
Indonesia Investment Authority (INA) resmi mengucurkan investasi raksasa untuk pengembangan pusat data hyperscale DayOne di Batam. Apa yang diharapkan?
WWW.JERNIH.CO – Pemerintah Indonesia memperkuat fondasi ekonomi digital nasional melalui langkah terobosan yang dicanangkan oleh lembaga pengelola dana abadi (sovereign wealth fund). Salah satu pijakan terpenting dari ambisi ini ditandai dengan kemitraan investasi strategis antara Indonesia Investment Authority (INA)—yang kini beroperasi di bawah naungan ekosistem BPI Danantara—dengan penyedia pusat data regional terkemuka, DayOne Data Centers Limited.
Dipimpin oleh Oki Ramadhana selaku Ketua Dewan Direktur dan CEO sejak Februari 2026, INA menyalurkan modal ke sektor-sektor prioritas berorientasi masa depan.
INA berada dalam struktur Danantara Investment Management yang mengemban tugas spesifik untuk menggalang investasi asing (Foreign Direct Investment) serta membentuk kemitraan modal (joint venture). Berbeda dengan divisi penataan BUMN, INA mengkhususkan diri pada pembiayaan ekuitas dan investasi jangka panjang di empat pilar utama: infrastruktur digital, transisi energi hijau, infrastruktur fisik-logistik, serta layanan kesehatan.
Di bawah nakhoda Oki Ramadhana—seorang veteran investment banking yang pernah memimpin Mandiri Sekuritas serta berkiprah di HSBC dan Morgan Stanley—INA mengarahkan daya gempur investasinya untuk menyokong kedaulatan digital Indonesia.
DayOne Data
Target ekspansi kali ini jatuh pada DayOne Data, sebuah raksasa pusat data yang berkantor pusat di Singapura dengan konsorsium investor internasional di belakangnya serta dipimpin oleh William Huang selaku Chairman dan Jamie Khoo sebagai CEO.
Meskipun memiliki jaringan regional meluas hingga Johor, Bangkok, Hong Kong, dan Tokyo, daya tarik utama investasi ini bertumpu pada proyek joint venture mereka yang berlokasi di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Nongsa Digital Park (NDP), Batam, Kepulauan Riau.
Sumber dana investasi pembiayaan megaproyek ini datang dari kolaborasi pembiayaan ekuitas INA bersama sokongan fasilitas pinjaman konsorsium perbankan regional ternama, yaitu DBS Bank dan UOB Bank. Konsorsium perbankan ini mengucurkan pinjaman berdenominasi Rupiah senilai Rp6,7 triliun. Angka ini tercatat sebagai salah satu fasilitas kredit Rupiah terbesar dalam sejarah infrastruktur digital Indonesia.
Keputusan INA menanamkan modal di DayOne dilandasi oleh pertimbangan strategis. Pertama, adanya ledakan permintaan komputasi awan (cloud computing), Internet of Things (IoT), dan teknologi Kecerdasan Buatan (AI) di kawasan Asia Tenggara. Kedua, posisi geografis Batam sangat ideal sebagai gerbang data berlatensi rendah untuk menangkap limpahan (spillover) kebutuhan pusat data dari Singapura yang makin terbatas lahan dan energinya.
Selain itu, proyek ini mengusung konsep Green Data Center berkapasitas 72,4 MW IT Load yang memanfaatkan energi terbarukan dan solusi Smart DC ramah lingkungan, sejalan dengan regulasi data onshoring untuk menjaga kedaulatan data nasional.
Langkah investasi ini diharapkan memberikan serangkaian keuntungan nyata yang sangat vital bagi Indonesia. Dari sisi kedaulatan data, ketersediaan pusat data hyperscale di dalam negeri memastikan data-data krusial masyarakat dan industri disimpan secara aman sesuai regulasi nasional tanpa harus bergantung pada server luar negeri.
Secara ekonomi, kehadiran proyek ini inginnya menyerap tenaga kerja lokal berketerampilan tinggi, merangsang ekosistem startup dan teknologi di Batam, serta meningkatkan penerimaan daerah dan negara. Terakhir, keberhasilan INA menggaet investor global seperti DayOne, DBS, dan UOB makin memperkuat kepercayaan dunia internasional terhadap iklim investasi infrastruktur digital di Indonesia.(*)






