Mengenang Trisno PAS Band, dari Saparua hingga Senayan

Riuh moshing di GOR Saparua dan megahnya panggung Senayan kini menjadi memori manis, memori jejak perjalanan Trisno bassist PAS Band yang telah berpulang.
WWW.JERNIH.CO – Ada frekuensi yang mendadak hilang dari denyut nadir Kota Bandung. Ketika jemari yang dahulu memetik senar-senar tebal itu resmi beristirahat, ruang ingatan dunia rock mendadak dipenuhi gema yang tak akan pernah benar-benar pudar.
Perjuangan panjang Bambang “Trisno” Sutrisno, pencabik bass PAS Band melawan sakitnya telah usai. Musisi, sekaligus rocker sejati itu telah kembali ke haribaan Allah SWT, meninggalkan sebuah pusaka berupa rekaman masa muda yang pernah meledak-ledak di dada ribuan anak manusia.
Mengenang Trisno berarti memutar kembali pita kaset ke medio 1990-an. Saat itu, PAS Band hadir bukan cuma sebagai penyalur hasrat punk rock atau rock alternatif. Di sudut-sudut Parahyangan, mereka menjelma fenomena kebudayaan—sosok-sosok yang disembah bagai ‘dewa’ oleh anak-anak muda berkulit jaket kulit dan berjarum peniti, sebelum akhirnya magnet energi mereka meluap dan membakar adrenalin di seluruh penjuru Nusantara.
Gelanggang Olahraga (GOR) Saparua menjadi kawah candradimuka paling sakral. Di tempat inilah Trisno dan PAS Band merobek batas tebal antara panggung dan penonton. Pertunjukan mereka adalah manifestasi kerusuhan yang indah.
Penonton dan band seolah bertukar frekuensi jiwa; ribuan pasang kaki tahu persis detik ke berapa mereka harus melompat, memutar lingkaran moshing, hingga meremukkan udara lewat teriakan sing-along, seakan-akan susunan setlist telah terpahat di dalam tempurung kepala. Dari rahim Saparua itulah, Trisno dan kawan-kawan menjadi cetak biru sekaligus inspirator utama lahirnya ribuan band lokal era 90-an.

Dalam arsitektur musik PAS Band, denyut alur sangat bertumpu pada ketukan jemari Trisno. Permainan bass-nya dikenal padat, dinamis, dan penuh tenaga. Meski penampilannya di atas panggung kerap terkesan dingin dan tenang, letupan groove yang ia hasilkan sanggup menggetarkan fondasi arena. Puncaknya selalu terjadi saat lagu “Impresi” ditiupkan sebagai gacoan pamungkas. Begitu pukulan drum membuka lagu, lalu diteruskan dentuman bass lagu tersebut seolah mengudara, arena seketika meledak dalam euforia tak tertandingi.
Menariknya, kejeniusan Trisno tak hanya terbatas pada lagu-lagu berkecepatan tinggi. Jangkauan permainan bass-nya sangat luas, mampu meresap lembut ke dalam tembang-tembang bertempo lambat seperti “Kesepian Kita”, “Aku”, “Permata Yang Hilang”, hingga “Malam Tetaplah Malam”. Di lagu-lagu syahdu ini, Trisno tidak kehilangan taji—ia memberi nyawa dan kedalaman nada yang tetap berkarakter kuat, membuktikan betapa matangnya rasa musik yang ia miliki.
Langkah Trisno bersama PAS Band terus melompat tinggi melampaui batas lokal. Sejarah mencatat momen monumental ketika mereka terpilih menjadi wakil Indonesia—bersama Netral dan Nugie—di ajang Jakarta Pop Alternative Festival di Stadion Senayan. Berada di arena yang sama dengan raksasa musik dunia seperti Beastie Boys, Foo Fighters, dan Sonic Youth, kebanggaan anak-anak Bandung membumbung tinggi.
Petualangan mereka bersama Majalah Hai pun membawa PAS Band berkelana dari panggung ke panggung, wara-wiri menghiasi sampul majalah remaja paling bergengsi kala itu. Namun di tengah kepungan popularitas dan sorot lampu panggung, Trisno tetaplah Trisno yang dikenal kawan-kawannya: pribadi yang bersahaja, rendah hati, dan teguh menapak jalurnya sebagai rocker sejati.
Latar belakang pendidikannya sebagai mahasiswa Sastra Jerman memberikan warna dan sentuhan estetika yang unik dalam perjalanan karyanya. Salah satu jejak literasi yang manis terekam dalam album Individuality (1997) melalui lagu bertajuk “Schiebung des Mädchen.”
Meski lagu ini terbilang simpel dan jarang dibawakan dalam panggung-panggung komersial berskala besar, susunan irama dan komposisinya menjadi bukti betapa cantiknya spektrum pemikiran seorang Trisno. Di balik raungan musik keras yang diusungnya, tersimpan kedalaman artistik yang dipikirkan dengan sangat matang.
Kini, panggung pertunjukan telah hening dan dentuman bass itu tak lagi terdengar secara langsung. Trisno telah lepas dari segala rasa sakit yang pernah dipikulnya, meninggalkan warisan karya yang abadi, kebaikan yang membekas, serta ribuan memori manis tentang cara merayakan masa muda.
Selamat jalan, Trisno. (*)
BACA JUGA: Synchronize Festival 2025: Saling Silang, Satu Dekade Merayakan Musik dan Seni Indonesia
