
Proklamasi kemerdekaan kerap dipandang sebagai momen sakral nan kaku. Namun di balik lembaran kertas bersejarah tersebut, tersimpan deretan kisah unik yang jarang terjamah sejarah populer.
WWW.JERNIH.CO – Tentang kemerdekaan dan naskah proklamasi kemerdekaan ada beraneka rupa dan cerita. Kisah-kisah tersebut sringkali tak terjamah dan hanya menjadi bagian kecil dari perjalanan sejarah kemerdekaan sebuah bangsa.
Namun kisahnya yang unik justru bisa menjadi daya tarik tersendiri, seperti yang terjadi di beberapa negara berikut;
Amerika Serikat: Tanda Tangan Raksasa Penuh Tantangan
Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat (Declaration of Independence) yang disahkan pada 4 Juli 1776 menyimpan kisah menarik pada baris penandatanganannya. John Hancock, Presiden Kongres Kontinental saat itu, membubuhkan tanda tangan berukuran sangat besar tepat di tengah dokumen, jauh lebih besar daripada penandatangan lainnya.
Kisah populer menyebutkan bahwa Hancock sengaja menandatanganinya dengan ukuran raksasa agar Raja George III dari Inggris bisa membacanya tanpa perlu memakai kacamata. Hal ini menjadi simbol keberanian karena menandatangani dokumen tersebut saat itu dianggap sebagai tindakan pengkhianatan berat (high treason) terhadap Kerajaan Inggris yang berisiko hukuman mati.
Finlandia: Deklarasi Singkat yang Lahir dari Kekacauan Bolshevik
Finlandia memproklamasikan kemerdekaannya dari Kekaisaran Rusia pada 6 Desember 1917. Keunikan naskah deklarasi ini adalah wujudnya yang sangat pragmatis dan bernuansa legalistik-birokratis, bukan puisi heroik. Naskah ini sebenarnya merupakan bagian dari rancangan konstitusi baru yang diajukan oleh Senat Finlandia di bawah pimpinan Pehr Evind Svinhufvud.
Kisah di baliknya bermula saat Revolusi Bolshevik meletus di Rusia. Pemimpin Finlandia memanfaatkan momen kekosongan kekuasaan di Petrograd (St. Petersburg) untuk dengan cepat mengajukan deklarasi ke parlemen. Merekapun mengirim delegasi langsung ke Vladimir Lenin di Rusia untuk meminta pengakuan resmi, menjadikan Finlandia salah satu negara yang meraih kemerdekaan lewat mekanisme formal yang diakui langsung oleh rezim yang baru saja mereka tinggalkan.
Haiti: Deklarasi Berdarah dan Penuh Kemarahan
Deklarasi Kemerdekaan Haiti yang dibacakan oleh Jean-Jacques Dessalines pada 1 Januari 1804 merupakan deklarasi kemerdekaan pertama yang dipimpin oleh mantan budak sekaligus Republik Kulit Hitam pertama di dunia. Keunikan utama naskah ini terletak pada bahasanya yang sangat keras, emosional, dan tidak mengandalkan norma diplomasi konvensional.
Setelah memenangkan perang revolusi yang sangat berdarah melawan pasukan Napoleon Bonaparte dari Prancis, Dessalines menolak draf awal deklarasi yang ditulis oleh sekretarisnya karena dianggap terlalu tenang dan bergaya Eropa. Salah satu perwiranya, Louis Boisrond-Tonnerre, kemudian berseru: “Untuk menulis deklarasi kemerdekaan kita, kita membutuhkan kulit orang kulit putih sebagai perkamen, tengkorak mereka sebagai tempat tinta, darah mereka sebagai tinta, dan bayonet sebagai pena!”
Dessalines menyukai semangat itu dan memerintahkan Boisrond-Tonnerre menyusun ulang naskah tersebut. Hasilnya adalah dokumen yang secara eksplisit mengutuk penjajahan Prancis, bersumpah untuk memuat rasa benci abadi kepada penindas, dan memilih kematian daripada hidup dalam perbudakan kembali.
Vietnam: Mengutip Deklarasi Amerika untuk Menyindir Penjajah
Pada 2 September 1945, Ho Chi Minh membacakan Deklarasi Kemerdekaan Republik Demokratik Vietnam di Alun-Alun Ba Dinh, Hanoi. Keunikan naskah ini adalah paragraf pembukanya yang secara langsung mengutip Deklarasi Kemerdekaan Amerika Serikat tahun 1776 dan Declaration of the Rights of Man and of the Citizen milik Prancis tahun 1789.
Ho Chi Minh secara cerdik menggunakan kalimat terkenal dari AS: “Semua manusia diciptakan sama…” untuk menelanjangi kemunafikan Prancis dan sekutu Barat. Strategi ini bertujuan untuk menarik simpati Amerika Serikat agar mendukung kemerdekaan Vietnam dari penjajahan Prancis. Petugas OSS (cikal bakal CIA) AS yang berada di lokasi saat itu bahkan terkejut mendengar kutipan dari dokumen sejarah mereka sendiri dibacakan di Hanoi.
Singapura: Proklamasi Kemerdekaan Tanpa Perang
Proklamasi Kemerdekaan Singapura disiarkan pada 9 Agustus 1965 oleh Perdana Menteri Lee Kuan Yew. Keunikan dokumen ini adalah kemerdekaan yang didapat bukan dari hasil perjuangan mengusir penjajah, melainkan akibat ‘dikeluarkan’ atau dipisahkan secara sepihak oleh Federasi Malaysia.
Naskah ini disusun secara tergesa-gesa dalam kerahasiaan tinggi menyusul ketegangan rasial dan politik antara pemerintah pusat di Kuala Lumpur dan Singapura. Saat menyampaikan pengumuman dan membacakan proklamasi tersebut di televisi, Lee Kuan Yew tidak mampu menahan air mata karena ia sebenarnya memperjuangkan penyatuan dengan Malaysia, bukan perpisahan.
Albania: Ditulis Menggunakan Bahasa yang Belum Memiliki Ejaan Baku
Albania memproklamasikan kemerdekaannya dari Kekaisaran Utsmaniyah (Ottoman) pada 28 November 1912 di Vlorë. Keunikan naskah ini adalah di-draft menggunakan bahasa Albania yang saat itu belum memiliki sistem ejaan baku (orthography) resmi.
Selama berabad-abad di bawah kekuasaan Utsmaniyah, penggunaan bahasa Albania dalam tulisan resmi sangat dibatasi. Baru pada Kongres Manastir tahun 1908 disepakati alfabet Latin untuk bahasa Albania, namun masyarakat dan para delegasi belum terbiasa menggunakannya. Akibatnya, naskah Deklarasi Vlorë ditulis menggunakan campuran kosakata dialek lokal dan beberapa ungkapan birokrasi Turki Utsmaniyah yang masih melekat pada para penyusunnya.
Kosta Rika: Baru Tahu Kalau Merdeka Sebulan Kemudian
Naskah Acta de Independencia de América Central yang ditandatangani di Guatemala pada 15 September 1821 menyatakan kemerdekaan seluruh wilayah Amerika Tengah dari Spanyol. Keunikannya, rakyat Kosta Rika baru membaca dan mengetahui naskah deklarasi kemerdekaan mereka hampir satu bulan kemudian.
Pada abad ke-19, Kosta Rika adalah provinsi paling selatan dan terisolasi di Amerika Tengah. Ketika deklarasi disahkan di Guatemala, naskah tersebut dibawa oleh kurir berkuda menembus hutan belakangan dan pegunungan. Dokumen bersejarah tersebut baru tiba di Cartago (ibu kota Kosta Rika saat itu) pada 13 Oktober 1821. Warga Kosta Rika merdeka tanpa mengangkat senjata, bahkan tanpa menyadari bahwa mereka sudah merdeka selama beberapa minggu.
Irlandia: Dicetak Menggunakan Mesin Rusak di Tengah Pengepungan
Proklamasi Republik Irlandia (Poblacht na hÉireann) dibacakan oleh Patrick Pearse pada 24 April 1916 di Dublin, menandai dimulainya Pemberontakan Paskah (Easter Rising). Keunikan naskah ini adalah cetakan dokumen aslinya yang menggunakan jenis huruf (font) tidak seragam karena kekurangan huruf.
Naskah ini dicetak secara rahasia di gedung Liberty Hall pada malam sebelum pemberontakan. Mesin cetak yang digunakan sudah tua dan kekurangan cetakan huruf timah. Akibatnya, juru cetak harus mencetak dokumen ini dalam dua bagian terpisah karena jumlah huruf “e” tidak mencukupi.
Pada beberapa kata, huruf “e” diganti dengan cetakan huruf lain yang dimodifikasi. Selain itu, karena kehabisan tinta dan ketersediaan kertas yang terbatas, hanya ada beberapa ratus salinan yang berhasil dibuat sebelum gedung tersebut dibom oleh pasukan Inggris.
Cekoslovakia: Dibuat dan Disahkan di Luar Negeri
Deklarasi Kemerdekaan Cekoslovakia (Deklarace neodvislosti československého národa) diterbitkan pada 18 Oktober 1918. Keunikannya, naskah kemerdekaan negara di Eropa Tengah ini ditulis, ditandatangani, dan diumumkan di Washington D.C., Amerika Serikat.
Tokoh pergerakan Tomáš Garrigue Masaryk tidak berada di negaranya saat menyusun deklarasi pengakhiran kekuasaan Kekaisaran Austria-Hongaria. Ia berada di AS untuk menggalang dukungan politik. Naskah deklarasinya ditulis dalam bahasa Inggris dengan mengutip prinsip-prinsip demokrasi Amerika Serikat serta Deklarasi Kemerdekaan AS.
Setelah mendapatkan persetujuan Presiden AS Woodrow Wilson di Washington D.C., barulah kemerdekaan tersebut diproklamasikan di Praha sepuluh hari kemudian.
Korea: Dideklarasikan Diam-diam Lalu Disembunyikan di Pakaian
Deklarasi Kemerdekaan Korea dibacakan pada 1 Maret 1919 di Taman Tapgol, Seoul. Keunikannya adalah naskah ini memuat daftar nama 33 tokoh (National Representatives) yang siap menyerahkan diri ke polisi Jepang segera setelah teks selesai dibacakan.
Di bawah pendudukan militer Kekaisaran Jepang yang sangat ketat, mencetak dan menyebarkan naskah kemerdekaan adalah tindakan bunuh diri. Lebih dari 21.000 salinan draf naskah dicetak secara rahasia di sebuah percetakan di Seoul pada malam hari.
Salinan-salinan tersebut kemudian dilipat hingga sangat kecil dan disembunyikan di dalam lipatan baju tradisional (hanbok) para aktivis pelajar untuk didistribusikan ke seluruh penjuru negeri sebelum hari aksi Gerakan 1 Maret dimulai.
Islandia: Deklarasi di Tengah Bencana Letusan Gunung Berapi
Islandia memproklamasikan kemerdekaannya secara penuh dari Kerajaan Denmark pada 17 Juni 1944 di Þingvellir (Thingvellir). Keunikan deklarasi ini adalah lokasi pembacaannya yang dilakukan di lapangan terbuka bekas dataran vulkanik purba saat kondisi cuaca ekstrem.
Islandia sengaja memilih tanggal 17 Juni karena merupakan hari lahir Jón Sigurðsson, pahlawan pergerakan nasional mereka. Namun, pada hari pembacaan naskah deklarasi, hujan lebat mengguyur dan angin kencang melanda wilayah Þingvellir.
Meski diterjang cuaca buruk di area bekas patahan tektonik dan vulkanik tersebut, puluhan ribu warga Islandia tetap berkumpul di luar ruangan tanpa panggung megah untuk mendengarkan naskah keputusan pembentukan Republik Islandia.
India: Deklarasi yang Dibacakan Tepat Pada Tengah Malam
Naskah penyerahan kekuasaan dan kemerdekaan India dari Kerajaan Inggris disahkan pada 15 Agustus 1947. Keunikannya, penandatanganan dokumen dan pembacaan pidato kemerdekaan dilakukan tepat pada pukul 00.00 tengah malam.
Pemilihan waktu tengah malam ini bukan sekadar alasan formalitas politik, melainkan saran dari para ahli astrologi Hindu (Pundit). Menurut perhitungan astrologi saat itu, tanggal 15 Agustus siang dianggap kurang beruntung secara spiritual. Oleh karena itu, kompromi dibuat agar deklarasi disahkan tepat pada detik perantian hari dari tanggal 14 ke 15 Agustus 1947, sehingga Jawaharlal Nehru membacakan pidato terkenalnya “Tryst with Destiny” di hadapan Majelis Konstituante tepat saat lonceng tengah malam berbunyi.
Indonesia: Sempat Terbuang di Tempat Sampah
Naskah Proklamasi Indonesia yang kita kenal dibacakan oleh Ir. Soekarno pada 17 Agustus 1945. Keunikan utama naskah ini terletak pada tahun yang tertulis: “tahun ’05”. Angka ini merujuk pada tahun Jepang (Sumera 2605) yang berlaku saat pendudukan militer Jepang di Indonesia.
Kisah dramatisnya terjadi pada naskah klise (tulisan tangan asli Soekarno). Setelah diketik ulang oleh Sayuti Melik dengan beberapa perubahan kata, kertas draf asli tulisan tangan Soekarno diremas dan dibuang ke tempat sampah. B.M. Diah, seorang wartawan yang hadir di rumah Laksamana Maeda, menyelamatkan kertas bersejarah tersebut karena merasa dokumen itu sangat berharga. Dokumen itu ia simpan selama 46 tahun sebelum akhirnya diserahkan resmi kepada Pemerintah Republik Indonesia pada tahun 1992.(*)
BACA JUGA: 8 Istana Kepresidenan yang Boleh Dikunjungi






