Puisi

5 PUISI ASLAN ABIDIN

Sepasang Kekasih di Puncak Mabuk

di bukit berumput dekat bulan, sepasang
kekasih menuang bir ke dalam lambung.

            hingga jauh melanglang sampai limbung
            terlentang memandang langit berbintang.

            di bukit berumput dekat bintang, mereka
             lantunkan sebaris lagu takrif anak muda:

wake me up when september ends. serak
bagai suara mayat kaku diseret di semak.

di puncak mabuk, mereka sungguh tahu,
tiada seorang jua sanggup bangun. “kau
            pejam kedua matamu dan akan kau lihat
            bintang berputar.”  bulan perlahan pucat.
           malam sedia pergi. “bagaimana kita akan
           pulang? bergandengan dan sempoyongan
atau jatuh menggelinding?” lalu fajar tiba
di bukit dan sepasang kekasih telah tiada.
di alas jurang, jauh dari bulan dan bintang,
tak tergapai ujung cahaya, jasad sepasang
          kekasih berpaut berdekapan. mabuk cinta,
        di bukit atau jurang, apakah pula bedanya?
             september datang dan pergi. pecinta lain
            akan mabuk dan mati. –entah berpelukan
atau berserakan, apa bedanya? songsong
ajal tiba. mari bersulang, kami berpulang.

Makassar 2019

wake me up when… (dst), wake me up when

    september ends, dari album american idiot,

    green day, 2004.

*
CATATAN REDAKTURIAL

Mabuk, Cinta, dan Lemas di Jurang Puisi Aslan Abidin

Bila ada jurusan “Mabuk Estetika dan Tragika” di perguruan tinggi, Aslan Abidin layak diangkat jadi dekan seumur hidup. Puisinya, “Sepasang Kekasih di Puncak Mabuk”, mengajak kita naik ke bukit yang bukan sembarang bukit—ini bukit semi mitologis, dekat bulan, rumputnya bisa bikin limbung, dan lagu latarnya Green Day. Bayangkan! Sudah malam, sudah mabuk, lalu menyanyikan Wake Me Up When September Ends dalam nada mayat kaku. Hah? Puisi ini seperti pesta patah hati yang lupa jalan pulang. Tapi jangan salah, di balik centang-perenang bunyi dan absurditas romansa ini, Aslan sebenarnya sedang menulis elegi buat siapa saja yang pernah mabuk karena cinta—atau mabuk karena hidup yang seperti cinta: sama-sama tak punya panduan arah.

Sebagai penyair yang tak main-main (dan tidak sedang main TikTok), Aslan Abidin adalah nama lama dalam peta puisi Indonesia. Ia pernah menyentuh halaman-halaman Horison, Kompas, hingga Republika—tempat-tempat di mana puisi ditimbang bukan dengan emosi semata, tapi juga kepiawaian struktur dan kekayaan rujukan. Lulusan S3 Ilmu Linguistik ini juga seorang dosen dan rektor, tapi di puisi ini ia tidak tampil sebagai akademisi berhati kaku. Justru ia seperti rocker tua yang tahu betul bagaimana mengubah mabuk menjadi bentuk protes terhadap dunia yang suka bikin kita patah sebelum sempat jatuh cinta sepenuhnya. Mabuknya bukan soal alkohol belaka, tapi mabuk eksistensial—jenis mabuk yang bahkan Nietzsche pun bisa angguk-angguk gelisah.

Dan di sinilah kecemerlangan usil dari puisi ini muncul: ia meminjam gaya centil anak muda mabuk lagu Barat, tapi justru untuk mengajukan pertanyaan filosofis klasik—apa bedanya mencintai di bukit atau di jurang? Mati bersama dalam pelukan atau berserakan sendiri-sendiri? Aslan seperti menggoda kita: “Ayo, bercinta! Tapi siap-siap juga untuk tersungkur bareng.” Romantika dalam puisi ini bukan berakhir di pelaminan, tapi di alas jurang. Rasanya seperti nonton drama Korea versi punk, lalu ditutup ceramah eksistensial dari jalur literasi tingkat tinggi.

Dan oh, jangan lupakan humor hitamnya yang halus tapi menggigit. Suara mayat kaku, dewa kejijikan, hingga matahari yang “lembut sekali”—ini semua dibalut dalam ironi yang begitu rapi, sampai-sampai kita tertawa sambil menahan sesak. Bagi pembaca awam, puisi ini mungkin terdengar terlalu nyeleneh. Tapi bagi pencinta puisi yang doyan jalan berliku, Aslan adalah penyair yang tahu betul kapan harus menertawakan kehidupan, kapan harus menguburnya dalam ironi. Seolah berkata, “Mabuklah, tapi jangan lupa: maut bisa datang sambil tertawa.”

Jadi, “Sepasang Kekasih di Puncak Mabuk” bukan sekadar kisah tentang dua orang limbung. Ini adalah puisi tentang kegagalan romantika modern, tentang absurditas harapan, tentang bagaimana manusia tetap ingin bersulang meski tahu jurang sudah menunggu. Karena di tangan Aslan Abidin, bahkan mabuk dan kematian pun bisa tampak puitis—dan kita hanya bisa ikut tersenyum getir sambil bertanya: “Kalau aku mabuk, siapa yang akan kupeluk di ujung puisi ini?”

2025

*

Kelamin Lil Alamin

pernahkah kau mengalami
nasib seperti ini? terbangun suatu pagi:

membuka jendela
menghirup udara segar, menatap bunga
mekar, dan mendengar burung berkicau
merdu.

tetapi merasa ada yang tak wajar
mengganjal? seperti ada yang tertukar
dalam dirimu: tubuh dan kelaminmu
tak sesuai dengan jiwamu.

seperti salah pasang.

seolah jiwa perempuan terkurung
di tubuh lelaki atau jiwa lelaki terjebak
dalam tubuh perempuan. terasa tidak
sepadan, tak sejalan.

—”kau melihatku menari sebagai
lelaki dan aku menangisi jiwaku sebagai
perempuan.”

pernahkah kau mengalami
nasib seperti ini? terus-menerus bertikai
dengan tubuh dan kelamin sendiri, tetapi
malah dikutuk orang-orang sok suci?

—”kau menatapku bernyanyi
sebagai perempuan dan aku meratapi
jiwaku sebagai lelaki.”

meski terbolak-balik, derita-
bahagiamu, jalan hidup, tubuh beserta
kelaminmu adalah hak-guna dan juga
hak-milikmu sepenuhnya.

pilih dan ganti
kelaminmu sendiri. kita tidak sedang di
toko kelontong dengan tulisan peringatan di
belakang kasir: kelamin yang telah dibeli
tidak dapat ditukar kembali.

mari, kenakan kelamin yang kita
suka. sesuaikan bentuk dan rasanya.

kelamin yang merdeka dari penjajahan,
mencerdaskan kehidupan bangsa, dan
ikut melaksanakan ketertiban dunia.
tubuh dan
kelaminmu adalah milikmu. jangan
serahkan ke politisi atau agamawan.

semoga kelak kau mengalami
nasib seperti ini: terbangun suatu pagi,
merasa ada yang tertukar dalam dirimu,
kelaminmu tak sesuai dengan jiwamu.

Makassar 2018
*

The End

aku tak bisa tidur. hanya bersandar
          selonjor melengkung di dinding kamar.
                 aku telah menelan dua pil excimer.

sebentar lagi semua menjadi samar.

aku hanya berdua bayanganku. kami
               minum dari seloki yang sama. —ini
                            wiski atau pembersih lantai?

—apakah ada yang akan peduli?

setelah botol-botol kosong
             dan pandangan meremang, melayang
             kami ke masa kanak dahulu: bermain
ayunan di bawah pohon flamboyan. 

“berayun tinggi ke udara, anakku.
          melesat ke masa depan!” kata ayah-ibu.

    tetapi hanya bayanganku memanjang maju
dan memendek mundur mendekat padaku.
               ayah-ibu, entah di mana engkau kini. 

             di malam larut dan dingin seburuk ini.
aku mendengar jim morrison
           berbisik: the killer awoke before dawn.

          kemudian pergi naik bus berwarna biru.

sopirnya menyeringai keji ke arahku.
aku seperti mengenalnya,
              berserban dan berbaju kurung warna
               putih: ow, malaikat pencabut nyawa
dalam kitab suci orang arabia.

ya, pembunuh bangun
                   sebelum fajar. dan aku amat ingin
                 melihat setangkai mawar. mengapa
begitu sulit membuka mata?
this is the end, my only friend. the
                             end it hurts to set your free.

                    but you’ll never follow me. … the
end of nigths we tried to die.

ayah-ibu, entah berada di
                mana aku kini. menggigil sendiri di
                 malam larut dan dingin seburuk ini:
dikuliti nasib sebegitu keji.

Makassar 2018

*

Aku Tunggu di Losmen Bulan Kelabu

   hanya bulan warna kelabu serta angin
   merangkak diam-diam di keremangan.

   di kejauhan, seseorang memukul ragu
   kentongan, sekali. –aku mengingatmu.

   seakan kau  terlentang  di kusut seprei,
   lenguh tertahan  menjengang samar di
   udara kamar serta bau tubuhmu sesaki
   handuk basah. tak kusangka kau pergi.

   meninggalkan aku dicekam sepi serta
   tubuh sendiri tanpa pemeluk. juga sisa
   desak berluap birahi. cinta bisa begitu
   ceroboh. datang telat, minggat terburu.

   di sebuah losmen tua sepi pinggir kota,
   apakah yang bisa dipertahankan? –kita
   entah pengembara atau buron— bersua
   di perjalanan, terperangkap birahi cinta.

   lalu, jendela samarkan sopir-sopir truk
   tiba. disambut dara-dara sintal merajuk
   masuki kamar. –terdengar suara serupa
   dua orang– berpacu menunggang kuda.

   kau, di mana saja berada, aku masih di
   losmen dulu. menunggumu. juga lelaki
   lain –yang suka singgah untuk berpacu.

   dari luar kamar, kau bisa kenal suaraku.

   setiap kali berpacu –dengan siapa-pun,
   aku sebut namamu, seperti melafalkan
   zikir: as.. as.. as.. –mari kita bersungga.

   kau boleh menyebut nama— siapa saja.

   aku tetap: as.. as.. as.. sebab di bawah
   bulan kelabu, di sebuah losmen murah,
   tiada cara bertahan, selain lenguh licik:
   terus berpacu dari kejaran nasib buruk.

   Sumenep-Makassar 2008-2019

*

Bad Trip

ada selembar perangko kecil –bergambar wajah
marilyn monroe— aku letakkan di tengah lidah.

aku segera melayang di antara bermacam benda
yang mengambang berpendaran berbagai warna.

sebuah perjalanan panjang. aku dikirim menuju
masa  silam. –aku ternyata dapat melihat diriku:
berkelahi di jalanan, tidak naik kelas, juga jatuh
cinta—  aku ingin pulang, tetapi tidak tahu arah.

setelah terbenam jauh ke dalam lupa, dosa-dosa
berubah  jadi  kenangan  warna-warni. aku  juga
mencium bau  parfum  yang  kau pakai  sewaktu
pesta  ulang  tahunmu  yang ke  dua  puluh  satu.

jasmine,  violet,  serta  musk  memenuhi  rongga
hidung.  aku  telah jatuh cinta  —dan celakanya,
juga  berdoa  agar kau  sedia  menerima cintaku.

namun entah mengapa  tak aku katakan padamu.

aku kapok berdoa,  takut berubah  seperti orang-
orang  brengsek berjubah  putih yang  meradang
mengacau di jalanan dan berteriak:  kafir!  kafir!
singkirkan kafir! –hingga mereka dibekap banjir.

menjadi dewasa adalah petaka.  usia tidak lebih
dari tumpukan kesepian.  merasa amat berteguh
untuk memelukmu, tetapi ujung-ujung jemariku
mati rasa, kakiku panas, dan  tubuhku jadi kaku.

aku bermimpi melihatmu berdiri di bawah bulan
di tepi sebuah jurang. memandangi kemurungan
memanjang ke gelap langit tak berujung. –bulan
tertutup awan dan  kau menghilang tertiup angin.

aku juga masih suka mendengar lagu yang dulu:

i know that you think, you sound silly when you
call my name (my name). but i hear it inside my
head all day– kau masih hidup atau sudah mati?
kota ini begitu bising.  telingaku sakit. aku kini
tinggal  dalam  kamar sempit  apartemen  tinggi.

setiap bangun membuka mata, aku memandang
jendela membukakan  dunia yang begitu lapang.

seperti memanggil-manggil untuk segera terjun
melayang menuju tempat  tanpa  kesedihan  dan
rasa sakit. aku mendekati kedamaian kekal. satu
lompatan kecil  —dan aku akan sampai padamu.

Makassar 2020

—i know that you… (dst),  feels like we
   only go backwards, dari album lonerism,
   tame impala, 2012.

Biodata Aslan Abidin

Aslan Abidin, menulis puisi antara lain di Horison, Basis, Jurnal PuisiRepublikaKompas, Media Indonesia, Indopost, dan media online. Juga dibukukan dalam Mimbar  Penyair  Abad 21 (Balai Pustaka, 1996), Sastrawan Angkatan 2000 (Grasindo, 2000), Kitab Puisi Horison Sastra Indonesia (Horison 2002), Puisi tak Pernah Pergi (Buku Kompas, 2003), Tak Ada yang Mencintaimu Setulus Kematian (Logung Pustaka, 2004), Poetry and Sincerity  (DKJ, 2006), Tongue in Your Ear (FKY, 2007), Whats Poetry? (Henk Publica, 2012), Puisi Terakhir dari Laut (BWCF, 2013), Serumpun Kata Serumpun Cerita (Disbudpar Riau, 2013), Gelombang Puisi Maritim (DKB, 2016), Antologi Puisi Indonesia (Yayasan Lontar, 2017). Buku puisi tunggal, Bahaya Laten Malam Pengantin (Ininnawa, 2008), diterbitkan ulang dengan judul Orkestra Pemakaman (KPG, 2018), Bagian Paling Perih dari Mencintai (KPG, 2020), dan buku esai Menunggu Rakyat Bunuh Diri (Basabasi, 2020).

Menghadiri undangan Dewan Kesenian Jakarta baca puisi di Taman Ismail Marsuki Jakarta dalam Mimbar Penyair Abad 21 (1996), Pembacaan Sajak Penyair Delapan Kota (1998), Cakrawala Sastra Indonesia (2004), dan Indonesia International Poetry Festival (2006).  Mengikuti Program Penulisan Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) Puisi 2002 di Cisarua; Ubud Writers and Readers Festival 2004 Ubud; Festival Kesenian Yogyakarta 2007; Festival Puisi International Indonesia 2012 Surabaya; Borobudur Writers and Cultural  Festival 2013 Magelang; Pertemuan Sastrawan Nusantara XVII 2013 Pekanbaru, Festival Sastra Banggai 2016 Luwuk-Banggai, Muktamar Sastra 2018 Situbondo, Bangkalan Literary Festival Bangkalan 2018, serta Jogja Literary Festival di Yogyakarta.

Menyelesaikan kuliah S1 Sastra Indonesia di Universitas Hasanuddin, S2 Ilmu Sastra di Pascasarjana Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, dan S3 Ilmu Linguistik di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin Makassar. Pernah bekerja sebagai redaktur di Harian Pare Pos, Tribun Timur, dan Pedoman Rakyat. Sekarang dosen Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Makassar dan rektor Institut Sastra Makassar (ISM) Makassar. Email aslanabidin10@gmail.com. Instagram: @aslanabidin_.

Back to top button