Veritas

Cahaya Lampion dan Malam Imlek 2571 di Kelenteng Hok Tek Bio Ciamis

CIAMIS – Kelenteng Hok Tek Bio yang berada di Jalan Ampera II No. 17 Ciamis tampak semarak menjelang tahun baru Imlek tiba. Sejak jumat siang (24/1/2020), untaian lampion yang dipasang pada beberapa batang bambu tampak menghiasi pagar dan gerbang kelenteng. Dua patung Kilin yang menyimbolkan makhluk cinta kasih serta penolak bala tampak dicat berkilau dalam 5 unsur warna bumi, namun warna hijau sebagai simbol unsur langit tampak mendominasi tubuh Kilin yang tampak ramah menyambut siapapun yang masuk atau sekedar lewat di depan  kelenteng.

Kegiatan menyambut tahun baru Imlek juga diawali dengan membersihkan dan mengecat kembali bangunan kelenteng. Demikian pula patung-patung dewa  yang ada di dalam ruangan turut dibersihkan dan didandani lagi. Siapapun diperbolehkan ikut dalam kegiatan ini. Namun untuk membersihkan patung Dewi Kwan Im harus dilakukan oleh wanita. Kegiatan tersebut bertujuan untuk merawat dan melestarikan kelenteng sekaligus simbol bagi setiap individu untuk menjadi pribadi yang lebih bersih dan lebih baik ditahun baru Imlek.

Imlek selalu bersamaan dengan musim hujan, maka ketika malam semakin larut, sebagian wilayah di kabupaten Ciamis di guyur hujan.  Namun di Ciamis, di kawasan Kelenteng Hok Tek Bio Ciamis hujan rupanya enggan turun. Hal itu menjadikan cahaya dari puluhan lampion tampak jernih bersinar. Suasana khusyuk semakin terasa saat lilin-lilin berukiran besar dengan berat puluhan sampai ratusan kati mulai dinyalakan lepas tengah malam. Cahayanya menyinari ruangan kelenteng, menerangi harapan-harapan baru.

Warga keturunan Tionghoa yang hadir tampak khidmat meresapi detik-detik pergantian Tahun Baru Imlek dengan melakukan sembahyang akhir tahun. Asap hio yang selalu mengalun dan aromanya menyusup sampai luar kelenteng membuhulkan doa-doa harapan keselamatan dan keberkahan pada Thian di tahun baru ini. Kegiatan tersebut dipimpin oleh Widi Priatna dan sebagai penanggungjawabnya adalah Andi Senjaya, Ketua Makin Ciamis.

Baca juga : Kelenteng Hok Tek Bio, Bukti Eksistensi Pecinan di Ciamis

Di dalam ruangan Kelenteng Hok Tek Bio, terdapat beberapa ‘kam’ (altar), yaitu altar Dewa Hian Thian Siang Tee, yaitu dewa yang paling terkenal dan dihormati secara luas dari Tingkok Utara sampai Selatan, Taiwan, Malaysia dan Indonesia. Hian Thian Siang Tee berkedudukan berkuasa di langit utara dan menjadi pemimpin para dewa di kawasan tersebut.  Kemudian terdapat altar untuk Dewa Wu Lu Cai Sen, dewa kekayaan, harta, atau rezeki.

Altar lainnya untuk Dewa Ho Tek Cheng Sin, yaitu Dewa Bumi yang berwenang mengatur kemakmuran dan rezeki.  Di pojok kiri terdapat altar Dewa Kwan Sing Te Kun, yaitu orang suci yang didewakan karena sangat berjasa bagi pengembangan agama Khonghucu yang wajib untuk dimuliakan. Di pojok kanan terdapat altar Dewi Kwan In Pau Sat, sosok lembut yang dikenal sebagai dewi welas asih. Sedangkan Di bawah altar utama terdapat ruang sesaji untuk Fu Sen yaitu dewa yang berwujud harimau sebagai pelindung kelenteng.

Kegiatan sembahyang bagi umat Khonghucu, Buddha maupun Tao juga berlangsung di hari pertama Imlek sampai hari-hari berikutnya. Pengunjung yang datang bersama keluarganya tampak datang silih berganti menyambangi Kelenteng Hok Tek Bio. Selain melakukan sembahyang  di dalam ruangan,  mereka juga melakukan ritual di depan hio-lo besar berkaki tiga dan berwarna emas  yang diletakan di halaman kelenteng untuk memuja Dewa Langit. Setelah itu diantara pengunjung ada yang membakar Kim Coa (kertas emas)  bergambar Dewa Hok (Dewa rezeki), Lok (Dewa keturunan & kebahagiaan), dan Siu (Dewa panjang umur).

Setelah sembahyang ada yang mencoba peruntungan ditahun baru ini dengan melakukan ciam si, yaitu mengocok batang-batang bambu dalam tabung bambu sampai salah satu batang bambu terlontar keluar. Nomor yang ada dalam batang bambu kemudian dicocokan dengan nomor kertas yang berisi syair yang menyiratkan ramalan dimasa depan. Selain itu dilakukan juga sembahyang untuk para leluhur. Bagi sebagian warga keturunan Tionghoa Di Ciamis, moment tersebut dijadikan ajang ramah tamah dan kongkouw sambil menikmati sajian makanan khas imlek.

Untuk pengamanan Imlek, berdasarkan informasi Kabid Humas Polda Jabar, kegiatan Imlek yang mulai dilaksanakan hari Jumaat tanggal 24 Januari 2020 sampai lewat tengah malam di hari Sabtu  tersebut mendapat kawalan pengamanan 84 personel yang merupakan tim gabungan dari Polres Ciamis, Kodim 0613 Ciamis, Damkar Ciamis dan Satpol PP Ciamis dibawah pimpinan Waka Polres Ciamis, Kompil Ari Setyawan W, S.H., S.I.K., M.Si. Kegiatan pengamanan tersebut akan berlangsung selama 4 hari.   Sedangkan perayaan  Imlek akan berlangsung sampai 15 hari dan ditutup dengan Cap Go Meh.

Di tahun 2020, Perayaan Tahun Baru Imlek sebagai tradisi kuno telah menginjak yang ke  2571 tahun. Imlek tahun ini merupakan siklus awal Tahun Tikus, shio pertama dalam zodiak China. Sebagai perayaan pergantian tahun maka Imlek diperingati secara luas oleh warga keturunan Tionghoa di manapun berada. Namun istilah  Imlek tidak digunakan di China, hanya yang digunakan di Indonesia.  Di China, tahun baru disebut Xian Jia atau Guo Nian yang artinya bulan baru atau lewati bulan.

Kelenteng Hok Tek Bio di Kabupaten Ciamis merupakan satu-satunya kelenteng di Ciamis yang rutin merayakan Imlek dan tidak saja dihadiri umat dari Ciamis, namun juga dari Pangandaran, Banjar dan Tasikmalaya.  Menurut salah satu warga Ciamis keturunan Tionghoa yang enggan disebut namanya, Kelenteng Hok Tek Bio selain menjadi tempat sembahyang bagi penganut Khong Hu Cu, namun dapat juga digunakan bagi penganut Tao dan Buddha, serta terbuka bagi siapapun untuk mengunjunginya. Berbeda dengan vihara yang merupakan rumah ibadah bagi Agama Buddha.

Warga keturunan Tionghoa yang merayakan Imlek di Kelenteng Hok Tek Bio Ciamis setiap tahun semakin sedikit karena tradisi di klenteng tersebut kian pudar. Generasi muda keturunan Tionghoa saat ini kurang mengenal lagi tradisi leluhurnya. Selain karena orientasi budaya yang berubah, juga banyak yang melakukan konversi agama dari Kong Hu Cu ke Kristen atau Islam. Beberapa sesepuh yang dulu aktif bergiat di kelenteng telah  meninggal dunia sehingga tidak sempat mewariskan tradisi di Kelenteng

Diperkirakan saat ini warga keturunan Tionghoa yang tinggal di Ciamis sekitar 200 orang dan sebagain besar tinggal di sekitar Kelenteng Hok Tek Bio dulunya yang dulunya merupakan kawasan Pecinan. Kini warga keturunan Tionghoa yang aktif di Kelenteng Hok Tek Bio umumnya yang sudah berusia sepuh.

Dana yang kurang mencukupi untuk menyokong kegiatan menjadi kendala untuk pengembangan kegiatan lainnya di kelenteng. Saat ini perawatan dan aktivitas di Kelenteng Hok Tek Bio didapatkan dari donasi pengusaha setempat dan sumbangan-sumbangan umat. Demikian pula keberadaan Majelis Kong Hucu Indonesia (MAKIN) di Ciamis, yang bangunannya hanya beberapa meter di depan kelenteng masih berperan besar menyangga keberlangsungan kelenteng Hok Tek Bio, sehingga nyala lampion masih dapat dilihat setiap Imlek di Ciamis.

Back to top button