DesportareVeritas

[JERNIH PIALA DUNIA 2026] Terlalu Andalkan Ronaldo, Portugal Ditahan Kongo

Kongo sukses membaca alur permainan Portugal yang tidak kreatif. Mengandalkan pada sosok legenda sudah pasti mudah dilawan. Ini keberhasilan Kongo.

WWW.JERNIH.CO –  Di NRG Stadium, Houston, tim bertabur bintang Portugal dipaksa bermain imbang 1-1 oleh perwakilan Afrika, Republik Demokratik Kongo (RD Kongo).

Gol cepat dari gelandang muda João Neves pada menit ke-6 sempat menumbuhkan ekspektasi bahwa Seleção das Quinas akan menang mudah. Namun, kelengahan di akhir babak pertama membuat Yoane Wissa menyamakan kedudukan pada menit ke-45+5, yang menjadi skor akhir pertandingan.

Secara statistik, Portugal tampil sangat dominan dengan penguasaan bola mencapai lebih dari 68%. Kendati demikian, dominasi ini terasa semu karena aliran bola yang monoton gagal membongkar pertahanan berlapis Kongo.

Kegagalan meraih poin penuh ini memicu kritik tajam terhadap taktik yang diterapkan oleh pelatih Roberto Martínez.

Setidaknya lima aspek krusial yang menjadi titik lemah penampilan anak asuh Roberto Martínez:

Dimulai dari minimnya kreativitas lini depan. Setelah unggul cepat, kreativitas serangan Portugal mendadak buntu. Alur bola dari lini tengah ke depan sangat lambat, membuat pemain sekreatif Bernardo Silva kesulitan mengalirkan umpan-umpan kunci ke dalam kotak penalti.

Lalu ketergantungan dan masalah mobilitas sang bintang, Cristiano Ronaldo. Sebagai ujung tombak, Cristiano Ronaldo tampak terisolasi di lini depan. Ia jarang melakukan pergerakan menjemput bola ataupun membuka ruang, melainkan lebih banyak menunggu suplai matang yang pada akhirnya tak kunjung datang dari rekan-rekannya.

Ditambah buruknya penyelesaian akhir. Statistik mencatat sebuah fakta ironis, gol sundulan João Neves di menit ke-6 adalah satu-satunya tembakan tepat sasaran (shot on target) yang berhasil dicatatkan Portugal sepanjang 90 menit penuh.

Juga kelengan antisipasi set piece. Portugal dihukum oleh kurangnya konsentrasi dalam bertahan sesaat sebelum turun minum. Kegagalan mengawal pergerakan lawan dalam situasi sepak pojok pendek membiarkan Yoane Wissa berdiri bebas menyundul bola ke gawang Diogo Costa.

Terakhir, ketika asyik menyerang pada babak kedua, koordinasi lini belakang Portugal sering kali kelimpangan saat menghadapi serangan balik cepat dari Kongo. Bahkan, gawang mereka nyaris bobol andai tendangan Cédric Bakambu tidak membentur tiang gawang.

Sementara keberhasilan skuad asuhan Sébastien Desabre mencuri satu poin bersejarah ini bukanlah faktor keberuntungan semata, melainkan buah dari kedisiplinan taktik tingkat tinggi.

Kongo sengaja menumpuk pemain di area pertahanan mereka sendiri dengan formasi lima bek. Mereka menutup setiap celah di koridor tengah, memaksa Portugal memutar bola tanpa arah di area yang tidak berbahaya.

Kongo tidak melulu bertahan pasif. Setiap kali berhasil merebut bola dari kaki pemain Portugal, mereka langsung memindahkan bola dengan cepat ke sayap memanfaatkan kecepatan para penyerangnya untuk mengeksploitasi ruang kosong yang ditinggalkan bek sayap Portugal.

“Kami mengawali laga dengan sangat baik lewat gol cepat, namun kami kehilangan urgensi dan intensitas untuk mencetak gol kedua setelah itu. Kami menguasai penuh jalannya pertandingan, tetapi dalam sepak bola turnamen, Anda akan dihukum jika gagal memanfaatkan dominasi itu menjadi peluang bersih,” jelas Martinez.(*)

BACA JUGA: [JERNIH PIALA DUNIA 2026] Luca Zidane dan Cerita Pilihan Masa Depan

Check Also
Close
Back to top button