Spiritus

Shaum Sebagai Ujian : Perang

Dengan demikian, pewajiban shaum pada sebulan sebelum perang itu bisa dibaca sebagai sebuah ujian, juga isyarat bahwa shaum bulan Ramadhan merupakan ibadah yang luar biasa. Jika tidak luar biasa, bagaimana mungkin Allah subhanahuwataala mewajibkan shaum, sementara pada saat peleksanaannya Allah telah mengetahui (menakdirkan) akan terjadi perang besar.

Oleh   : Acep Iwan Saidi*

JERNIH–Shaum sebulan penuh pada Ramadhan mulai diwajibkan pada tahun kedua Hijriah, pada bulan Sya’ban, yang pada saat pelaksanaannya (sebulan kemudian), terjadi perang Badar. Pada bulan ini juga diwajibkan zakat fitrah dan terjadi peristiwa perubahan arah kiblat dari Baitul Maqdis ke Masjidil Haram (Ka’bah).

Acep Iwan Saidi

Perang Badar sendiri, tepatnya terjadi pada 17 Ramadhan. Detik pertamanya diawali dengan tantangan duel dari tentara musyrikin Qurais bernama Al-Aswad bin Abdul Asad al Makhzumi. Tantangan ini dilayani oleh Hamzah bin Abdul Muthalib dan Hamzah memenangkannya (lihat Firanda, “Sirah Nabawiyah”, 2022).

Isu, informasi, dan hal-hal terkait perang fenomenal tersebut sudah terkabarkan jauh sebelum peristiwa tersebut terjadi. Dengan demikian, pewajiban shaum pada sebulan sebelum perang itu bisa dibaca sebagai sebuah ujian, juga isyarat bahwa shaum bulan Ramadhan merupakan ibadah yang luar biasa. Jika tidak luar biasa, bagaimana mungkin Allah subhanahuwataala mewajibkan shaum, sementara pada saat pelaksanaannya Allah telah mengetahui (menakdirkan) akan terjadi perang besar.

Walhasil, shaum bulan Ramadhan dapat dibaca sebagai perang, baik fisik maupun batin. Secara fisik kita berperang melawan lapar dan haus, secara batin melawan segala hasrat duniawi. Untuk memenangkan perang sedemikian, sudah pasti fisik harus kuat dan bersemangat; batin harus berbahagia.

Saat akan berperang, salah satu pesan Rasulullah shalalahu alaihi wassalam kepada para sahabatnya (pasukannya) adalah bergembira. Tentu saja, di atas semua itu adalah berdoa. Selama perang Badar berlangsung Baginda Nabi pun tidak berhenti berdoa kepada Allah.

Selamat shaum. Mari bergembira dan berdoa! Jangan letoy! [  ]

*AIS adalah essais, kritikus sastra dan pengajar di ITB

Back to top button