa S2 Monash University, dan menjadi profesor di Fisip UI sampai wafatnya). Kami kemudian saling bertukar kata secukupnya. Melbourne terus mengaum. Udara bergerak cepat, tandas dan lugas.

Kami  kemudian berpisah karena Ibu Toety ada tugas institusi, sementara kami musti kembali ke Monash University, Clayton, sore itu. Sebuah pertemuan yang mengesankan.

Ketika itu saya jurnalis muda dan research associate LP3ES dan sudah membaca sajak-sajak Bu Toety waktu SMAN I Purworejo Bagelen. ‘’Sajak-Sajak 33’’ adalah salah satu karyanya yang kusimak semasa remaja. Sajak-sajaknya berkisah tentang cinta, maut, kesunyian,  kaya emosi perempuan dan simbolisme, penuh pandangan seorang wanita yang sangat terpelajar, terkesan bakat alam dan intelektualismenya sangat kuat..

Ibu Toety adalah wanita tangguh, cerdas, berani, dan perduli, seperti ayah-ibunya, Dr. Roosseno Soerjohadikoesoemo dan Ibu RA Oentari. Beliau adalah wanita yang hebat, seorang ibu yang tangguh dan mengagumkan bagiku, karena berjuang, berilmu dan berbudaya yang kuat, sehingga tak heran kalau Bu Toety dikagumi banyak anak muda.

Sebagai penyair perempuan, Bu Toety sangat berkelas dan berkualitas, tapi tetap ramah dan rendah hati serta mendidik. Beliau juga mengajar di Fakultas Psikologi di kampus kami, Universitas Padjajaran, waktu saya  kuliah S1  ilmu humaniora Fakultas Sastra (kini FIB) di sana, tapi saya belum pernah bertemu dengannya.

Pada waktu majalah TEMPO dibredel tahun 1994, beliau mengumpulkan kami, para aktivis pergerakan/wartawan  dan inteligensia untuk mengambil sikap kritis dan memprotes pemerintah Orde Baru  atas pemberangusan pers itu sekaligus melawan otoriterisme rezim Pak Harto tersebut.

Toeti Heraty meninggal pada usia 87 tahun. “Saya sangat berduka dan berbelasungkawa atas wafatnya beliau. Ibu Toety adalah profesor yang berani dan kami mendirikan MARA (Majelis Amanat Rakyat) bersama Bang Adnan Buyung Nasution, Mas Amin Rais, Goenawan Mohamad, HS Dillon dan para intelektual  lainnya untuk menyelamatkan bangsa menjelang jatuhnya Orde Baru,”demikian kesaksian Rizal Ramli, seorang tokoh nasional yang disampaikan pada saya.

Prof Toeti Heraty Noerhadi adalah salah satu tokoh pendiri MARA dan beliau menggunakan rumahnya di Jalan Cemara, Menteng, Jakarta, sebagai markas pertemuan kaum aktivis dan intelektual untuk melawan otoriterisme dan kezaliman.

Sajak-sajaknya filosofis, renungan yang reflektif-imajis, lembut dan bernafas dalam serta penuh pesona karena suara batin dan jiwa seorang wanita terpelajar yang sangat berkelas-berkualitas. Adakah wanita multidimensi seperti beliau dewasa ini? Semoga.

Toeti Heraty, (lahir di Bandung, Jawa Barat, 27 November 1933 – meninggal 13 Juni 2021 pada umur 87 tahun), adalah seorang penulis asal Indonesia. Toeti Heraty merupakan Sarjana Muda Kedokteran Universitas Indonesia (1955), Sarjana Psikologi Universitas Indonesia (1962), dan pada tahun 1974 menjadi Sarjana Filsafat dari Rijk Universiteit, Leiden, Belanda. Pada tahun 1979, dia lulus sebagai doktor filsafat dari Universitas Indonesia.

Ia pernah mengajar di Fakultas Psikologi Universitas Padjajaran, Bandung. Selain itu, Toeti Heraty juga pernah menjadi Ketua Jurusan Filsafat Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Ketua Program Pascasarjana Universitas Indonesia Bidang Studi Filsafat, Rektor Institut Kesenian Jakarta, dan Direktur Biro Oktroi Roosseno. Tahun 1994, dia dikukuhkan menjadi Guru Besar Luar Biasa pada Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Tahun 1968-1971, Toety menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta, dan tahun 1982-1985 menjadi ketua Dewan tersebut. Selamat jalan Bu Toety, husnul khotimah. [ ]

Herdi Sahrasad, dosen senior Sekolah Pasca Sarjana Universitas Paramadina

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close
Close